RADAR BANYUWANGI - Ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya biaya hidup dalam jangka panjang turut memengaruhi cara generasi muda mengelola uang.
Di tengah kekhawatiran mengenai masa depan finansial, muncul perilaku yang dikenal sebagai doom spending, yakni kecenderungan berbelanja secara impulsif untuk memperoleh kepuasan sesaat sekaligus meredakan tekanan psikologis.
Fenomena ini dapat muncul ketika seseorang merasa target keuangan besar, seperti membeli rumah, membangun tabungan, atau mempersiapkan masa pensiun, semakin sulit diwujudkan.
Ketika tujuan tersebut terasa terlalu jauh, sebagian orang memilih menikmati uang yang dimiliki saat ini melalui pembelian makanan, kopi, hiburan, maupun barang-barang kecil yang sebenarnya tidak menjadi kebutuhan utama.
Secara psikologis, keputusan tersebut memberikan sensasi penghargaan dalam waktu singkat.
Aktivitas membeli sesuatu dapat merangsang sistem penghargaan di otak dan memberikan perasaan senang atau lega untuk sementara.
Masalahnya, efek tersebut tidak berlangsung lama.
Setelah kepuasan mereda, pengeluaran yang tidak direncanakan dapat menimbulkan penyesalan dan kecemasan baru.
"Sama seperti ramalan masa depan, kami melihat orang berbelanja tanpa berpikir untuk meredakan kekhawatiran tentang ekonomi dan urusan luar negeri, yang dapat berdampak buruk pada kesejahteraan finansial mereka," ungkap Courtney Alev, advokat keuangan konsumen Credit Karma, dikutip dari CNBC Internasional.
Bagi masyarakat, termasuk generasi muda di Banyuwangi, fenomena ini menjadi relevan di tengah semakin mudahnya transaksi digital.
Media sosial menghadirkan berbagai tren konsumsi setiap hari, sementara layanan pembayaran digital dan fitur paylater membuat proses pembelian dapat dilakukan dalam hitungan detik.
Persoalannya bukan semata-mata terletak pada nominal satu kali pembelian.
Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat terakumulasi menjadi jumlah signifikan.
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut berpotensi mengurangi dana darurat, menghambat tabungan, dan membuat kondisi keuangan semakin rentan ketika menghadapi kebutuhan mendesak.
Media sosial juga dapat memperkuat dorongan tersebut.
Paparan terhadap gaya hidup orang lain, promosi terbatas, tren kuliner, hingga konten konsumsi dapat menciptakan kesan bahwa seseorang perlu terus membeli sesuatu agar tidak tertinggal.
Dalam kondisi psikologis yang sedang tertekan, dorongan untuk memperoleh kesenangan secara cepat dapat menjadi semakin kuat.
Untuk menghindari pola tersebut, masyarakat dapat menerapkan prinsip mindful spending atau belanja secara sadar.
Salah satu caranya adalah memberikan jeda sebelum melakukan pembelian yang tidak bersifat mendesak.
Aturan sederhana, seperti menunggu 24 jam sebelum membeli barang nonprimer, dapat membantu seseorang membedakan kebutuhan dengan keinginan sesaat.
Penggunaan pembayaran digital juga dapat dikendalikan dengan lebih disiplin.
Mengurangi transaksi otomatis, menetapkan batas pengeluaran, serta mengevaluasi pengeluaran secara berkala dapat membantu seseorang memahami ke mana uangnya dialokasikan.
Yang tidak kalah penting, mekanisme untuk mengatasi stres tidak harus selalu melibatkan aktivitas konsumsi.
Berolahraga, berjalan kaki, berkumpul dengan keluarga atau teman, membaca, menjalankan hobi, maupun menikmati ruang terbuka dapat menjadi alternatif untuk memperoleh relaksasi tanpa menambah beban keuangan.
Doom spending pada dasarnya bukan sekadar persoalan kebiasaan berbelanja.
Fenomena ini menunjukkan hubungan yang erat antara kondisi psikologis, persepsi terhadap masa depan, dan keputusan finansial sehari-hari.
Mengenali pemicunya menjadi langkah awal agar kebutuhan untuk merasa lebih baik tidak berubah menjadi masalah keuangan baru.
Bagi generasi muda, membangun kesehatan finansial bukan berarti harus menghilangkan seluruh bentuk kesenangan.
Pengeluaran untuk menikmati hidup tetap dapat dilakukan selama direncanakan dan berada dalam kemampuan finansial.
Tantangannya adalah memastikan kepuasan hari ini tidak mengorbankan keamanan finansial pada masa mendatang.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : CNBC International