Ketika Mindfulness Bertemu Privilege, Mengapa Konten Maudy Ayunda Diperdebatkan?

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 14:14 WIB
Maudy Ayunda menjadi perhatian setelah kontennya mengenai mindfulness di tengah derasnya berita buruk memicu perdebatan tentang kesehatan mental dan privilege. (Instagram/maudyayunda)
Maudy Ayunda menjadi perhatian setelah kontennya mengenai mindfulness di tengah derasnya berita buruk memicu perdebatan tentang kesehatan mental dan privilege. (Instagram/maudyayunda)

RADAR BANYUWANGI - Maudy Ayunda kembali menjadi perhatian setelah video lamanya tentang mindfulness di tengah derasnya berita buruk ramai diperbincangkan di media sosial. Konten tersebut memicu kritik dari sebagian pengguna media sosial yang menilai pembahasannya kurang mempertimbangkan pengalaman orang-orang yang tidak memiliki kemewahan untuk mengambil jarak dari persoalan yang sedang terjadi.

Perdebatan itu kemudian berkembang menjadi pembicaraan mengenai privilege. Bukan lagi sekadar soal apakah seseorang perlu menjaga kesehatan mental, tetapi juga tentang siapa yang memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dari berita buruk dan siapa yang harus menghadapinya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Maudy kemudian memberikan klarifikasi dan mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh dari pemberitaan memang dapat menjadi sebuah privilege.

Video Maudy yang Kembali Menjadi Perhatian

Video yang menjadi perbincangan berjudul Mindfulness in the Age of Bad News. Konten tersebut membahas cara menghadapi derasnya informasi negatif tanpa membiarkan seluruh pemberitaan menguasai kondisi emosional seseorang.

Pembahasan itu sebenarnya sejalan dengan sejumlah konten Maudy sebelumnya mengenai kesehatan mental dan self-care. Pada Juli 2026, misalnya, ia juga membicarakan mindfulness melalui rutinitas perawatan diri sebagai cara untuk kembali hadir pada momen yang sedang dijalani ketika pikiran dipenuhi kecemasan tentang masa depan atau penyesalan terhadap masa lalu.

Dalam video tentang bad news, gagasan yang dibawa Maudy adalah bagaimana seseorang dapat tetap mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya tanpa terus-menerus tenggelam dalam informasi negatif.

Persoalannya muncul ketika pesan tersebut dibaca dalam konteks kondisi sosial yang lebih luas.

Bagi sebagian orang, berita mengenai bencana, persoalan ekonomi, kebijakan pemerintah, lingkungan, pekerjaan, atau kondisi sosial bukan sekadar informasi yang muncul di layar ponsel. Berita tersebut dapat berkaitan langsung dengan kehidupan mereka.

Di titik inilah respons terhadap video Maudy menjadi beragam.

Mengapa Sebagian Publik Menganggapnya Kurang Sensitif?

Sebagian pengguna media sosial mengkritik cara persoalan tersebut dibingkai. Istilah tone deaf kemudian muncul dalam percakapan untuk menggambarkan pesan yang dianggap tidak cukup memperhitungkan pengalaman kelompok lain.

Namun, kritik tersebut tidak berarti seluruh publik memiliki pandangan yang sama.

Di media sosial juga terdapat pengguna yang menilai pesan Maudy tidak bermaksud mengajak masyarakat bersikap apatis. Mereka melihat mindfulness sebagai salah satu cara agar seseorang tidak mengalami kelelahan emosional akibat paparan berita negatif secara terus-menerus.

Perbedaan respons tersebut justru memperlihatkan persoalan utama dalam kontroversi ini.

Sebuah pesan mengenai kesehatan mental dapat diterima secara berbeda ketika audiensnya memiliki kondisi kehidupan yang sangat beragam.

Bagi seseorang yang relatif aman dari dampak langsung sebuah peristiwa, mengambil jeda dari pemberitaan mungkin merupakan pilihan yang realistis. Namun, bagi orang yang kehilangan pekerjaan, menghadapi bencana, mengalami persoalan kesehatan, atau berhadapan langsung dengan dampak kebijakan tertentu, berita tersebut mungkin tidak bisa begitu saja ditutup.

Karena itu, perdebatan yang muncul bukan semata-mata tentang benar atau salahnya mindfulness.

Persoalannya adalah konteks.

Ketika Privilege Masuk ke Dalam Pembicaraan

Istilah privilege menjadi salah satu kunci untuk memahami kritik terhadap konten tersebut.

Privilege dalam konteks ini tidak harus dimaknai hanya sebagai kekayaan. Ia juga dapat berupa adanya pilihan, keamanan, akses, waktu, dan kondisi yang memungkinkan seseorang mengambil jarak dari suatu persoalan.

Kemampuan untuk mengatakan, “Saya perlu berhenti membaca berita untuk sementara,” misalnya, dapat menjadi bentuk pilihan yang tidak selalu tersedia bagi setiap orang.

Seseorang yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari mungkin tidak memiliki ruang emosional yang sama dengan orang yang memiliki kondisi finansial lebih aman. Begitu pula seseorang yang terdampak langsung sebuah peristiwa tidak berada dalam posisi yang sama dengan orang yang hanya mengetahuinya melalui layar.

Karena itu, ketika mindfulness dibicarakan kepada masyarakat luas, pengalaman audiens menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan.

Maudy kemudian mengakui aspek tersebut dalam responsnya.

Ia menyampaikan bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari pemberitaan merupakan sebuah privilege. Pernyataan itu menjadi bagian penting dari klarifikasinya setelah video tersebut menuai kritik.

“Being able to step away from the news is itself a privilege.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Maudy menerima adanya perspektif yang sebelumnya belum cukup ia pertimbangkan dalam pembahasan.

Respons tersebut juga menggeser arah perdebatan. Persoalannya tidak lagi hanya apakah konten tersebut tepat atau tidak, melainkan bagaimana sebuah pesan kesehatan mental dapat disampaikan dengan tetap memperhitungkan kondisi sosial audiens.

Maudy Memberikan Klarifikasi

Setelah kritik berkembang, Maudy menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf.

Ia menjelaskan bahwa pembahasannya tidak dimaksudkan untuk mendorong masyarakat mengabaikan persoalan sosial. Inti pembicaraannya adalah bagaimana seseorang dapat tetap peduli terhadap keadaan sekitar tanpa membiarkan paparan informasi buruk membuat dirinya kehilangan kemampuan untuk berfungsi secara sehat.

Klarifikasi tersebut penting karena mindfulness sering kali disalahartikan sebagai ajakan untuk menerima keadaan begitu saja.

Padahal, dalam konteks yang dibicarakan Maudy, mindfulness lebih berkaitan dengan kemampuan menyadari kondisi diri dan mengelola perhatian.

Persoalan kemudian muncul ketika konsep tersebut dibawa ke ruang publik yang memiliki kondisi sosial sangat beragam.

Dengan mengakui adanya privilege, Maudy memberikan konteks tambahan yang sebelumnya dianggap kurang terlihat dalam video tersebut.

Mindfulness Tidak Harus Berarti Apatis

Perdebatan mengenai konten Maudy pada akhirnya mengarah pada pertanyaan yang lebih luas: apakah menjaga kesehatan mental berarti mengurangi kepedulian terhadap persoalan sosial?

Jawabannya tidak harus demikian.

Seseorang dapat mengambil jeda dari berita tanpa berhenti peduli. Begitu pula seseorang dapat menjaga kesehatan mental tanpa mengabaikan persoalan di sekitarnya.

Justru, kemampuan mengatur paparan informasi dapat membantu seseorang menentukan bentuk keterlibatan yang lebih sehat. Tidak semua persoalan harus direspons dengan konsumsi berita tanpa henti.

Namun, mengambil jeda juga berbeda dengan menutup mata.

Seseorang masih dapat mencari informasi dari sumber yang kredibel, membantu orang lain, terlibat dalam kegiatan sosial, menjadi relawan, berdonasi, atau menyuarakan persoalan yang dianggap penting.

Dengan demikian, mindfulness dan kepedulian sosial sebenarnya tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana keduanya dibicarakan tanpa mengabaikan kenyataan bahwa kemampuan setiap orang untuk mengambil jeda tidak sama.

Mengapa Konten Ini Menjadi Pelajaran bagi Figur Publik?

Polemik Maudy Ayunda memperlihatkan tantangan yang dihadapi figur publik ketika membicarakan isu kesehatan mental.

Pengalaman pribadi memang dapat menjadi titik awal yang baik untuk sebuah konten. Namun, ketika pengalaman tersebut dibagikan kepada jutaan orang, konteks audiens menjadi jauh lebih luas.

Pesan yang masuk akal dalam kehidupan seseorang belum tentu memiliki makna yang sama bagi orang lain.

Hal tersebut bukan berarti figur publik tidak boleh membicarakan kesehatan mental. Justru, pembicaraan semacam itu tetap penting. Hanya saja, semakin luas audiensnya, semakin besar pula kebutuhan untuk mengakui adanya perbedaan pengalaman.

Dalam kasus Maudy, kritik publik akhirnya menghasilkan ruang untuk melakukan refleksi. Ia tidak hanya mempertahankan pesan awal, tetapi juga mengakui adanya sudut pandang yang terlewat.

Di tengah perdebatan yang berlangsung di media sosial, sikap tersebut menjadi bagian penting yang patut dicatat.

Antara Menjaga Diri dan Tetap Peduli

Kontroversi ini pada akhirnya bukan hanya tentang Maudy Ayunda.

Ia membuka diskusi yang lebih luas mengenai bagaimana masyarakat menghadapi banjir informasi di era digital.

Setiap hari, publik dapat menerima berita mengenai bencana, politik, ekonomi, konflik, lingkungan, kriminalitas, hingga persoalan sosial hanya melalui layar ponsel. Paparan tersebut dapat membuat seseorang merasa lelah dan kewalahan.

Namun, tidak semua orang memiliki jarak yang sama dari berita tersebut.

Di situlah persoalan privilege menjadi relevan.

Menjaga kesehatan mental tetap penting. Tetapi, ketika membicarakannya kepada publik, penting pula untuk mengakui bahwa kemampuan untuk mengambil jeda merupakan sesuatu yang tidak selalu tersedia secara merata.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Maudy Ayunda Kontroversi Maudy Ayunda Mindfulness privilege kesehatan mental