RADAR BANYUWANGI - Fenomena childfree atau keputusan untuk tidak memiliki anak kembali menjadi perbincangan di media sosial. Topik tersebut mengemuka seiring munculnya berbagai konten yang menyoroti kehidupan pasangan suami istri dengan kondisi ekonomi terbatas, tetapi tetap harus memenuhi kebutuhan anak.
Perdebatan mengenai childfree sebenarnya bukan hal baru. Pada 2023, kreator konten Gita Savitri Devi atau Gitasav pernah menjadi sorotan setelah menyampaikan pandangannya mengenai keputusan untuk tidak memiliki anak.
Kontroversi bermula dari komentar warganet yang menyinggung wajah Gitasav yang dinilai tetap terlihat awet muda. Ia kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan pilihan hidupnya yang tidak memiliki anak. Menurutnya, keputusan tersebut membuat seorang perempuan dapat terhindar dari tekanan dan stres yang muncul dari pengasuhan anak.
Pernyataan itu lantas memicu reaksi keras dari warganet. Sebagian kalangan, terutama ibu-ibu, menganggap komentar tersebut menyentuh ranah sensitif karena seolah menghubungkan kepemilikan anak dengan kondisi fisik seorang ibu.
Tidak sedikit pula warganet yang menilai pandangan soal childfree merupakan pilihan personal yang tidak semestinya dijadikan tolok ukur untuk menilai kehidupan orang lain. Polemik tersebut bahkan disebut memberikan tekanan mental kepada Gitasav karena derasnya komentar negatif yang menyentuh wilayah privasi.
Beberapa tahun berselang, pembahasan mengenai childfree kembali muncul dengan sudut pandang berbeda. Kali ini, perhatian publik lebih banyak tertuju pada persoalan ekonomi keluarga dan kemampuan orang tua memenuhi kebutuhan anak.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menjadi rujukan dalam pembahasan tersebut, terdapat sekitar 22,93 juta penduduk miskin di Indonesia. Rata-rata ukuran keluarga disebut mencapai 4,76 anggota. Kondisi itu menggambarkan adanya rumah tangga yang harus memenuhi kebutuhan sejumlah anggota keluarga di tengah keterbatasan finansial.
Situasi tersebut kemudian memunculkan perdebatan di media sosial. Sebagian warganet beranggapan bahwa keputusan untuk memiliki anak seharusnya diikuti oleh kesiapan ekonomi agar anak tidak tumbuh dalam kondisi serba kekurangan.
Konten yang memperlihatkan pasangan suami istri yang hidup dalam keterbatasan ekonomi tetapi memiliki anak pun tak luput dari sorotan. Sebagian warganet menilai pasangan perlu mempertimbangkan kemampuan finansial dan kesiapan pengasuhan sebelum memutuskan memiliki anak.
Namun, perdebatan mengenai childfree sebaiknya tidak berhenti pada persoalan memiliki atau tidak memiliki anak. Di balik pilihan tersebut terdapat tanggung jawab besar yang perlu dipahami setiap pasangan.
Memiliki anak bukan sekadar keputusan biologis, melainkan komitmen jangka panjang. Orang tua dituntut mampu memenuhi kebutuhan dasar, memberikan pendidikan, menciptakan lingkungan yang aman, sekaligus mendampingi tumbuh kembang anak.
Karena itu, pembahasan mengenai keputusan untuk memiliki anak idealnya dimulai dari komunikasi antara pasangan. Keduanya perlu terbuka untuk membicarakan kondisi ekonomi, kesiapan mental, pola pengasuhan, pembagian tanggung jawab, serta rencana kehidupan keluarga pada masa mendatang.
Editor : Lugas Rumpakaadi