RADARBANYUWANGI.ID - Kemajuan teknologi digital terus mengubah pola interaksi masyarakat. Kehadiran media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang berbagi aktivitas, memperoleh informasi, hingga mengikuti berbagai tren yang sedang ramai diperbincangkan.
Media sosial memungkinkan pengguna berinteraksi tanpa batas ruang dan waktu. Tingginya partisipasi pengguna membuat arus informasi bergerak sangat cepat. Berbagai isu, berita, maupun konten viral silih berganti menjadi perhatian publik setiap hari.
Di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin sering dialami masyarakat, khususnya generasi Z, yakni Fear of Missing Out (FOMO). Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa cemas karena takut tertinggal informasi, tren, maupun pengalaman yang sedang dinikmati orang lain.
Generasi Z menjadi kelompok yang paling rentan mengalami FOMO karena tumbuh bersamaan dengan pesatnya perkembangan teknologi digital. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi membuat mereka terdorong untuk terus terhubung agar tidak merasa tertinggal dari percakapan yang sedang berkembang.
Fenomena tersebut tidak hanya memicu rasa penasaran terhadap informasi terbaru, tetapi juga mendorong kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial. Kondisi ini berpotensi menurunkan rasa percaya diri sekaligus mengurangi kepuasan terhadap kehidupan pribadi.
Sejumlah faktor menjadi pemicu munculnya FOMO, mulai dari paparan media sosial yang hampir tanpa batas, keinginan memperoleh pengakuan dari lingkungan, dorongan untuk tampil menonjol, hingga rendahnya kepercayaan diri. Kombinasi faktor tersebut membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti perkembangan agar tetap dianggap relevan dalam pergaulan.
Dampak FOMO tidak berhenti pada aspek psikologis. Dalam kehidupan sosial, fenomena ini dapat memunculkan ketakutan dikucilkan oleh kelompok pertemanan, tekanan untuk mengikuti tren tertentu demi mendapatkan perhatian, hingga munculnya kesenjangan sosial akibat perbedaan gaya hidup maupun preferensi.
Para ahli psikologi menjelaskan bahwa FOMO merupakan bentuk kecemasan sosial yang muncul karena dorongan untuk terus terhubung dengan orang lain serta rasa takut kehilangan pengalaman yang dianggap penting. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stres, menurunkan produktivitas, mengganggu kualitas tidur, bahkan memicu depresi.
Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan menggunakan media sosial secara lebih bijak. Membatasi waktu penggunaan gawai, menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, serta memperkuat hubungan sosial di dunia nyata menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko FOMO.
Selain itu, penting menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah perbedaan. Kesadaran bahwa tidak semua tren harus diikuti dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat, harmonis, dan mendukung kesehatan mental masyarakat di era digital.
Editor : Lugas Rumpakaadi