Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gelang Benang Tridatu; Dulu untuk Ritual, Kini Menjadi Tren Fashion

Ali Sodiqin • Senin, 15 November 2021 | 19:00 WIB
gelang-benang-tridatu-dulu-untuk-ritual-kini-menjadi-tren-fashion
gelang-benang-tridatu-dulu-untuk-ritual-kini-menjadi-tren-fashion


MASYARAKAT Hindu memiliki banyak simbol dalam kehidupan. Salah satunya, menggunakan gelang benang tridatu. Namun pada perkembangan selanjutnya, gelang benang berwarna merah, hitam, dan putih ini kini justru jadi tren fashion kaum muda.



Tak hanya masyarakat Hindu Bali yang mengenakan gelang benang tridatu. Kini, masyarakat lintas agama juga ”nyaman” mengenakan gelang tersebut sebagai tren fashion.



Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi Suminto mengatakan, gelang benang tridatu secara etimologi berasal dari dua kata, yakni kata tri yang berarti tiga, dan datu yang berarti kekuatan. Sehingga tridatu artinya tiga kekuatan. Tiga kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan dari tiga dewa utama dalam agama hindu. ”Yakni Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa,” ujarnya



Tridatu yang yang memiliki tiga warna yakni merah, putih, dan hitam ini menjadi lambang tiga kekuatan. Yakni Dewa Brahma dengan aksara suci Ang, memiliki urip sembilan dengan sakti Dewi Saraswati yang disimbolkan dengan warna merah.



Sedangkan, Dewa Wisnu dengan aksara suci Ung, memiliki urip empat dengan sakti Dewi Sri, menggunakan simbol warna hitam. Selanjutnya, Dewa Siwa dengan aksara suci Mang, memiliki urip delapan dengan sakti Dewi Durga, disimbolkan warna putih.



”Ketiga aksara ini yaitu Ang, Ung, dan Mang bila disatukan menjadi aksara AUM yang jika diucapkan menjadi OM. Aksara pranawa OM merupakan aksara suci umat Hindu, serta memiliki nilai magis sebagai simbol dari Ida Sanghyang Widi Wasa,” ungkap Suminto.



Sehingga pada hakikatnya, dikatakan Suminto, benang tridatu merupakan salah satu aktualisasi diri dalam konteks Trimurti. Yaitu, tiga kekuatan Sanghyang Widi Wasa dalam menciptakan, memelihara, dan mengembalikan alam beserta isinya pada asalnya.



Salah satu sastra yang membahas tentang penggunaan benang tridatu dalam ritual keagamaan Hindu adalah Lontar Agastya Parwa. Suminto mengatakan, benang tridatu untuk umat Hindu digunakan sebagai sarana perlindungan dari kekuatan negatif. Sehingga, manusia bisa terhindar dari hal negatif dan bisa berpikir lebih bijaksana.



Jika dilihat dari sejarah penggunaan gelang tridatu, sebelum menjadi tren seperti saat ini, hampir semua kegiatan keagamaan dalam pelaksanaannya menggunakan gelang tridatu. Mulai dari upacara hingga pemujaan.



Suminto mengatakan, tidak masalah jika umat non-Hindu menggunakan gelang tridatu. ”Tidak ada larangan bagi umat agama lain selama penggunaanya pada tempat yang tepat,” ungkapnya.



Adapun maksud tempat yang tepat adalah digunakan untuk gelang tangan dan kalung, bukan pada kaki. Karena, jika digunakan pada kaki tanpa adanya tujuan dan ritual yang jelas, maka penggunaan tersebut dianggap sebagai pelecehan. ”Kalau digunakan pada kaki itu pelecehan. Menggunakan simbol Trimurti bukan pada tempatnya,” pungkasnya. (mg2)


Editor : Ali Sodiqin
#gelang tridatu