RADAR BANYUWANGI - Foto polaroid kembali menarik perhatian anak muda sebagai salah satu cara menyimpan kenangan dalam bentuk fisik. Di tengah kebiasaan menyimpan gambar di galeri ponsel, foto berukuran kecil ini menawarkan pengalaman berbeda karena hasilnya dapat langsung disimpan, dipajang, atau diberikan kepada orang terdekat.
Foto polaroid banyak dipilih untuk mengabadikan momen bersama teman, keluarga, maupun pasangan. Bentuknya yang kecil membuat foto mudah dibawa dan disimpan. Untuk satu lembar cetakan, harganya umumnya berada di kisaran Rp10 ribu.
Tren fotografi dengan hasil cetak berukuran kecil juga terlihat dari aktivitas anak muda yang mendatangi tempat foto untuk mengabadikan momen bersama orang terdekat. Hasilnya kemudian dapat ditempel di kamar, dimasukkan ke album kenangan, atau disimpan sebagai koleksi pribadi.
Salah satu pengguna foto polaroid di Banyuwangi, Aulia, mengatakan dirinya menyukai format tersebut karena hasil foto dapat langsung menjadi benda yang menyimpan kenangan.
“Saya suka foto polaroid karena hasilnya bisa langsung disimpan. Foto ini juga bisa ditempel di kamar atau dimasukkan ke album,” ujarnya.
Menurut Aulia, keberadaan foto dalam bentuk fisik membuat dokumentasi terasa lebih personal. Foto tidak hanya menjadi gambar yang tersimpan di perangkat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ruang atau album yang bisa dilihat kembali.
Tak Sekadar Foto, Ada Kenangan yang Bisa Disimpan
Foto polaroid memiliki tampilan yang sederhana dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Karakter tersebut membuatnya praktis untuk disimpan sekaligus memberi ruang bagi pengguna untuk menambahkan tulisan atau hiasan kecil.
Sebuah foto juga dapat menjadi pengingat terhadap peristiwa tertentu. Momen ulang tahun, perpisahan, liburan, hingga kegiatan bersama teman dapat diabadikan dan disimpan dalam bentuk cetak.
Karena sifatnya yang personal, foto polaroid juga kerap diberikan sebagai hadiah. Sebuah lembar foto dapat menjadi kenang-kenangan bagi teman, pasangan, maupun anggota keluarga setelah melewati momen tertentu bersama.
Bagi sebagian anak muda, pilihan mencetak foto juga menjadi cara untuk memberikan tempat khusus bagi gambar yang dianggap memiliki nilai emosional. Foto yang biasanya bercampur dengan banyak gambar lain di galeri ponsel dapat dipilih dan dicetak agar lebih mudah dikenang.
Tren Fotografi Fisik Tak Selalu Berbentuk Polaroid
Meski foto polaroid kembali mendapat perhatian, permintaan terhadap layanan tersebut belum tentu sama di setiap tempat. Salah satu studio foto di Banyuwangi menyebut permintaan khusus untuk foto polaroid saat ini belum menjadi layanan yang banyak diminta pelanggan.
Devi, marketing salah satu studio foto di Banyuwangi, mengatakan tren yang muncul justru berkembang melalui konsep fotografi mandiri atau self photo.
“Kalau permintaan polaroid belum ada, Mas. Kalau tren kita ada sesi foto self gitu, jadi pakai remote. Namanya self passport photo. Jadi nanti dapat cetak ala boarding pass dan paspor ala-ala. Kalau yang difotoin fotografer, mungkin yang sempat tren itu foto vibes monochrome,” kata Devi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan anak muda terhadap foto fisik tidak selalu hadir dalam bentuk polaroid. Konsep cetak foto dengan desain dan pengalaman yang berbeda juga menjadi bagian dari perkembangan tren fotografi saat ini.
Pada layanan self photo, misalnya, pengguna dapat mengambil gambar sendiri menggunakan perangkat yang telah disiapkan. Hasil cetak kemudian dibuat dengan konsep tertentu sehingga tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman berfoto.
Mengapa Foto Fisik Masih Menarik?
Kemudahan fotografi digital membuat seseorang dapat mengambil banyak foto hanya dengan menggunakan ponsel. Namun, tidak semua foto akhirnya dicetak atau dilihat kembali.
Foto fisik menawarkan pengalaman yang berbeda. Setelah dicetak, gambar dapat ditempatkan di meja, ditempel di dinding kamar, dimasukkan ke album, atau diberikan kepada orang lain.
Foto polaroid memiliki daya tarik karena bentuknya ringkas dan tampilannya sederhana. Pengguna juga dapat menambahkan tulisan maupun hiasan kecil sehingga hasil akhirnya terasa lebih personal.
Cara mendapatkannya pun relatif mudah. Seseorang dapat mengambil foto di studio atau menggunakan kamera polaroid. Setelah itu, foto dapat langsung disimpan sebagai koleksi atau diberikan kepada orang lain sebagai kenang-kenangan.
Kembalinya perhatian terhadap foto polaroid sekaligus memperlihatkan bahwa fotografi digital tidak sepenuhnya menggantikan kebutuhan terhadap foto fisik. Di kalangan anak muda, mencetak foto dapat menjadi cara untuk memberi bentuk nyata pada sebuah kenangan.
Di Banyuwangi, perkembangan tren tersebut tidak hanya terlihat melalui polaroid, tetapi juga melalui berbagai konsep self photo dan cetak foto dengan tampilan yang dibuat lebih personal. Bagi penggunanya, yang dicari bukan sekadar hasil gambar, melainkan pengalaman dan kenangan yang dapat dibawa pulang.
Editor : Lugas Rumpakaadi