Dulu Dicibir, Crocs Kini Jadi Simbol Gaya Anak Muda, Apa yang Membuatnya Berubah?

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 15:19 WIB
Crocs yang dulu dianggap kurang modis kini menjadi bagian dari gaya kasual anak muda. Kehadiran Jibbitz membuat pemakainya dapat memberikan sentuhan personal pada alas kaki yang dikenakan. (ChatGPT)
Crocs yang dulu dianggap kurang modis kini menjadi bagian dari gaya kasual anak muda. Kehadiran Jibbitz membuat pemakainya dapat memberikan sentuhan personal pada alas kaki yang dikenakan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Crocs yang dulu identik dengan sandal karet berdesain aneh kini justru menjadi bagian dari gaya anak muda. Alas kaki yang pernah dicap tidak modis itu perlahan berubah menjadi aksesori fashion yang digunakan untuk menunjukkan karakter dan selera pribadi.

Perubahan tersebut tidak terjadi dalam semalam. Ketika pertama kali hadir pada 2002, Crocs lebih dikenal karena menawarkan kenyamanan dan kepraktisan. Bentuknya yang lebar, tebal, dan penuh lubang membuatnya mudah dikenali, tetapi sekaligus menjadi alasan produk tersebut kerap dipandang sebelah mata dalam dunia fashion.

Bagi sebagian orang, Crocs dahulu lebih cocok digunakan untuk aktivitas santai atau pekerjaan yang membutuhkan alas kaki nyaman. Membawanya ke ruang publik sebagai bagian dari penampilan bahkan sempat dianggap sebagai pilihan yang kurang memperhatikan gaya.

Namun, selera fashion terus berubah.

Memasuki era 2020-an, batas antara pakaian yang dianggap modis dan tidak modis semakin cair. Generasi muda mulai memberikan ruang lebih besar bagi kenyamanan, keunikan, serta kebebasan dalam menentukan penampilan.

Fenomena yang kerap disebut sebagai ugly chic ikut mengubah cara orang melihat benda-benda yang sebelumnya dianggap tidak menarik. Dalam tren ini, sesuatu yang terlihat aneh, berlebihan, atau tidak mengikuti pakem lama justru dapat menjadi daya tarik tersendiri.

Crocs berada di tengah perubahan tersebut.

Dari alas kaki praktis menjadi fashion statement

Salah satu langkah yang membuat citra Crocs berubah adalah keberaniannya untuk masuk ke wilayah budaya populer dan fashion melalui berbagai kolaborasi.

Crocs menggandeng sejumlah nama besar, mulai dari rumah mode Balenciaga hingga musisi seperti Justin Bieber. Kolaborasi dengan karakter budaya populer, termasuk Shrek dan Lightning McQueen, juga memperluas daya tarik produk tersebut bagi konsumen yang lebih muda.

Langkah tersebut membuat Crocs tidak lagi sekadar dipandang sebagai alas kaki untuk mencari kenyamanan. Bentuknya yang khas justru menjadi identitas.

Pengguna Crocs pun tidak selalu berusaha menyembunyikan karakter unik dari alas kaki tersebut. Sebaliknya, desain yang dulu dianggap sebagai kelemahan kini justru ditampilkan sebagai bagian dari penampilan.

Perubahan itu menunjukkan bagaimana industri fashion dapat mengubah persepsi terhadap sebuah produk. Sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak menarik bisa memperoleh makna baru ketika dipadukan dengan tren dan budaya yang sedang berkembang.

Jibbitz mengubah lubang Crocs menjadi ruang ekspresi

Ada faktor lain yang membuat Crocs semakin dekat dengan generasi muda, yakni Jibbitz.

Aksesori kecil tersebut dapat dipasang pada lubang di bagian atas Crocs. Jika pada awalnya lubang tersebut memiliki fungsi praktis, pengguna kemudian memiliki kesempatan untuk mengubahnya menjadi semacam kanvas personal.

Karakter kartun, makanan, simbol, hingga berbagai bentuk lain dapat dipilih sesuai selera. Hasil akhirnya membuat setiap pasang Crocs dapat memiliki tampilan berbeda.

Bagi anak muda, personalisasi seperti ini memberikan pengalaman yang lebih individual. Mereka tidak hanya membeli sebuah produk, tetapi juga dapat menentukan bagaimana produk tersebut merepresentasikan diri mereka.

"Dulu emang keliatannya aneh dan kekanak-kanakan. Tapi pas nyobain dipasangin Jibbitz sendiri, rasanya beda aja. Unik dan gak pasaran. Crocs itu bentuk ekspresi diri, makin aneh style-nya justru makin keren di mata anak muda sekarang," ujar Meivira, seorang siswi yang menjadikan Crocs sebagai bagian dari gaya kesehariannya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan perubahan sederhana tetapi penting dalam cara generasi muda memandang fashion. Penampilan tidak lagi selalu harus mengikuti standar yang dianggap ideal oleh generasi sebelumnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Crocs fashion kasual tren fashion anak muda ugly chic Jibbitz