RADAR BANYUWANGI – Pernah berniat hanya melihat-lihat, tetapi akhirnya memasukkan bantal karakter, boneka, aksesori kamar, atau barang berbentuk makanan ke keranjang belanja?
Padahal di rumah masih ada barang serupa.
Fenomena seperti itu cukup mudah ditemui dalam keseharian.
Barang yang sebenarnya bukan kebutuhan utama bisa terasa sulit ditolak ketika tampilannya menggemaskan.
Bentuk membulat, warna pastel, ukuran mungil, hingga wajah karakter yang lucu seolah memiliki daya tarik tersendiri.
Ketertarikan tersebut ternyata tidak selalu sekadar persoalan selera.
Ada mekanisme psikologis yang membantu menjelaskan mengapa manusia cenderung tertarik pada sesuatu yang dianggap menggemaskan.
Kenapa Barang Lucu Sulit Ditolak?
Salah satu konsep yang kerap digunakan untuk menjelaskan respons terhadap kelucuan adalah Kindchenschema atau baby schema.
Konsep ini diperkenalkan oleh ahli etologi Konrad Lorenz untuk menggambarkan karakteristik fisik seperti wajah membulat, dahi relatif besar, dan mata besar yang cenderung dipersepsikan sebagai menggemaskan.
Penelitian eksperimental mengenai baby schema menunjukkan bahwa karakteristik tersebut dapat meningkatkan persepsi terhadap kelucuan sekaligus memengaruhi motivasi seseorang untuk memberikan perhatian dan merawat.
Dalam kehidupan sehari-hari, karakteristik visual serupa tidak hanya ditemukan pada bayi.
Desainer produk juga kerap menggunakannya pada boneka, karakter kartun, aksesori, hingga berbagai benda rumah tangga.
Itulah sebabnya sebuah bantal berbentuk hewan, karakter kartun, buah, makanan, atau benda dengan wajah tersenyum dapat terasa lebih menarik dibandingkan bantal dengan desain biasa.
Bukan Cuma Soal Fungsi
Ketika seseorang membeli bantal baru, pertimbangan awal seharusnya adalah fungsi.
Namun, benda yang menggemaskan dapat memberikan nilai emosional tambahan.
Rahma, mengaku tetap tertarik membeli bantal dengan desain lucu meski di kamarnya sudah tersedia beberapa bantal.
"Kalau melihat bantal karakter atau warna pastel rasanya tetap ingin beli. Selain lucu, barang seperti itu membuat kamar terlihat lebih menarik dan bikin suasana hati senang," ujarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keputusan membeli tidak selalu didasarkan pada kebutuhan fungsional.
Desain, warna, kenangan, dan perasaan yang muncul ketika melihat barang dapat ikut memengaruhi keputusan.
Dalam konteks ini, pembelian barang lucu bisa menjadi bentuk emotional consumption, ketika seseorang memperoleh kepuasan bukan hanya dari manfaat benda, tetapi juga dari pengalaman emosional yang menyertainya.
Namun, bukan berarti setiap orang yang membeli barang lucu sedang melakukan pembelian impulsif.
Preferensi pribadi, kemampuan ekonomi, kebutuhan dekorasi, hingga pengalaman masa lalu turut menentukan keputusan seseorang.
Bantal Lucu Bisa Menjadi Ekspresi Diri
Benda-benda menggemaskan juga memiliki fungsi sebagai bagian dari dekorasi.
Bantal karakter yang diletakkan di atas tempat tidur atau sofa, misalnya, dapat mengubah suasana ruangan tanpa perlu melakukan perubahan besar.
Pilihan tersebut sekaligus bisa menjadi cara seseorang menunjukkan kepribadiannya.
Penggemar karakter kartun tertentu mungkin memilih bantal dengan tokoh favorit.
Sementara itu, orang yang menyukai tampilan minimalis dapat memilih warna lembut atau desain sederhana.
Dengan demikian, barang yang terlihat sepele dapat memiliki fungsi simbolis.
Pemiliknya tidak hanya membeli sebuah benda, tetapi juga memilih elemen yang sesuai dengan selera dan identitas personal.
Ada Peran Kenangan Masa Kecil
Alasan lain yang membuat barang lucu terasa menarik adalah nostalgia.
Bantal berbentuk tokoh kartun, boneka, atau aksesori dengan desain tertentu bisa mengingatkan seseorang pada masa kanak-kanak.
Kenangan tersebut dapat membuat sebuah benda memiliki nilai emosional yang tidak terlihat dari harga atau fungsi fisiknya.
Karena itu, seseorang mungkin rela membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan karena benda tersebut menghadirkan kembali suasana yang terasa akrab dan menyenangkan.
Pengalaman pribadi juga membuat definisi “lucu” tidak selalu sama bagi setiap orang.
Sesuatu yang dianggap menggemaskan oleh seseorang belum tentu memiliki daya tarik serupa bagi orang lain.
Mengapa Rasanya Membuat Mood Lebih Baik?
Benda-benda yang dianggap lucu dapat memunculkan respons emosional positif.
Sejumlah penelitian mengenai kelucuan menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik baby schema dengan perhatian, persepsi kelucuan, serta motivasi untuk mendekati atau merawat.
Namun, hubungan tersebut sebaiknya tidak disederhanakan menjadi anggapan bahwa melihat bantal lucu secara otomatis membuat otak “mengeluarkan hormon bahagia”.
Respons emosional manusia jauh lebih kompleks.
Sistem penghargaan otak, pengalaman pribadi, konteks, dan asosiasi terhadap benda tertentu dapat ikut memengaruhi perasaan yang muncul.
Karena itu, bantal lucu memang dapat menjadi sumber kenyamanan atau kesenangan bagi seseorang, tetapi tidak tepat menganggapnya sebagai terapi psikologis yang berlaku untuk semua orang.
Tetap Perlu Tahu Batas
Masalah baru muncul ketika rasa senang tersebut membuat seseorang terus membeli barang tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan finansial.
Barang yang satu fungsi dengan benda yang sudah dimiliki bisa kembali dibeli hanya karena desainnya berbeda.
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat pengeluaran kecil terakumulasi menjadi jumlah yang cukup besar.
Solusinya bukan harus berhenti membeli barang lucu.
Hobi tersebut tetap dapat dinikmati selama dilakukan secara sadar.
Sebelum membeli, seseorang bisa mempertanyakan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah memiliki fungsi yang jelas, dan apakah pembeliannya sudah masuk dalam anggaran.
Dengan begitu, kesenangan memiliki benda menggemaskan tetap menjadi bagian dari gaya hidup tanpa berubah menjadi kebiasaan belanja yang membebani.
Keinginan membeli bantal karakter atau barang lucu bukan sesuatu yang aneh.
Ada unsur visual, emosi, pengalaman pribadi, nostalgia, dan ekspresi diri yang dapat membuat benda sederhana terasa jauh lebih menarik.
Jadi, jika pernah mengalami situasi “sudah punya, tetapi ingin beli lagi karena lucu”, respons tersebut bukan semata-mata soal tidak bisa menahan diri.
Ada mekanisme psikologis dan pengalaman personal yang ikut membuat sesuatu terlihat begitu sulit untuk dilewatkan.
Editor : Lugas Rumpakaadi