Kejar Keju di Lereng Terjal, Tradisi Ekstrem Inggris yang Bikin Peserta Berguling hingga Cedera

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:43 WIB
Peserta Cheese Rolling berusaha mengejar roda keju yang meluncur dari puncak Cooper’s Hill, Gloucestershire, Inggris. Tradisi ekstrem ini tetap digelar dan menarik peserta serta wisatawan dari berbagai negara. (Backpacking Peanuts)
Peserta Cheese Rolling berusaha mengejar roda keju yang meluncur dari puncak Cooper’s Hill, Gloucestershire, Inggris. Tradisi ekstrem ini tetap digelar dan menarik peserta serta wisatawan dari berbagai negara. (Backpacking Peanuts)

RADAR BANYUWANGI - Olahraga biasanya identik dengan aturan ketat, perlengkapan keselamatan, serta teknik yang terus berkembang. Namun, di Inggris terdapat tradisi yang justru mempertahankan kesederhanaan sekaligus menghadirkan risiko tinggi. Namanya Cooper’s Hill Cheese-Rolling and Wake.

Tradisi tersebut berlangsung di Cooper’s Hill, Gloucestershire, setiap akhir pekan pada bulan Mei. Puluhan peserta berkumpul bukan untuk memperebutkan medali atau hadiah uang dalam jumlah besar. Mereka turun ke lereng bukit demi satu tujuan: mengejar roda keju yang meluncur deras dari puncak.

Aturan perlombaannya terdengar sederhana. Sebuah roda keju Double Gloucester dengan berat sekitar 3 hingga 4 kilogram dilepaskan dari atas bukit. Setelah keju bergerak, peserta segera meluncur mengejarnya hingga garis finis.

Namun, kesederhanaan aturan itu berbanding terbalik dengan medan yang dihadapi. Lereng Cooper’s Hill memiliki kemiringan yang dapat mencapai sekitar 45 derajat. Permukaannya juga tidak rata sehingga peserta sulit mempertahankan keseimbangan.

Menurut laporan BBC News yang dikutip dalam referensi, laju roda keju dapat mencapai lebih dari 110 kilometer per jam. Kecepatan tersebut membuat peserta nyaris tidak mungkin berlari secara normal. Banyak yang justru terjatuh, terguling, terpental, atau meluncur tanpa kendali mengikuti kontur bukit.

Di situlah daya tarik Cheese Rolling berada. Tradisi ini memadukan keberanian, spontanitas, dan unsur komedi yang muncul secara alami. Bagi penonton, setiap peserta yang berusaha mengejar keju menjadi tontonan mendebarkan sekaligus menghibur.

The Guardian dalam ulasannya menggambarkan bagaimana kondisi medan membuat para peserta lebih banyak berguling daripada berlari. Tidak sedikit pula yang harus berjuang menjaga tubuh agar tetap mengarah ke bawah bukit setelah kehilangan keseimbangan.

Risikonya bukan perkara sepele. Cedera seperti keseleo, benturan keras, hingga patah tulang bisa terjadi. Karena itu, tim penyelamat lokal dan klub rugbi setempat biasanya bersiaga di bagian bawah bukit. Mereka bertugas mengantisipasi peserta yang meluncur terlalu cepat atau mengalami cedera saat perlombaan berakhir.

Tradisi yang Bertahan Meski Berisiko

Menariknya, Cheese Rolling tidak selalu digelar sebagai kegiatan resmi pemerintah daerah. Faktor keselamatan dan persoalan asuransi menjadi salah satu alasan tradisi tersebut berada dalam posisi yang unik. Meski demikian, antusiasme warga lokal dan wisatawan dari berbagai negara tidak surut.

Setiap tahun, Cooper’s Hill kembali dipenuhi orang-orang yang datang untuk menyaksikan maupun mengikuti perlombaan. Tradisi ini akhirnya berkembang menjadi fenomena budaya yang dikenal jauh melampaui Gloucestershire.

BBC Travel menyebut hadiah bagi pemenang juga tidak lazim dibandingkan dengan kompetisi olahraga pada umumnya. Tidak ada hadiah uang dengan nominal fantastis. Pemenang membawa pulang roda keju Double Gloucester sekaligus kehormatan sebagai penakluk Cooper’s Hill.

Kesederhanaan hadiah itu justru sejalan dengan karakter Cheese Rolling. Tidak ada kemewahan, peralatan canggih, maupun strategi rumit. Yang ada hanyalah bukit terjal, roda keju, keberanian peserta, dan kerumunan penonton yang menunggu siapa yang mampu mencapai garis finis lebih dulu.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : BBC
olahraga ekstrem Cheese Rolling Cooper’s Hill tradisi Inggris budaya unik