Parfum Cepat Hilang? Ternyata Bukan Cuma soal EDT atau EDP

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 13:35 WIB
Ketahanan aroma parfum tidak hanya ditentukan label EDT atau EDP. Konsentrasi, formulasi, kondisi kulit, dan suhu ikut memengaruhi seberapa cepat molekul aroma menguap setelah parfum disemprotkan. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Ketahanan aroma parfum tidak hanya ditentukan label EDT atau EDP. Konsentrasi, formulasi, kondisi kulit, dan suhu ikut memengaruhi seberapa cepat molekul aroma menguap setelah parfum disemprotkan. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Parfum yang baru disemprot pagi hari terkadang sudah nyaris tak tercium menjelang makan siang. Namun, parfum yang sama bisa bertahan lebih lama ketika digunakan orang lain.

Banyak orang menganggap perbedaannya hanya ditentukan jenis parfum. Eau de Parfum (EDP), misalnya, sering dianggap pasti lebih awet daripada Eau de Toilette (EDT).

Faktanya, konsentrasi minyak wangi memang berpengaruh. Namun, itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan ketahanan aroma di kulit.

International Fragrance Association (IFRA) menjelaskan, istilah Eau de Cologne, EDT, EDP, hingga extrait tidak memiliki batas konsentrasi yang ditetapkan secara universal.

Kisaran yang lazim digunakan industri adalah Eau de Cologne sekitar 3–8 persen, EDT 5–15 persen, EDP 10–20 persen, serta extrait atau perfume extract sekitar 15–40 persen.

Angka tersebut merupakan kisaran umum. Artinya, konsentrasi EDT dari satu produsen bisa saja mendekati EDP dari merek lainnya.

EDP Tak Selalu Lebih Tahan Lama

Konsentrasi yang lebih tinggi tidak otomatis membuat sebuah parfum bertahan paling lama.

Kreator parfum sekaligus mantan direktur kreatif Guerlain, Sylvaine Delacourte, menjelaskan bahwa ketahanan parfum juga ditentukan cara perfumer menyusun formulanya.

EDT dan EDP dengan nama parfum yang sama bahkan belum tentu dibuat dari formula identik yang hanya dibedakan jumlah alkoholnya. Komposisi bahan aromanya dapat diubah untuk menghasilkan karakter berbeda.

Karena itu, parfum berlabel EDP belum tentu selalu mengalahkan EDT dalam urusan ketahanan.

Dalam dunia parfum dikenal pula istilah longevity dan sillage. Longevity menggambarkan berapa lama aroma masih tercium setelah digunakan. Sementara itu, sillage mengacu pada jejak atau penyebaran aroma di sekitar pemakainya.

Parfum dengan sillage kuat belum tentu memiliki longevity panjang. Begitu pula sebaliknya.

Kondisi Kulit Ikut Berpengaruh

Perbedaan performa parfum di setiap orang ternyata juga memiliki penjelasan ilmiah.

Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Cosmetic Science pada 2025 meneliti hubungan kondisi kulit dengan penguapan molekul wewangian.

Peneliti mengukur sejumlah parameter, seperti hidrasi kulit, suhu, pH, kehilangan air melalui kulit atau transepidermal water loss (TEWL), kadar lipid, hingga tingkat kekasaran permukaan kulit.

Hasilnya menunjukkan hidrasi menjadi salah satu parameter yang memiliki kontribusi besar terhadap pola penguapan molekul fragrance.

Kulit dengan tingkat hidrasi lebih baik cenderung berkaitan dengan penguapan fragrance yang lebih rendah. Sementara itu, kondisi kulit yang lebih kering dapat membuat sejumlah molekul aroma lebih cepat menguap.

Meski demikian, penelitian tersebut hanya melibatkan 10 relawan. Peneliti menyatakan hasilnya masih perlu diuji pada populasi yang lebih besar.

Temuan itu setidaknya menunjukkan bahwa jenis parfum bukan satu-satunya alasan mengapa sebuah aroma dapat bertahan berbeda pada setiap orang.

Suhu Juga Menentukan

Sifat kimia bahan parfum turut menentukan kecepatannya menguap.

Molekul yang lebih volatil cenderung cepat berpindah ke udara. Inilah salah satu alasan aroma pembuka atau top notes biasanya paling cepat tercium sekaligus lebih cepat menghilang.

Sebaliknya, sejumlah material yang kurang volatil dapat terasa lebih lama pada fase dry down.

Suhu juga memengaruhi proses tersebut. Temperatur yang lebih tinggi dapat meningkatkan penguapan molekul aroma.

Karena itu, parfum bisa menunjukkan performa berbeda ketika digunakan di ruangan berpendingin udara dan saat beraktivitas di luar ruangan dalam cuaca panas.

Bagaimana Standar di Indonesia?

Indonesia memiliki SNI 16-4949-1998 tentang sediaan Eau de Cologne, Eau de Toilette, dan Eau de Parfum. Berdasarkan basis data Badan Standardisasi Nasional (BSN), standar tersebut masih berstatus berlaku.

Penelitian Indra Gunawan dan Pudji Rahayu dari Poltekkes Tanjungkarang yang dipublikasikan pada 2021 juga pernah menguji formula EDT dengan kadar bahan pewangi 6 hingga 10 persen.

Seluruh formula yang diuji dilaporkan masih dapat tercium pada pengujian jam keempat.

Namun, hasil tersebut tidak berarti semua EDT pasti bertahan selama empat jam. Penelitian itu menggunakan formula tertentu dan pengujiannya dilakukan pada paper test.

Artinya, ketahanan parfum tetap harus dilihat berdasarkan formula dan kondisi penggunaan masing-masing.

Agar Parfum Lebih Optimal

Bagi pemilik kulit kering, menggunakan pelembap tanpa pewangi sebelum menyemprotkan parfum dapat dicoba. Kulit yang terhidrasi lebih baik berpotensi memperlambat penguapan sejumlah molekul aroma.

Namun, penggunaan pelembap juga bukan jaminan parfum akan bertahan dalam jumlah jam tertentu.

Cara yang lebih aman untuk mengetahui performa parfum adalah mencobanya langsung pada kulit. Jangan hanya mengandalkan kertas tester ataupun label EDT dan EDP.

Amati aromanya beberapa jam setelah penyemprotan. Perhatikan pula bagaimana parfum berubah sejak top notes, middle notes, hingga base notes.

Tulisan EDT, EDP, atau extrait memang memberi gambaran tentang konsentrasi sebuah parfum. Namun, label tersebut bukan garansi ketahanan aroma.

Formula, karakter molekul, kondisi kulit, suhu, dan cara pemakaian sama-sama menentukan.

Jadi, jangan heran jika suatu EDT justru bertahan lebih lama di kulit dibandingkan EDP yang harganya lebih mahal. Bisa jadi, formula parfum tersebut memang lebih cocok dengan kulit penggunanya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
parfum tahan lama perbedaan EDT dan EDP eau de parfum eau de toilette tips parfum tahan lama