Makin Banyak Bibit Parfum Belum Tentu Makin Wangi, Ini Penjelasannya

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 12:40 WIB
Proses peracikan parfum menggunakan pipet untuk mengukur cairan pewangi. Kadar bibit yang lebih tinggi tidak selalu menghasilkan aroma yang lebih baik. (Unsplash/Fulvio Ciccolo)
Proses peracikan parfum menggunakan pipet untuk mengukur cairan pewangi. Kadar bibit yang lebih tinggi tidak selalu menghasilkan aroma yang lebih baik. (Unsplash/Fulvio Ciccolo)

RADAR BANYUWANGI - Banyak orang menganggap parfum dengan kadar bibit tinggi memiliki aroma lebih kuat dan tahan lama. Anggapan itu membuat sebagian pembeli parfum racik memilih campuran yang lebih pekat. Padahal, banyaknya bibit belum tentu menentukan kualitas wewangian.

Konsentrasi yang tinggi memang dapat memengaruhi intensitas dan ketahanan aroma. Namun, tanpa formulasi yang tepat, penambahan bibit justru berpotensi mengubah karakter parfum, membuat wanginya terlalu berat, atau kurang nyaman saat digunakan.

Direktur Kreatif Hermès Parfums, Christine Nagel, menegaskan bahwa kualitas wewangian tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan aromanya.

"Kualitas sebuah wewangian tidak dapat dinilai dari kekuatan aromanya," ujar Nagel dalam wawancara dengan Vogue, 15 April 2025.

Menurut Nagel, menciptakan parfum yang lebih intens bukan sekadar menambahkan bahan pewangi berkonsentrasi tinggi. Hal terpenting adalah mempertahankan karakter dan keseimbangan aroma.

Mengapa Bibit Terlalu Banyak Belum Tentu Lebih Baik?

Dalam pembuatan parfum, bibit merupakan istilah yang lazim digunakan untuk menyebut konsentrat pewangi. Bahan ini kemudian dicampurkan dengan pelarut yang sesuai untuk menghasilkan produk akhir.

Setiap konsentrat memiliki karakter berbeda. Ada aroma yang cepat tercium setelah disemprotkan, ada pula yang berkembang perlahan dan bertahan lebih lama.

Perkembangan tersebut dikenal melalui tiga lapisan aroma, yakni top notes, heart notes, dan base notes.

Top notes memberikan kesan pertama, heart notes membentuk karakter utama, sedangkan base notes berperan dalam menghadirkan kedalaman aroma.

Keseimbangan ketiganya menjadi bagian penting dalam formulasi. Karena itu, menambahkan bibit tanpa mempertimbangkan komposisi dapat mengubah hasil akhir parfum.

Campuran yang kurang tepat juga berpotensi meninggalkan noda pada pakaian. American Cleaning Institute bahkan memasukkan parfum dalam panduan penanganan noda kain. Meski demikian, noda tidak selalu disebabkan kadar bibit yang tinggi karena jenis bahan dan kain turut berpengaruh.

Konsentrasi Parfum Bukan Ukuran Mutlak Kualitas

International Fragrance Association (IFRA) menjelaskan bahwa setiap kategori parfum memiliki kisaran konsentrasi bahan pewangi yang umum digunakan.

Eau de Cologne biasanya mengandung konsentrat sekitar 3–8 persen. Eau de Toilette berkisar 5–15 persen, sedangkan Eau de Parfum sekitar 10–20 persen.

Sementara itu, Extrait de Parfum memiliki konsentrasi sekitar 15–40 persen.

Namun, IFRA menegaskan bahwa pembagian tersebut merupakan praktik umum industri, bukan standar internasional yang mengikat.

Artinya, dua parfum berlabel Eau de Parfum belum tentu mengandung persentase konsentrat yang sama.

Konsentrasi juga tidak otomatis menentukan seberapa jauh aroma menyebar. Dalam dunia wewangian, ketahanan aroma dikenal sebagai longevity, sedangkan kemampuan aroma menyebar disebut projection.

Parfum dapat bertahan lama di kulit tanpa menghasilkan aroma yang menyengat ke sekelilingnya. Sebaliknya, parfum yang terasa kuat pada awal penyemprotan belum tentu memiliki ketahanan paling panjang.

BRIN Kembangkan Parfum dari Bahan Nusantara

Pentingnya formulasi juga terlihat dalam pengembangan parfum berbahan alami Indonesia.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan inovasi wewangian berbasis minyak atsiri Nusantara dalam ajang Indonesia Cosmetic Ingredients 2026.

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Aswandi, menjelaskan bahwa pihaknya mengembangkan parfum dengan memanfaatkan karakter aroma khas Indonesia.

"Kami menciptakan formulasi yang mencerminkan aroma khas Nusantara, seperti kemenyan dan kapur barus (kamper)," ungkap Aswandi dalam publikasi resmi BRIN, 8 Mei 2026.

Dalam pemberitaan ANTARA pada 31 Juli 2026, Aswandi juga menjelaskan penggunaan minyak kemenyan sebagai base note yang dipadukan dengan nilam, kenanga, melati, dan ekstrak jeruk.

Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa karakter parfum dapat dibangun melalui pemilihan dan penggabungan bahan, bukan sekadar memperbanyak konsentrat.

Tips Memilih Parfum Racik agar Tidak Salah Beli

Bagi konsumen, langkah pertama adalah tidak langsung tergiur tawaran bibit dengan perbandingan tinggi, seperti dua banding satu atau tiga banding satu.

Rasio tersebut bukan jaminan parfum akan lebih harum. Komposisi perlu disesuaikan dengan karakter konsentrat, pelarut, dan batas aman penggunaan bahan.

Sebelum membeli, cobalah parfum pada kertas penguji. Amati perubahan aromanya setelah beberapa menit. Jika memungkinkan, uji juga pada kulit sesuai petunjuk penggunaan produk.

Hindari menyemprotkan parfum langsung pada kain sensitif karena sejumlah bahan dapat meninggalkan bercak.

Selain aroma, keamanan produk perlu diperhatikan. Kepala BPOM saat itu, Taruna Ikrar, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada nomor izin edar yang tercantum pada kemasan kosmetik.

"Pastikan bisa di-scan, lihat nomornya," tegas Taruna dalam publikasi resmi BPOM pada November 2024.

Konsumen dapat memeriksa legalitas kosmetik melalui situs Cek BPOM serta menerapkan prinsip CekKLIK, yakni memeriksa kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa.

Parfum berkualitas tidak selalu memiliki kadar bibit paling tinggi. Keseimbangan formula, kualitas bahan, keamanan, dan kenyamanan aroma justru menjadi pertimbangan utama.

Jadi, sebelum meminta tambahan bibit saat membeli parfum racik, pastikan komposisinya memang sesuai. Sebab, wangi yang enak tidak selalu berasal dari campuran paling pekat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
parfum tahan lama bibit parfum parfum racik konsentrasi parfum tips memilih parfum