RADAR BANYUWANGI - Dunia musik elektronik di Banyuwangi menghadapi fenomena baru. Semakin mudahnya teknologi DJ membuat lebih banyak orang tertarik menjadi penampil musik elektronik. Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, muncul persoalan persaingan tarif yang dinilai mulai menekan nilai jasa DJ.
Perangkat lunak dan aplikasi musik yang semakin mudah diakses membuat proses belajar DJ tidak lagi selalu membutuhkan perangkat profesional dengan biaya tinggi. Kondisi ini membuka kesempatan bagi pelajar, pekerja kantoran, hingga orang dari berbagai latar belakang untuk mencoba tampil sebagai DJ.
Bagi penikmat musik elektronik di Banyuwangi, bertambahnya jumlah penampil sebenarnya dapat menjadi tanda bahwa musik EDM semakin mendapatkan tempat di kalangan masyarakat. Namun, muncul pula kekhawatiran ketika persaingan mendapatkan panggung mulai bergeser menjadi persaingan tarif.
Ryan, salah seorang penikmat musik EDM, mengamati perubahan tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, ketertarikan terhadap profesi DJ kini datang dari kalangan yang semakin beragam.
"Sekarang dari pelajar, pegawai kantoran, atlet, udah banyak banget yang ikut ambisi jadi DJ," ujar Ryan saat dikutip di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (7/9).
Menurut Ryan, masuknya banyak penampil baru tidak selalu menjadi persoalan. Sebaliknya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa musik elektronik semakin dikenal. Persoalan muncul ketika sebagian DJ menawarkan tarif rendah demi memperoleh kesempatan tampil.
"Sebenarnya bagus, berarti industri musik EDM makin marak digemari. Tapi yang bikin greget para DJ baru ini mulai ngerusak harga, padahal gimanapun kan DJ itu seniman dan pantes punya harga yang ngga rendah," tambahnya.
Pandangan tersebut menunjukkan adanya tantangan baru dalam ekosistem musik elektronik lokal. Bagi DJ yang telah menjalani profesi secara serius, persaingan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memainkan lagu, tetapi juga pengalaman, kreativitas, karakter pertunjukan, dan karya yang dihasilkan.
Teknologi memang membuat sejumlah aspek teknis dalam DJ semakin mudah dipelajari. Namun, kemudahan tersebut sekaligus membuat batas antara orang yang sekadar mampu memainkan musik dan DJ yang membangun identitas artistik menjadi semakin penting.
DJ sekaligus produser musik, Adnan Veron, mengatakan teknologi telah mengubah cara seseorang mempelajari dan menjalankan aktivitas DJ. Menurutnya, perangkat digital saat ini bahkan memungkinkan pengguna mengoperasikan fungsi dasar DJ melalui telepon seluler.
"Sekarang semua orang bisa memutar lagu dengan rapi hanya bermodal aplikasi di ponsel karena teknologi sudah menyelesaikan masalah teknis. Namun, yang membuat seorang penampil bertahan bukan seberapa canggih peranti lunaknya, melainkan kejelian rasa, kemampuan membaca energi penonton, dan keberanian meracik karya sendiri," terang Adnan Veron saat diwawancarai di Jakarta, Senin (7/9).
Menurut Adnan, kemampuan teknis tersebut belum cukup untuk menjadi pembeda di tengah semakin banyaknya penampil. Seorang DJ perlu memiliki karakter yang membuat penonton dapat mengenali kualitas dan identitasnya.
"Kalau sekadar menyambung dua lagu populer, algoritma pun bisa melakukannya. Nilai jual utama seorang DJ hari ini terletak pada identitas panggung dan karakter produksi musik yang tidak bisa ditiru oleh aplikasi," tegasnya.
Persaingan tarif pada akhirnya menjadi tantangan tersendiri bagi para DJ yang ingin mempertahankan profesinya. Ketika semakin banyak orang menawarkan jasa yang sama, kemampuan untuk menunjukkan nilai lebih menjadi semakin penting.
Salah satu jalannya adalah menghasilkan karya orisinal. Produksi musik dapat menjadi pembeda karena memberikan identitas yang lebih jelas kepada seorang DJ sekaligus memperluas nilai yang ditawarkan kepada penonton maupun penyelenggara acara.
Bagi perkembangan musik elektronik di Banyuwangi, fenomena ini memiliki dua sisi. Bertambahnya penampil dapat memperluas komunitas dan membuka peluang munculnya talenta-talenta baru. Namun, persaingan yang terlalu berfokus pada tarif berpotensi membuat kualitas, kreativitas, dan proses berkarya kurang mendapat perhatian.
Karena itu, kemudahan teknologi tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi DJ profesional. Justru, perkembangan tersebut dapat menjadi titik awal bagi munculnya lebih banyak musisi elektronik baru. Tantangannya adalah bagaimana para penampil mengubah kemampuan teknis menjadi identitas artistik.
Persaingan di dunia DJ bukan semata-mata tentang siapa yang bersedia tampil dengan bayaran paling rendah. Di tengah semakin mudahnya akses teknologi, kemampuan membaca suasana, membangun karakter panggung, dan menghasilkan musik dengan identitas sendiri menjadi faktor yang dapat menentukan daya tahan seorang DJ di industri.
Editor : Lugas Rumpakaadi