Sedotan Stainless Mulai Dipilih, 93 Juta Sedotan Plastik Dipakai Setiap Hari

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 18:28 WIB
Sedotan stainless steel dapat digunakan berulang kali sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik sekali pakai. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Sedotan stainless steel dapat digunakan berulang kali sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik sekali pakai. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Membawa sedotan sendiri kini menjadi salah satu kebiasaan sederhana untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Sedotan stainless steel menjadi pilihan karena dapat digunakan berulang kali, mudah dibersihkan, dan lebih tahan lama dibandingkan sedotan plastik sekali pakai.

Pilihan tersebut menjadi relevan ketika melihat besarnya konsumsi sedotan plastik di Indonesia. Data Divers Clean Action yang dikutip dalam berbagai publikasi pemerintah dan media memperkirakan penggunaan sedotan sekali pakai mencapai sekitar 93 juta batang per hari. Data tersebut berasal dari estimasi penggunaan di restoran, minuman kemasan, dan sumber lainnya.

Angka itu menunjukkan bahwa benda yang ukurannya kecil dapat menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar ketika digunakan hanya sekali. Jika sedotan bekas tersebut tidak terkelola dengan baik, sebagian dapat berakhir di lingkungan dan perairan.

Bagi pengguna, alasan beralih ke sedotan stainless steel tidak selalu semata-mata soal lingkungan. Faktor kebersihan dan kemudahan penggunaan kembali juga menjadi pertimbangan.

“Aku tuh lebih suka pakai sedotan stainless. Selain menurutku lebih bersih karena aku yang nyuci sendiri, kalau sedotan plastik kan kita enggak tahu ya entah kena debu atau apa. Terus bisa ngurangin kebiasaan gigitin sedotan juga,” ujar Mayang.

Sedotan plastik sekali pakai memang menjadi perhatian dalam persoalan sampah laut. Divers Clean Action sebelumnya memperkirakan konsumsi sedotan di Indonesia mencapai 93.244.847 batang per hari. Jika seluruh sedotan tersebut direntangkan, panjangnya diperkirakan mencapai sekitar 16.784 kilometer atau setara jarak Jakarta hingga Mexico City.

Besarnya jumlah tersebut membuat pengurangan penggunaan sedotan sekali pakai menjadi salah satu langkah yang relatif mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Caranya tidak selalu harus mengganti seluruh kebiasaan sekaligus. Salah satunya adalah membawa perlengkapan minum yang dapat digunakan berulang kali.

Sedotan stainless steel menawarkan fungsi tersebut. Setelah digunakan, sedotan dapat dicuci kemudian dipakai kembali. Produk ini umumnya juga dilengkapi sikat khusus untuk membantu membersihkan bagian dalam sedotan.

Namun, penggunaan sedotan stainless steel tetap membutuhkan perhatian terhadap kebersihan. Sedotan perlu dicuci setelah digunakan, termasuk bagian dalamnya, kemudian dikeringkan dengan baik sebelum disimpan. Penggunaan berulang tidak otomatis membuat suatu produk lebih higienis jika proses perawatannya diabaikan.

Dari sisi ketahanan, stainless steel memiliki keunggulan karena relatif kuat dan tidak mudah pecah seperti kaca. Materialnya juga tidak mudah berubah bentuk ketika terbentur dalam penggunaan sehari-hari.

Selain itu, sedotan berbahan stainless steel food grade dapat menjadi pilihan untuk penggunaan berulang karena material tersebut dirancang untuk kontak dengan makanan dan minuman. Klaim mengenai keamanan tetap perlu dikaitkan dengan kualitas produk dan standar material yang digunakan, bukan semata-mata karena produk tersebut berbahan logam.

Ada pula sisi lain yang perlu diperhatikan. Sedotan stainless steel bukan berarti otomatis memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah sejak proses pembuatannya. Produksi logam membutuhkan energi dan menghasilkan emisi. Keunggulannya baru lebih berarti apabila sedotan tersebut benar-benar digunakan berkali-kali sehingga dapat menggantikan banyak sedotan sekali pakai.

Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar memilih sedotan berbahan stainless steel, melainkan seberapa konsisten produk tersebut digunakan kembali.

Perubahan kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana. Satu sedotan yang digunakan berkali-kali memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan sampah plastik. Namun, ketika kebiasaan serupa dilakukan oleh semakin banyak orang, kebutuhan terhadap produk sekali pakai dapat ditekan.

Bagi masyarakat Banyuwangi, yang sehari-hari juga bersinggungan dengan aktivitas wisata, kuliner, dan kawasan pesisir, kebiasaan mengurangi barang sekali pakai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan mulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Membawa sedotan stainless steel bukan sekadar soal mengikuti tren. Nilai utamanya terletak pada perubahan pola konsumsi. Menggunakan lebih sedikit barang sekali pakai, merawat barang yang sudah dimiliki, dan menggunakannya kembali selama masih layak.

Editor : Lugas Rumpakaadi
gaya hidup berkelanjutan sedotan stainless steel sedotan plastik Lingkungan sampah plastik