RADARBANYUWANGI.ID - Pernah mengalami lupa tujuan saat memasuki sebuah ruangan, sulit menemukan kata yang ingin diucapkan, atau merasa pikiran seperti tertutup kabut sehingga sulit berkonsentrasi? Kondisi tersebut belakangan semakin sering dialami banyak orang dan dikenal dengan istilah brain fog atau kabut otak.
Meski bukan termasuk diagnosis medis resmi, brain fog merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekumpulan gejala berupa penurunan fungsi kognitif ringan. Penderitanya dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, lambat memproses informasi, hingga merasa linglung saat menjalankan aktivitas sehari-hari.
Fenomena ini dinilai semakin banyak muncul seiring perubahan pola hidup masyarakat modern yang tidak lepas dari perangkat digital. Aktivitas yang berlangsung cepat, tuntutan pekerjaan, serta banjir informasi setiap hari membuat otak bekerja tanpa jeda dalam waktu yang panjang.
Salah satu faktor utama yang memicu brain fog adalah information overload atau kelebihan beban informasi. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Cognitive Neuroscience menjelaskan bahwa kapasitas working memory atau memori kerja manusia memiliki batas biologis.
Ketika otak terus-menerus menerima notifikasi, berita, pesan instan, hingga konsumsi video berdurasi pendek secara berulang, kemampuan untuk memilah dan mengolah informasi menjadi semakin menurun. Akibatnya, otak lebih mudah mengalami kelelahan sehingga konsentrasi dan daya ingat ikut terganggu.
Tidak hanya dipengaruhi aktivitas digital, brain fog juga berkaitan dengan kondisi fisik yang sering diabaikan. Kurangnya kualitas tidur, tingginya tingkat stres, serta pola makan yang didominasi makanan olahan dan tinggi gula menjadi faktor yang memperburuk fungsi kognitif.
Publikasi dari Harvard Health Publishing menjelaskan bahwa kurang tidur kronis dan stres berkepanjangan dapat meningkatkan produksi hormon kortisol. Kondisi tersebut berpotensi memicu peradangan tingkat rendah dalam tubuh yang berdampak terhadap fungsi saraf di otak.
Selain itu, tubuh yang kelelahan juga menyebabkan sirkulasi darah dan suplai oksigen menuju otak menjadi kurang optimal. Dampaknya, seseorang lebih mudah mengalami kelelahan mental, sulit fokus, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir maupun mengambil keputusan.
Mengatasi brain fog tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Perubahan gaya hidup menjadi kunci utama untuk mengembalikan kemampuan otak bekerja secara optimal.
Membatasi durasi penggunaan gawai, memberi jeda istirahat dari layar di sela aktivitas, mencukupi waktu tidur setiap malam, rutin berolahraga, serta mengonsumsi makanan bergizi dapat membantu memulihkan kejernihan berpikir.
Editor : Lugas Rumpakaadi