Sudah Tahu Besok Dikumpulkan, Kenapa Malah Main HP? Ini yang Terjadi Saat Menunda Pekerjaan

Mayang Dwi Febrianti • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:59 WIB
Kebiasaan menunda tugas. (Pexels/cottonbro studio)
Kebiasaan menunda tugas. (Pexels/cottonbro studio)

RADAR BANYUWANGI - Besok tugas harus dikumpulkan. Buku sudah terbuka, laptop sudah menyala, tetapi tangan justru sibuk menggulir layar ponsel.

Niatnya hanya sebentar, tetapi satu video berubah menjadi beberapa video. Waktu terus berjalan tanpa terasa.

Ketika malam semakin larut, tugas masih belum selesai. Rasa santai yang sebelumnya dicari lewat ponsel berubah menjadi cemas, panik, bahkan menyesal karena waktu terbuang.

Situasi semacam itu bukan hal asing bagi banyak pelajar. Zahwa, salah seorang pelajar yang kerap berhadapan dengan tenggat tugas, mengaku pernah mengalami kondisi tersebut.

“Sering banget udah tahu tugasnya banyak dan harus dikumpulkan besok, tapi rasanya malas dan cemas duluan pas mau mulai. Akhirnya malah keasyikan main HP buat ngilangin stres, padahal pas malamnya makin kepikiran dan panik sendiri,” ungkapnya.

Kebiasaan menunda pekerjaan seperti yang dialami Zahwa dikenal dalam psikologi sebagai prokrastinasi.

Perilaku ini terjadi ketika seseorang sengaja menangguhkan pekerjaan yang sebenarnya penting, meski sudah mengetahui bahwa keputusan tersebut berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.

Namun, kebiasaan menunda pekerjaan tidak selalu sesederhana persoalan malas atau tidak mampu mengatur waktu.

Bukan Permasalahan Tidak Bisa Mengatur Waktu

Selama ini, orang yang gemar menunda pekerjaan kerap dianggap hanya membutuhkan manajemen waktu yang lebih baik.

Padahal, ada faktor emosional yang dapat mendorong seseorang menghindari sebuah tugas.

Pekerjaan yang terasa sulit, membosankan, membingungkan, atau berisiko menghasilkan kegagalan dapat memunculkan ketidaknyamanan.

Rasa cemas, takut salah, tertekan, hingga khawatir hasil pekerjaan tidak sesuai harapan membuat seseorang enggan memulai.

Pada titik tersebut, aktivitas lain yang memberikan kesenangan secara cepat menjadi lebih menarik.

Ponsel, media sosial, video hiburan, gim, atau kegiatan ringan lainnya bisa menjadi jalan keluar sementara dari perasaan tidak nyaman.

Masalahnya, pekerjaan yang dihindari tidak benar-benar hilang. Tugas tetap menunggu. Bahkan, waktunya semakin sedikit.

Ketika Kenyamanan Sesaat Mengalahkan Deadline

Menunda pekerjaan dapat dipahami sebagai benturan antara keinginan mendapatkan kenyamanan sekarang dan kebutuhan menyelesaikan sesuatu demi kepentingan di masa depan.

Saat berhadapan dengan tugas yang memicu emosi negatif, seseorang cenderung memilih aktivitas yang bisa membuat perasaan lebih nyaman dalam waktu singkat.

Menonton video selama beberapa menit, misalnya, terasa lebih mudah daripada menghadapi tugas yang dianggap berat.

Keputusan tersebut memang dapat mengurangi rasa tidak nyaman untuk sementara.

Namun, ketika tenggat waktu semakin dekat, tekanan justru kembali muncul dengan intensitas lebih besar. Dari sinilah lingkaran menunda pekerjaan dapat terbentuk.

Seseorang menunda pekerjaan karena merasa tidak nyaman. Setelah menunda, pekerjaan semakin menumpuk.

Tumpukan pekerjaan kemudian meningkatkan kecemasan. Karena kembali merasa tertekan, seseorang mencari pelarian lain. Siklus itu terus berulang.

Perfeksionisme Juga Bisa Menjadi Jebakan

Tidak semua orang menunda karena tidak peduli terhadap pekerjaannya.

Pada sebagian orang, justru keinginan menghasilkan sesuatu yang sempurna dapat menjadi alasan pekerjaan tidak kunjung dimulai.

Bayangan mengenai hasil yang tidak sesuai harapan membuat seseorang terlalu banyak berpikir sebelum mengambil langkah pertama.

Akibatnya, pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan secara bertahap justru berhenti pada tahap perencanaan.

Kalimat seperti “nanti kalau sudah siap” atau “harus mencari waktu yang benar-benar pas” akhirnya menjadi alasan untuk terus menunda.

Padahal, pekerjaan yang belum dimulai tidak akan menghasilkan apa pun.

Dampaknya Tidak Berhenti pada Produktivitas

Kebiasaan menunda dapat membuat seseorang kehilangan kendali atas waktu.

Pekerjaan yang semestinya dapat diselesaikan secara bertahap akhirnya harus dikerjakan dalam waktu singkat.

Tekanan kemudian meningkat menjelang deadline. Rasa bersalah dan penyesalan dapat muncul karena waktu sebelumnya digunakan untuk aktivitas yang kurang penting.

Dalam kondisi tertentu, pekerjaan juga berisiko diselesaikan secara terburu-buru.

Akibatnya, kualitas hasil tidak maksimal dan pengalaman tersebut justru dapat memperkuat kecemasan ketika menghadapi tugas berikutnya.

Karena itu, persoalan menunda pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan berapa lama seseorang mengerjakan tugas.

Persoalannya juga menyangkut bagaimana seseorang menghadapi rasa tidak nyaman ketika harus memulai pekerjaan.

Memecah Tugas Besar Menjadi Langkah Kecil

Salah satu cara untuk keluar dari kebiasaan menunda adalah mengurangi beban mental ketika hendak memulai.

Tugas besar tidak harus langsung diselesaikan sekaligus. Pekerjaan dapat dipecah menjadi bagian-bagian kecil yang lebih konkret.

Misalnya, daripada menetapkan target “menyelesaikan seluruh tugas malam ini”, seseorang dapat memulai dengan membaca instruksi, membuat kerangka, mencari bahan pertama, atau menyelesaikan satu bagian.

Langkah kecil tersebut membuat pekerjaan terasa lebih mudah dimulai.

Setelah momentum terbentuk, proses berikutnya biasanya menjadi lebih ringan.

Yang tidak kalah penting adalah berhenti menjadikan kesalahan sebelumnya sebagai alasan untuk terus menunda.

Pernah gagal mengatur waktu bukan berarti seseorang harus mengulangi pola yang sama.

Memulai kembali dari pekerjaan paling kecil dapat menjadi cara sederhana untuk memutus siklus tersebut.

Mengatasi prokrastinasi bukan hanya dengan memaksa diri menjadi lebih disiplin.

Ada proses menghadapi ketidaknyamanan dan belajar memulai meski pekerjaan belum terasa sempurna.

Sebab, dalam banyak kasus, bagian tersulit dari sebuah tugas bukanlah menyelesaikannya, melainkan berani mengerjakannya untuk pertama kali.

Editor : Lugas Rumpakaadi
prokrastinasi kebiasaan menunda kesehatan mental Pelajar psikologi