Di Tengah Gempuran AI, Buku Fisik Tetap Jadi Pilihan Pembaca Novel

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 12:16 WIB
Di tengah pesatnya perkembangan AI dan media digital, buku fisik tetap diminati. (Pexels/Nhà văn)
Di tengah pesatnya perkembangan AI dan media digital, buku fisik tetap diminati. (Pexels/Nhà văn)

RADARBANYUWANGI.ID - Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan media digital belum mampu menggeser daya tarik buku fisik di kalangan pencinta literasi. Di tengah kemudahan memperoleh informasi melalui gawai, masih banyak masyarakat yang memilih menyisihkan waktu dan biaya untuk membeli serta membaca novel dalam bentuk cetak.

Bagi para pembaca novel, aktivitas membaca tidak hanya menjadi sarana mengisi waktu luang. Membuka lembar demi lembar buku juga menjadi cara menikmati alur cerita secara lebih mendalam sekaligus memberi ruang bagi imajinasi untuk berkembang. Berbeda dengan film maupun media visual, novel menghadirkan pengalaman yang memungkinkan setiap pembaca membangun sendiri gambaran tokoh, suasana, hingga dunia yang diceritakan.

Salah seorang pembaca novel, Awa, mengatakan kegemarannya membaca berawal dari ketertarikan sederhana terhadap buku. Menurutnya, membaca novel masih memiliki manfaat yang sulit digantikan oleh media digital.

"Simple reason sih, karena aku suka aja. Aku lebih ke baca novel sih, karena juga di zaman sekarang, apalagi di era digital, peminat baca buku itu minim banget. Padahal, kita baca buku tuh membantu otak kita membaca dan memahami tulisan dengan cepat. Dan juga imajinasi kita jauh lebih terbuka," ujarnya, Jumat (31/7/2026).

Awa menilai membaca buku tidak hanya meningkatkan kemampuan memahami bacaan, tetapi juga melatih otak untuk memproses informasi secara lebih baik. Kebiasaan tersebut dinilai penting di tengah derasnya arus informasi yang terus mengalir melalui berbagai platform digital.

Selain itu, membaca novel juga menjadi alternatif untuk beristirahat sejenak dari paparan media sosial. Tanpa gangguan notifikasi maupun algoritma yang terus menghadirkan konten baru, pembaca dapat menikmati setiap bagian cerita dengan lebih tenang dan fokus.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemajuan AI dan teknologi digital tidak serta-merta menghilangkan eksistensi buku fisik. Bagi sebagian masyarakat, buku justru menjadi ruang untuk memperlambat ritme kehidupan sekaligus mengasah kreativitas dan memperluas imajinasi melalui setiap cerita yang dibaca.

Editor : Lugas Rumpakaadi
buku fisik