Ratusan Ton Tomat Banjiri Jalanan Buñol, Begini Tradisi La Tomatina yang Jadi Festival Ikonik Spanyol

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 12:09 WIB
Peserta La Tomatina memenuhi jalanan Buñol, Valencia, Spanyol, dalam festival perang tomat yang setiap tahun menarik puluhan ribu pengunjung dari berbagai negara. (Tangkapan Layar YouTube/LiveNOW from FOX)
Peserta La Tomatina memenuhi jalanan Buñol, Valencia, Spanyol, dalam festival perang tomat yang setiap tahun menarik puluhan ribu pengunjung dari berbagai negara. (Tangkapan Layar YouTube/LiveNOW from FOX)

RADAR BANYUWANGI - Buñol, kota kecil di wilayah Valencia, Spanyol, biasanya jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Namun, setiap Rabu terakhir pada Agustus, suasananya berubah drastis. Jalanan kota dipenuhi wisatawan dari berbagai negara yang datang untuk satu agenda. Saling melempar tomat dalam La Tomatina.

Festival yang dikenal sebagai salah satu perang makanan terbesar di dunia itu mengubah Buñol, yang dihuni sekitar 9.000 penduduk, menjadi lautan manusia sekaligus lautan merah. Ratusan ton tomat matang memenuhi jalan, pakaian peserta, hingga dinding-dinding bangunan tua di pusat kota.

Di balik kemeriahannya, La Tomatina memiliki sejarah yang bermula dari sebuah kericuhan sederhana. Pada 1945, para pemuda disebut terlibat keributan saat parade budaya lokal. Dalam situasi tersebut, mereka mengambil tomat dari stan sayuran terdekat dan menggunakannya sebagai amunisi untuk saling lempar.

Aksi spontan itu kemudian berkembang menjadi tradisi yang terus berulang. Pemerintah setempat sempat melarang pelaksanaannya pada dekade 1950-an. Namun, warga Buñol tidak sepenuhnya meninggalkan kebiasaan tersebut. Tradisi tetap berlangsung secara sembunyi-sembunyi hingga akhirnya mendapat legalitas dan berkembang menjadi salah satu festival budaya yang paling dikenal dari Spanyol.

Sebelum perang tomat benar-benar dimulai, peserta harus melewati sebuah ritual yang tidak kalah menarik. Namanya Palo Jabón.

Di tengah alun-alun, sebuah tiang kayu tinggi dilumuri bahan licin seperti sabun atau gemuk. Di bagian paling atas, digantung sepotong daging ham atau jamón. Para peserta kemudian berlomba memanjat tiang tersebut. Saat seseorang berhasil mencapai ham, tembakan meriam air menjadi penanda bahwa perang tomat resmi dimulai.

Setelah itu, suasana berubah total. Truk-truk besar membawa lebih dari 100 ton tomat matang ke tengah kerumunan. Buah yang digunakan telah terlalu matang sehingga tidak layak untuk konsumsi biasa. Dalam satu jam, tomat-tomat itu dilemparkan dari satu peserta ke peserta lainnya hingga jalanan Buñol berubah menjadi arena pesta berwarna merah.

Meski identik dengan kesenangan, La Tomatina tetap memiliki aturan keselamatan. Peserta dianjurkan meremas atau memencet tomat sebelum dilempar agar benturannya tidak terlalu keras. Kacamata renang juga disarankan untuk melindungi mata dari percikan jus tomat yang dapat menimbulkan rasa perih.

Tak ada batasan usia, kewarganegaraan, maupun latar belakang di tengah kerumunan. Semua larut dalam permainan yang sama. Karena itulah La Tomatina sering dipandang sebagai simbol ekspresi bebas dan perayaan yang mempertemukan orang dari berbagai penjuru dunia.

Perang tomat berakhir ketika tembakan meriam air kembali terdengar. Setelah itu, para peserta meninggalkan arena yang sebelumnya penuh dengan tumpukan tomat dan cairan merah.

Namun, pekerjaan belum selesai. Armada pemadam kebakaran lokal segera dikerahkan untuk membersihkan jalanan, dinding, dan berbagai sudut kota. Pemandangan Buñol pun perlahan kembali seperti semula.

Ada sisi menarik dari proses tersebut. Air tomat yang mengandung asam sitrat alami disebut turut membantu membersihkan permukaan batu dan bagian luar bangunan tua. Hasilnya, beberapa sudut kota justru tampak lebih bersih setelah festival berakhir.

Dari sebuah kericuhan kecil pada 1945, La Tomatina akhirnya tumbuh menjadi ikon budaya yang mendatangkan perhatian internasional. Buñol membuktikan bahwa sebuah tradisi tidak selalu lahir dari perencanaan besar. Kadang, sebuah kejadian spontan justru dapat berkembang menjadi identitas kota dan daya tarik wisata yang mendunia.

Setiap tahun, ketika meriam air kembali berbunyi dan tomat mulai beterbangan, Buñol seolah mengingatkan bahwa tradisi bisa terus hidup karena masyarakat memilih untuk merayakannya bersama.

Editor : Lugas Rumpakaadi
La Tomatina Festival Tomat Spanyol Buñol Valencia Festival Budaya Spanyol Tradisi Unik Dunia