Lari Kian Digemari di Banyuwangi, Ini Manfaat Joging dan Tempat untuk Memulai

Balquisse Kayla Putri • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 12:00 WIB
Sejumlah warga berolahraga lari pada pagi hari di Banyuwangi. Joging menjadi salah satu pilihan aktivitas fisik yang mudah dilakukan, termasuk bagi pemula yang ingin mulai menjalani gaya hidup lebih aktif. (ChatGPT)
Sejumlah warga berolahraga lari pada pagi hari di Banyuwangi. Joging menjadi salah satu pilihan aktivitas fisik yang mudah dilakukan, termasuk bagi pemula yang ingin mulai menjalani gaya hidup lebih aktif. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI – Olahraga lari kian mendapat tempat di kalangan masyarakat Banyuwangi. Pagi hari, warga mudah dijumpai berjalan kaki, joging, hingga berlatih bersama komunitas. Geliat itu juga terlihat dari sederet ajang lari yang digelar sepanjang 2026.

Salah satu yang terbaru ialah Soekarno Run BWX pada Minggu (20/9). Berdasarkan laporan detikJatim, kegiatan tersebut diikuti sekitar 3.700 peserta. Rinciannya, sekitar 3.200 peserta mengikuti kategori lari dan 500 orang mengikuti jalan santai.

Beberapa bulan sebelumnya, sekitar seribu orang mengikuti Bapenda Run atau BapeRun pada 26 Juli 2026. Sementara itu, GenRun yang digagas komunitas Genteng Running pada Januari 2026 menarik 1.400 peserta. Mereka datang tidak hanya dari Banyuwangi, tetapi juga Surabaya, Jember, Situbondo, dan Bondowoso.

Sekretaris Daerah Banyuwangi Guntur Priambodo menilai keterlibatan komunitas lokal menjadi salah satu kekuatan perkembangan olahraga lari di daerah tersebut.

“Acara ini sangat menarik karena digagas para pencinta olahraga dari komunitas lari lokal,” kata Guntur saat pelaksanaan GenRun pada Januari 2026.

Genteng Running saat itu disebut baru berusia sekitar satu tahun. Namun, komunitas tersebut telah rutin menggelar latihan bersama dan mampu menarik ribuan peserta melalui sebuah ajang lari.

Deretan kegiatan itu memang belum dapat dijadikan statistik resmi mengenai pertumbuhan jumlah pelari di Banyuwangi. Namun, tingginya jumlah peserta, munculnya komunitas, serta rutinnya penyelenggaraan ajang lari menunjukkan olahraga tersebut memiliki basis peminat yang cukup besar.

Lari Jadi Aktivitas Bersama

Lari tidak lagi sekadar olahraga perorangan. Aktivitas tersebut juga berkembang menjadi sarana berkumpul dan membangun komunitas.

Gambaran itu terlihat pada ValenTimes Night Run yang digelar 14 Februari 2026. Sebanyak 828 pelari dari Banyuwangi, Bali, hingga Jember ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Peserta menempuh rute sejauh 5 kilometer dari kawasan Pantai Boom. Mereka kemudian melintasi sejumlah ikon kota, antara lain Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Taman Sritanjung, Masjid Agung Baiturrahman, dan Taman Blambangan.

Adit, 23, salah seorang pelari lokal yang mengikuti kegiatan itu, mengaku menikmati suasana sepanjang rute.

“Suasananya sangat meriah. Semua peserta bersemangat dan saling memberikan dukungan,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani juga melihat kegiatan lari sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat lebih aktif bergerak.

“Acara ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” ujar Ipuk saat melepas peserta BapeRun pada Juli 2026.

Meski demikian, seseorang tidak harus mengikuti perlombaan untuk memperoleh manfaat dari olahraga lari. Joging ringan dengan intensitas yang sesuai kemampuan sudah dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas fisik.

Tak Harus Joging Setiap Hari

Joging termasuk aktivitas aerobik. Jika dilakukan secara teratur, aktivitas fisik jenis ini bermanfaat bagi kesehatan jantung, kebugaran tubuh, hingga kesehatan mental.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut aktivitas fisik teratur dapat membantu mencegah dan mengendalikan penyakit jantung serta diabetes tipe 2. Aktivitas fisik juga berperan dalam mengurangi gejala kecemasan dan depresi serta mendukung fungsi kognitif dan kualitas hidup.

WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per pekan. Alternatifnya, aktivitas aerobik intensitas tinggi selama 75–150 menit per pekan atau kombinasi keduanya.

Latihan penguatan otot juga dianjurkan sedikitnya dua hari dalam sepekan.

Artinya, seseorang tidak harus joging setiap pagi untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Frekuensi, durasi, dan intensitas latihan perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh serta tingkat kebugaran masing-masing.

Kebutuhan meningkatkan aktivitas fisik juga masih menjadi tantangan di Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang dikutip Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan menunjukkan 37,4 persen penduduk berusia lebih dari 10 tahun masih kurang melakukan aktivitas fisik.

Kurangnya waktu dan rasa malas menjadi dua alasan yang banyak disebut.

Pemula Jangan Buru-Buru Kejar Jarak

Keinginan berlari lebih cepat atau lebih jauh sering muncul ketika seseorang baru mulai berolahraga. Namun, peningkatan beban latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap.

Kementerian Kesehatan melalui laman Ayo Sehat menyarankan pemula menggunakan metode kombinasi jalan kaki dan lari. Cara itu memberi kesempatan kepada tubuh untuk beradaptasi sebelum menerima beban yang lebih tinggi.

Pemula dapat memulai latihan selama sekitar 20–30 menit dalam satu sesi dengan frekuensi dua hingga empat kali sepekan. Durasi kemudian dapat ditambah secara bertahap setelah tubuh mulai terbiasa.

Pemanasan, pemenuhan kebutuhan cairan, dan pendinginan setelah berolahraga juga perlu diperhatikan.

Pelatih ilmu keolahragaan Matias Ibo mengingatkan pelari agar tidak hanya berfokus pada latihan lari. Latihan kekuatan juga dibutuhkan untuk menunjang kemampuan tubuh.

“Jangan hanya berfokus pada lari. Latihan kekuatan juga wajib dilakukan,” kata Matias seperti diberitakan ANTARA pada April 2026.

Latihan kekuatan membantu memperkuat otot yang digunakan ketika berlari. Latihan tersebut juga dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko cedera akibat penggunaan otot dan sendi secara berlebihan.

Bagi orang yang baru mulai berolahraga, terutama yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, intensitas latihan sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan tubuh.

GOR Tawangalun Ramai sejak Pagi

Warga Banyuwangi yang ingin berlatih tanpa mengikuti perlombaan memiliki sejumlah pilihan lokasi. Salah satunya GOR Tawangalun.

Radar Banyuwangi pada Juli 2026 melaporkan lintasan di kawasan tersebut rutin digunakan masyarakat umum, pelajar, atlet, hingga anggota klub lari untuk joging dan latihan fisik.

Aktivitas biasanya mulai ramai sekitar pukul 06.00.

Shafa, salah seorang anggota klub lari di Banyuwangi, menyebut pagi hari menjadi waktu yang nyaman untuk berlatih.

“Kalau pagi sekitar pukul enam, udaranya masih segar dan suasananya belum terlalu ramai. Jadi, lebih nyaman untuk latihan,” ujarnya.

Lintasan di kawasan GOR Tawangalun dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis latihan, mulai joging ringan hingga latihan interval dan daya tahan.

Bagi pemula, lintasan yang jelas juga membantu mengatur durasi serta jarak latihan tanpa harus langsung berlari di jalan raya.

Minggu Pagi Bisa Mencoba CFD

Pilihan lain tersedia di kawasan Jalan A. Yani saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD).

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali mengaktifkan CFD di kawasan tersebut sejak 13 Juli 2025 setelah sempat vakum selama lima tahun.

Dalam ketentuan saat peluncuran kembali, ruas Jalan A. Yani ditutup bagi kendaraan bermotor setiap Minggu pukul 05.00–10.00 WIB. Pengecualian diberikan untuk kendaraan darurat.

Jalan tersebut kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk berjalan kaki, joging, senam, bersepeda, dan beragam aktivitas komunitas.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi Dwi Yanto, saat itu mengajak warga memanfaatkan ruang publik itu untuk berolahraga.

“Silakan manfaatkan Jalan A. Yani selama CFD untuk senam, berjalan kaki, atau beraktivitas bersama komunitas,” kata Dwi.

Pada pekan kedua pelaksanaan CFD pada Juli 2025, Pemkab Banyuwangi mencatat ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan sepanjang sekitar tiga kilometer tersebut. Komunitas lari termasuk kelompok yang turut memanfaatkan area itu.

Bagi pelari, salah satu keunggulan CFD adalah tersedianya ruang jalan yang sementara bebas dari lalu lintas kendaraan umum. Namun, pelari tetap perlu memperhatikan pengguna lain karena kawasan yang sama juga digunakan pejalan kaki, pesepeda, anak-anak, dan berbagai komunitas.

Taman Blambangan dan Sritanjung Jadi Pilihan

Kawasan pusat Kota Banyuwangi juga kerap menjadi bagian dari rute kegiatan lari.

Pada ValenTimes Night Run 2026, misalnya, peserta melintasi Taman Sritanjung dan Taman Blambangan sebelum kembali menuju kawasan Pantai Boom.

Dua taman tersebut berada di pusat kota dan menjadi ruang publik yang mudah dijangkau masyarakat.

Untuk latihan sehari-hari, pelari tetap perlu memperhatikan kondisi akses, aktivitas lain yang sedang berlangsung, dan lalu lintas di sekitar taman. Berbeda dengan lintasan olahraga atau kawasan CFD, jalan umum di sekitar taman tidak selalu bebas dari kendaraan.

Tak Perlu Mengejar Kecepatan Orang Lain

Banyaknya ajang dan komunitas lari dapat menjadi pemicu untuk mulai berolahraga. Namun, pemula tidak perlu terburu-buru mengikuti jarak maupun kecepatan pelari yang sudah lama berlatih.

Target awal bisa dibuat sederhana. Misalnya, berjalan cepat selama beberapa menit, dilanjutkan joging ringan, kemudian kembali berjalan. Setelah tubuh terbiasa, durasi latihan dapat ditambah secara bertahap.

Pemanasan, kecukupan cairan, tidur yang cukup, latihan kekuatan, dan waktu pemulihan juga menjadi bagian penting dalam olahraga.

Latihan sebaiknya dihentikan apabila muncul nyeri yang menetap, pusing, nyeri dada, sesak napas yang tidak biasa, atau keluhan lain saat berolahraga. Jika keluhan berlanjut, pemeriksaan ke tenaga kesehatan diperlukan.

Ramainya berbagai ajang sepanjang 2026 menunjukkan olahraga lari semakin terlihat dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi. Aktivitas tersebut hadir dalam bentuk latihan perseorangan, komunitas, hingga perlombaan dengan ribuan peserta.

Bagi warga yang baru ingin mencoba, tidak perlu langsung menargetkan lomba 5K atau jarak yang lebih jauh. Memulai dari 20–30 menit dengan intensitas ringan dan dilakukan secara konsisten sudah dapat menjadi langkah awal menuju gaya hidup yang lebih aktif.

Editor : Lugas Rumpakaadi
joging Banyuwangi olahraga lari Banyuwangi tempat jogging Banyuwangi komunitas lari Banyuwangi manfaat jogging