Corporate Memphis, Gaya Ilustrasi Ceria yang Justru Dibenci Internet

Chenza Widelia Prima • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 16:23 WIB
Corporate Memphis dikenal lewat figur manusia berproporsi tidak biasa, warna cerah, dan bentuk sederhana. Gaya ini populer di dunia teknologi, tetapi sekaligus menuai kritik karena dinilai terlalu seragam. (Magnific)
Corporate Memphis dikenal lewat figur manusia berproporsi tidak biasa, warna cerah, dan bentuk sederhana. Gaya ini populer di dunia teknologi, tetapi sekaligus menuai kritik karena dinilai terlalu seragam. (Magnific)

RADAR BANYUWANGI - Ada satu gaya ilustrasi yang begitu mudah ditemukan di internet hingga nyaris terasa seperti bahasa visual bersama. Sosok manusia dengan badan lentur, tangan dan kaki memanjang, bentuk geometris sederhana, serta warna primer atau pastel yang mencolok kerap muncul di situs perusahaan teknologi, aplikasi, startup, hingga materi presentasi korporasi.

Gaya tersebut dikenal sebagai Corporate Memphis. Sebagian orang juga mengenalnya dengan nama Alegria.

Pada pandangan pertama, tidak ada yang terlihat bermasalah. Visualnya bersih, cerah, modern, mudah dipahami, dan relatif sederhana untuk dikerjakan. Bagi desainer grafis pemula, gaya semacam ini bahkan cukup bersahabat untuk dipelajari.

Namun, justru karena terlalu sering digunakan, Corporate Memphis kemudian memunculkan reaksi yang berlawanan. Di tengah derasnya kritik dari desainer, seniman, dan netizen, gaya yang dirancang untuk terlihat ramah itu malah dicap monoton, tanpa karakter, bahkan dianggap sebagai simbol pencitraan korporasi.

Lantas, mengapa ilustrasi yang tampak menyenangkan bisa berubah menjadi salah satu estetika yang paling sering diparodikan di internet?

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat alasan Corporate Memphis bisa begitu cepat menyebar.

Nama Corporate Memphis sendiri digunakan secara satir untuk mengaitkannya dengan Memphis Group, kolektif desain asal Italia pada era 1980-an yang dikenal lewat bentuk geometris, pola berani, dan warna-warna mencolok. Meski demikian, gaya korporasi modern yang kini disebut Corporate Memphis memiliki karakter dan konteks berbeda.

Popularitasnya melonjak sekitar 2017 ketika Facebook memperkenalkan sistem ilustrasi bernama Alegria, yang dikembangkan bersama agensi BUCK. Konsep tersebut diarahkan untuk membangun citra yang inklusif, ramah, dan dapat diterima oleh pengguna dari beragam latar belakang.

Perusahaan teknologi lain kemudian mengembangkan pendekatan serupa.

Salah satu alasannya sangat praktis. Ilustrasi vektor datar relatif cepat diproduksi, mudah diperbarui, dan dapat diperbesar atau diperkecil tanpa kehilangan kualitas. Dibandingkan dengan produksi foto atau ilustrasi dengan detail dan tekstur tinggi, pendekatan tersebut menawarkan efisiensi dari sisi waktu maupun biaya.

Ada pula pertimbangan representasi.

Dengan warna kulit tidak realistis, misalnya biru, ungu, atau hijau, serta anatomi tubuh yang sengaja dibuat abstrak, karakter dalam ilustrasi tidak secara spesifik merujuk pada ras, etnis, bentuk tubuh, atau identitas tertentu. Bagi perusahaan, pendekatan tersebut dianggap mampu memberi kesan bahwa produknya terbuka untuk semua orang.

Di atas kertas, strategi ini masuk akal.

Persoalannya muncul ketika pendekatan yang sama dipakai secara masif.

Salah satu kritik terbesar terhadap Corporate Memphis terletak pada karakter manusianya.

Lengan dan kaki yang memanjang, tubuh kecil, kepala mungil, serta wajah yang minim detail menjadi ciri yang mudah dikenali. Pada batas tertentu, bentuk tersebut memang memberi kesan luwes dan ekspresif.

Tetapi bagi sebagian pengamat, proporsi yang terlalu jauh dari anatomi manusia justru terasa janggal.

Tokohnya tampak seperti manusia yang diregangkan. Senyumnya lebar, tetapi emosinya terbatas. Gerak tubuh terlihat dinamis, tetapi kepribadiannya sering terasa tipis.

Dari sinilah muncul kritik bahwa gaya tersebut adalah bentuk seni yang kehilangan “jiwa”.

Corporate Memphis banyak bertumpu pada bentuk sederhana, bidang datar, warna solid, serta komponen visual yang bisa dipertukarkan. Pendekatan modular itu membuat produksi menjadi efisien, tetapi sekaligus berisiko mengorbankan kekhasan.

Ketika ratusan bahkan ribuan perusahaan menggunakan formula serupa, perbedaan antara satu merek dan merek lain makin sulit dirasakan.

Internet pun seperti dipenuhi satu bahasa visual yang sama.

Kritik lain justru lebih serius. Corporate Memphis kerap dianggap bukan sekadar pilihan estetika, melainkan bagian dari strategi komunikasi perusahaan.

Bayangkan sebuah ilustrasi: tokoh berwarna cerah sedang bersepeda, menanam pohon, bekerja bersama, atau menikmati suasana santai. Semuanya terlihat optimistis dan utopis.

Masalahnya, visual semacam itu dapat berdiri berdampingan dengan persoalan yang jauh lebih kompleks, mulai dari kekhawatiran privasi data hingga praktik bisnis perusahaan.

Karena itu, sebagian kritikus melihat estetika ini sebagai semacam topeng visual. Warna pastel dan ekspresi ceria dianggap dapat membentuk kesan perusahaan yang hangat, manusiawi, dan peduli, meskipun realitas di balik layar belum tentu sesederhana itu.

Kritik tersebut kemudian berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas tentang komersialisasi seni. Ketika karya visual dibentuk terutama untuk kepentingan citra merek, seni dikhawatirkan kehilangan ruang untuk menghadirkan ambiguitas, emosi, dan karakter manusia yang lebih autentik.

Meski banyak dikritik, Corporate Memphis tidak lantas menjadi gaya yang tidak layak dipelajari.

Justru bagi desainer grafis pemula, karakter sederhananya bisa menjadi ruang latihan yang cukup ideal.

Dengan bentuk-bentuk dasar dan pendekatan vektor, seorang pemula dapat belajar menggunakan pen tool, memahami kurva Bézier, menyederhanakan objek kompleks menjadi bentuk yang lebih mudah dikendalikan, sekaligus berlatih menyusun komposisi.

Permainan warna juga menjadi bagian penting.

Karena Corporate Memphis mengandalkan blok warna solid yang berani, desainer dituntut memahami kontras, keseimbangan, harmoni, dan hubungan antarwarna. Prinsip-prinsip tersebut tetap relevan, bahkan ketika seseorang nantinya beralih ke gaya ilustrasi yang jauh lebih kompleks.

Ada pula pelajaran penting soal komunikasi visual.

Tidak semua kebutuhan desain menuntut karya yang penuh detail atau membawa gagasan filosofis yang berat. Dalam banyak kasus, pengguna hanya membutuhkan pesan yang bisa dipahami dengan cepat.

Di titik ini, kesederhanaan Corporate Memphis justru menjadi keunggulan.

Pada akhirnya, persoalan Corporate Memphis tampaknya tidak sesederhana soal lengan yang terlalu panjang, kepala yang terlalu kecil, atau warna yang terlalu cerah.

Kritik yang lebih besar menyasar rasa jenuh.

Ketika satu estetika dipakai berulang kali oleh berbagai perusahaan di berbagai negara, desain kehilangan kejutan. Apa yang semula terasa segar akhirnya menjadi formula. Apa yang awalnya dimaksudkan sebagai simbol keramahan justru terlihat generik.

Karena itu, kebencian terhadap Corporate Memphis lebih tepat dibaca sebagai kritik terhadap keseragaman visual dan komersialisasi estetika.

Gaya tersebut sendiri tetap merupakan alat. Nilainya sangat bergantung pada bagaimana seorang kreator menggunakannya.

Desainer yang mampu menambahkan tekstur, mengeksplorasi proporsi, menciptakan karakter yang lebih khas, atau memadukannya dengan elemen personal masih dapat menghasilkan karya yang menarik.

Dengan kata lain, masalahnya bukan pada vektor, warna pastel, atau bentuk manusia yang lentur.

Masalah muncul ketika semua orang menggunakan resep yang sama.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Corporate Memphis Alegria ilustrasi digital tren visual korporasi desain grafis