RADAR BANYUWANGI – Orang tua yang berencana menggelar khitanan pada September 2026 bisa menjadikan perhitungan hari dan pasaran dalam tradisi Jawa sebagai salah satu pertimbangan. Senin dan Kamis kerap dipilih karena dianggap sebagai hari baik, tetapi penentuan tanggal yang lebih spesifik tetap dapat disesuaikan dengan weton anak, kondisi kesehatan, serta kesiapan mentalnya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, pemilihan hari untuk menggelar hajatan bukan sekadar menentukan tanggal di kalender. Ada perhitungan hari, pasaran, hingga neptu yang biasanya menjadi bahan pertimbangan sebelum sebuah hajat dilaksanakan.
Termasuk khitanan.
Bagi sebagian keluarga, memilih hari yang dianggap baik merupakan bagian dari ikhtiar agar acara berlangsung lancar, selamat, dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
September 2026 Masuk Mulud hingga Bakda Mulud
Kalender Jawa September 2026 berada dalam rentang bulan Mulud hingga Bakda Mulud. Memasuki Bakda Mulud atau Rabiulakhir, bulan tersebut dalam pandangan tradisi Jawa dianggap cukup netral untuk memulai berbagai kegiatan penting.
Dua tanggal yang tercantum dalam pedoman kalender tersebut antara lain:
-
1 September 2026: Selasa Legi, 18 Mulud.
-
14 September 2026: Senin Wage, 1 Bakda Mulud 1960.
Namun, kedua tanggal tersebut tidak otomatis dapat disebut sebagai tanggal terbaik untuk semua anak.
Sebab, dalam hitungan Primbon Jawa, kecocokan sebuah hari dapat dikaitkan dengan weton anak maupun orang tua. Karena itu, tanggal yang dianggap baik bagi satu keluarga belum tentu memiliki perhitungan yang sama bagi keluarga lainnya.
Senin dan Kamis Sering Jadi Pilihan
Dalam pedoman umum penentuan hari baik, Senin dan Kamis termasuk hari yang sering dianjurkan untuk melaksanakan kegiatan penting.
Khitanan pun dapat ditempatkan pada dua hari tersebut apabila sesuai dengan kondisi keluarga dan perhitungan yang digunakan.
Pertimbangannya tidak berhenti pada hari dalam sepekan. Orang tua biasanya juga melihat kombinasi hari dan pasaran untuk mendapatkan hitungan yang dianggap lebih sesuai.
Dengan demikian, pemilihan tanggal khitanan September 2026 sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan nama hari.
Weton Anak Jadi Pertimbangan Penting
Dalam tradisi Jawa, weton merupakan gabungan hari kelahiran dan pasaran seseorang. Perhitungan ini kerap digunakan untuk menentukan waktu yang dianggap tepat dalam berbagai keperluan, mulai dari pernikahan, pindah rumah, membuka usaha hingga khitanan.
Karena itu, orang tua yang ingin menentukan hari khitanan secara lebih spesifik dapat terlebih dahulu mengetahui weton anak.
Dari sana, perhitungan hari dan pasaran dapat disesuaikan dengan tujuan hajatan serta pertimbangan keluarga.
Pendekatan tersebut membuat penentuan hari baik menjadi lebih personal, bukan sekadar mengambil satu tanggal yang dianggap baik untuk semua orang.
Jangan Lupakan Kondisi Anak
Di luar hitungan Primbon Jawa, ada pertimbangan yang jauh lebih praktis dan penting: kondisi kesehatan fisik serta kesiapan mental anak.
Khitanan merupakan tindakan medis. Karena itu, orang tua tetap perlu memastikan anak berada dalam kondisi sehat dan mendapatkan penanganan dari tenaga medis yang kompeten.
Jadwal acara juga sebaiknya disusun dengan mempertimbangkan waktu pemulihan anak. Jangan sampai keinginan mengikuti tanggal tertentu justru membuat kondisi anak kurang nyaman.
Dengan kata lain, hitungan hari baik dapat ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar budaya, sementara aspek kesehatan tetap menjadi prioritas.
Kalender Jawa dan Tradisi Menentukan Hari Baik
Penggunaan Primbon Jawa untuk menentukan hari baik masih menjadi bagian dari tradisi yang dipertahankan sebagian masyarakat Jawa hingga sekarang.
Dalam konteks khitanan, perhitungan tersebut biasanya dimaksudkan untuk mencari waktu yang dianggap selaras bagi anak dan keluarga.
Pada akhirnya, tidak ada satu tanggal yang secara mutlak menjamin sebuah hajatan berjalan sempurna. Penentuan hari baik merupakan bagian dari tradisi dan keyakinan masyarakat.
Bagi keluarga yang ingin menggelar khitanan September 2026, langkah paling tepat adalah memadukan kalender Jawa, weton anak, kesiapan keluarga, serta kondisi kesehatan anak.
Sebab, dalam menjalankan sebuah hajat, tradisi dapat menjadi bentuk eling lan waspada, sedangkan niat baik, doa, dan persiapan matang tetap menjadi bagian penting agar acara berlangsung lancar. (*)
Editor : Ali Sodiqin