Dari Ide Konyol Jadi Kejuaraan Dunia, Begini Kisah Bog Snorkelling yang Lahir di Kota Kecil Wales

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 11:50 WIB
Peserta Bog Snorkelling berjuang melintasi parit gambut dalam perlombaan unik di Llanwrtyd Wells, Wales. Olahraga ini mengandalkan snorkel dan kaki katak tanpa diperbolehkan menggunakan gaya renang konvensional. (Visit Wales)
Peserta Bog Snorkelling berjuang melintasi parit gambut dalam perlombaan unik di Llanwrtyd Wells, Wales. Olahraga ini mengandalkan snorkel dan kaki katak tanpa diperbolehkan menggunakan gaya renang konvensional. (Visit Wales)

RADAR BANYUWANGI - Bayangan tentang snorkeling biasanya membawa kita pada hamparan laut biru, air jernih, terumbu karang, dan ikan-ikan tropis. Namun, di Llanwrtyd Wells, Wales, konsep tersebut justru dibalik secara ekstrem.

Di kota kecil itu, snorkeling dilakukan bukan di laut, melainkan di parit gambut yang dingin, gelap, keruh, dan penuh endapan. Olahraga unik tersebut dikenal sebagai Bog Snorkelling. Pesertanya harus melintasi parit berlumpur dengan snorkel, goggles, serta kaki katak atau fins.

Sekilas terdengar seperti lelucon. Tetapi, tradisi yang muncul dari ide nyentrik warga lokal itu berkembang menjadi sebuah ajang kompetisi internasional. Bahkan, Llanwrtyd Wells kemudian dikenal sebagai tempat berlangsungnya World Bog Snorkelling Championship, kejuaraan yang menarik perhatian peserta dari berbagai negara.

Awal kisahnya bermula pada 1976. Berdasarkan informasi yang dikutip dari BBC News, gagasan tersebut muncul dari Gordon Green, pemilik pub lokal yang mencari cara berbeda untuk menarik wisatawan sekaligus menghidupkan perekonomian kota.

Ide yang pada awalnya terdengar tidak masuk akal justru menemukan jalannya sendiri. Aktivitas menyeberangi parit gambut kemudian berubah menjadi tradisi tahunan yang memiliki aturan dan format pertandingan khusus.

Aturannya sederhana, tetapi pelaksanaannya jelas tidak mudah. Mengacu pada panduan resmi Green Events, peserta harus menempuh dua putaran di parit gambut sepanjang 55 meter dan mencatat waktu tercepat.

Yang membuat pertandingan ini berbeda adalah cara peserta bergerak. Mereka tidak boleh menggunakan gaya renang konvensional, seperti gaya bebas, gaya dada, maupun gaya kupu-kupu. Satu-satunya tenaga penggerak adalah hentakan kaki menggunakan fins.

Wajah peserta pun harus terus menghadap ke bawah. Mereka menyusuri lintasan dengan bantuan snorkel yang muncul di permukaan, sementara tubuh berada di dalam air gambut yang pekat.

Di sinilah tantangan sebenarnya dimulai.

Air di dalam parit bukan hanya dingin, tetapi juga nyaris tidak memberikan jarak pandang. Ulasan National Geographic menggambarkan kondisi tersebut sebagai pengalaman dengan visibilitas yang sangat minim karena air dipenuhi endapan tanah serta material tumbuhan yang membusuk.

Peserta praktis tidak dapat mengandalkan penglihatan untuk menentukan arah. Mereka harus menjaga lintasan tetap lurus berdasarkan perasaan, koordinasi tubuh, serta tanda-tanda yang tersedia di sepanjang jalur.

Kesalahan sedikit saja dapat membuat pergerakan melenceng. Ketika itu terjadi, peserta harus kembali mengoreksi arah tanpa bisa melihat dengan jelas apa yang berada di hadapannya.

Belum lagi persoalan snorkel. Lumpur encer dapat mengganggu peralatan pernapasan dan menambah beban ketika peserta berusaha mempertahankan ritme kayuhan kaki. Dalam kondisi seperti itu, kekuatan fisik saja tidak cukup. Pengendalian napas, orientasi tubuh, dan ketenangan menjadi bagian penting dari perlombaan.

Namun, Bog Snorkelling tidak pernah benar-benar diposisikan sebagai olahraga serius yang kehilangan unsur hiburan. Justru sisi absurd itulah yang menjadi daya tarik utamanya.

Laporan The Guardian menyoroti bagaimana peserta kerap mengenakan kostum unik ketika bertanding. Ada yang tampil menyerupai superhero, ada pula yang mengenakan gaun pengantin. Perpaduan antara kompetisi, humor, dan keberanian untuk tampil aneh membuat ajang ini memiliki karakter yang sulit ditemukan pada cabang olahraga lain.

Di titik inilah Bog Snorkelling menjadi festival komunitas. Peserta datang bukan semata-mata demi memecahkan catatan waktu, tetapi juga untuk bersenang-senang, bertemu orang lain, dan mempertahankan tradisi yang lahir dari sebuah gagasan sederhana.

Fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa sebuah kota kecil tidak selalu membutuhkan atraksi megah untuk menarik perhatian. Kreativitas lokal, humor, dan keberanian mencoba sesuatu yang berbeda bisa menjadi modal untuk membangun identitas wisata.

Di Llanwrtyd Wells, parit gambut yang bagi banyak orang mungkin terlihat biasa saja justru berubah menjadi panggung kompetisi yang dikenal hingga mancanegara.

Bog Snorkelling menawarkan definisi snorkeling yang sama sekali berbeda. Tidak ada laut biru, tidak ada terumbu karang, dan hampir tidak ada ikan tropis. Yang ada justru lumpur pekat, suhu dingin, kaki katak, dan peserta yang rela berkotor-kotor demi menjadi yang tercepat.

Aneh? Jelas. Sulit? Tidak diragukan. Tetapi justru karena itulah Bog Snorkelling mampu bertahan dan menjadi salah satu tradisi olahraga paling unik di dunia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : National Geographic, The Guardian, BBC News
Bog Snorkelling olahraga unik World Bog Snorkelling Championship wales wisata ekstrem