RADAR BANYUWANGI - Gelang manik-manik atau beaded bracelet kembali mencuri perhatian anak muda Banyuwangi.
Aksesori sederhana dengan rangkaian manik warna-warni itu tidak lagi sekadar pelengkap penampilan.
Bagi sebagian anak muda, gelang tersebut menjadi cara untuk menunjukkan karakter, kreativitas, hingga kedekatan dengan orang terdekat.
Warna pastel seperti pink, krem, dan mint menjadi salah satu pilihan yang dapat dipadukan dalam berbagai desain.
Ada pula gelang bernuansa earth tone yang memberikan kesan lebih sederhana.
Variasi bentuk manik membuat aksesori tersebut mudah disesuaikan dengan gaya pemakainya.
Salah satu daya tariknya adalah kemampuan untuk membuat desain secara personal.
Manik berbentuk huruf, misalnya, dapat disusun menjadi nama, inisial, maupun kata tertentu.
Tambahan charm juga bisa digunakan untuk membuat tampilan gelang semakin khas.
Maulanie, salah seorang anak muda yang mengikuti tren tersebut, menilai gelang manik-manik menarik karena memberikan keleluasaan bagi pemakainya untuk menentukan desain sendiri.
“Menurutku gelang manik-manik itu lucu dan bisa dikreasikan sesuai selera. Kita bisa pilih warna sendiri, terus bisa ditambah nama atau huruf juga, jadi lebih personal,” ujar Maulanie, Minggu (10/8).
Konsep personalisasi inilah yang membuat gelang manik-manik berbeda dari aksesori siap pakai pada umumnya.
Pembeli tidak hanya memilih barang yang sudah tersedia, tetapi dapat menentukan kombinasi warna dan elemen yang ingin digunakan.
Tren tersebut juga tidak terlepas dari peran media sosial.
Konten yang memperlihatkan proses merangkai manik, rekomendasi kombinasi warna, hingga video pengemasan pesanan membuat gelang manik-manik semakin mudah ditemukan dan dikenal anak muda.
Media sosial sekaligus menjadi ruang untuk mencari inspirasi.
Desain yang dilihat dalam sebuah unggahan dapat dikembangkan kembali sesuai selera.
Dari sana, muncul berbagai kombinasi warna dan bentuk yang membuat satu gelang bisa memiliki tampilan berbeda dengan gelang lainnya.
Tidak hanya untuk diri sendiri, gelang manik-manik juga kerap digunakan sebagai simbol pertemanan.
Gelang dengan desain serupa dapat diberikan kepada sahabat sebagai friendship bracelet.
Ada pula yang membuat gelang khusus untuk pasangan atau kelompok pertemanan.
Bentuknya yang bisa dibuat berdasarkan warna kesukaan maupun inisial nama membuat gelang tersebut memiliki nilai emosional.
Aksesori sederhana akhirnya dapat menjadi pengingat terhadap seseorang atau sebuah momen.
“Kalau buat hadiah teman juga cocok, karena bisa bikin sesuai warna kesukaan atau pakai inisial nama. Jadi bukan cuma gelang biasa, tapi ada kenangannya,” tambah Maulanie.
Di balik tren aksesori tersebut, terdapat peluang ekonomi yang cukup terbuka bagi anak muda.
Gelang manik-manik dapat dibuat dengan konsep custom sehingga produk yang ditawarkan tidak harus seragam.
Penjual bisa membuat desain berdasarkan permintaan pembeli.
Pemasarannya pun dapat dilakukan secara sederhana melalui media sosial.
Foto produk dapat digunakan untuk membuat katalog, sementara proses pemesanan dan komunikasi dengan pelanggan dilakukan secara daring.
Selain itu, gelang dapat ditawarkan dalam bazar sekolah, kegiatan komunitas, maupun event kreatif.
Harga yang relatif terjangkau turut menjadi salah satu daya tarik.
Gelang manik-manik dapat dijual mulai kisaran Rp5 ribu hingga Rp25 ribu, bergantung pada bahan, desain, serta tingkat kerumitan pembuatannya.
Rentang harga tersebut membuat produk relatif mudah dijangkau, khususnya untuk pembeli yang ingin memiliki aksesori personal tanpa mengeluarkan biaya besar.
Bagi pembuatnya, sistem custom juga memungkinkan harga disesuaikan dengan material dan tingkat kesulitan pengerjaan.
Fenomena gelang manik-manik menunjukkan bagaimana tren aksesori sederhana dapat berkembang mengikuti kreativitas anak muda Banyuwangi.
Perpaduan warna dan manik bukan hanya menghasilkan aksesori, tetapi juga membuka ruang bagi ekspresi diri.
Pada saat yang sama, gelang tersebut dapat memiliki makna yang lebih personal ketika digunakan sebagai hadiah untuk sahabat, pasangan, atau kelompok pertemanan.
Dari aksesori sederhana, muncul pula peluang untuk mengembangkan usaha kreatif dengan modal yang relatif terjangkau.
Editor : Lugas Rumpakaadi