RADARBANYUWANGI.ID - Penggunaan kemasan ramah lingkungan kini semakin mudah ditemui di Banyuwangi. Mulai kedai kopi, usaha kuliner, jasa katering, hingga gerai ritel modern perlahan meninggalkan plastik sekali pakai dan menggantinya dengan paper bowl, paper container bersertifikasi food grade, kantong berbahan pati singkong (cassava bag), hingga tas belanja pakai ulang. Fenomena tersebut bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjadi bagian dari perubahan cara pelaku usaha menjawab tuntutan konsumen yang semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Perubahan itu juga terjadi secara nasional. Berbagai sektor bisnis, mulai perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG), jaringan restoran cepat saji, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kini menjadikan penggunaan kemasan berkelanjutan sebagai standar operasional. Selain mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan citra usaha sekaligus memenuhi ekspektasi pasar yang terus berkembang.
Meningkatnya penggunaan kemasan ramah lingkungan tidak terlepas dari perubahan perilaku konsumen. Berdasarkan hasil riset Statista Consumer Insights, Indonesia menempati posisi tertinggi di Asia dalam tingkat kepedulian terhadap kemasan ramah lingkungan. Sebanyak 42 persen konsumen menjadikan aspek ekologis sebagai salah satu pertimbangan utama saat membeli kebutuhan harian maupun makanan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemasan kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai pelindung produk. Bagi banyak konsumen, terutama di perkotaan, jenis kemasan turut mencerminkan komitmen sebuah merek terhadap keberlanjutan dan pengurangan sampah plastik.
Dukungan terhadap praktik bisnis berkelanjutan juga semakin kuat di kalangan generasi muda. Berdasarkan survei Jakpat yang dipublikasikan Katadata, mayoritas responden muda aktif mencari produk yang menggunakan kemasan ramah lingkungan. Bahkan, sebanyak 76 persen di antaranya menyatakan bersedia membayar lebih untuk mendukung merek yang menerapkan praktik berkelanjutan.
Kecenderungan tersebut menjadi sinyal bahwa keputusan pembelian kini tidak hanya dipengaruhi harga dan kualitas produk, tetapi juga nilai yang diusung sebuah merek, termasuk kepeduliannya terhadap lingkungan.
Pandangan itu juga dirasakan konsumen di Banyuwangi. Anisatul Septi, 16, mengaku mulai memperhatikan jenis kemasan saat membeli makanan.
"Sekarang kalau pesan makanan atau belanja, saya lebih tenang kalau kemasannya pakai paper bowl atau kantong berbahan singkong. Rasanya lebih bersih, rapi, dan yang paling penting nggak nambah-nambahin tumpukan sampah plastik di rumah," ujarnya.
Perkembangan teknologi produksi membuat kemasan ramah lingkungan semakin mudah diperoleh dengan harga yang lebih kompetitif. Kondisi ini mendorong semakin banyak pelaku usaha mengadopsinya dalam kegiatan operasional sehari-hari.
Pada sektor layanan pesan antar makanan dan restoran cepat saji, penggunaan paper container food grade kini semakin dominan menggantikan wadah styrofoam maupun mika plastik. Selain dinilai lebih aman untuk makanan, kemasan berbahan kertas juga lebih mudah didaur ulang.
Di sektor ritel modern dan UMKM, penggunaan cassava bag sebagai pengganti kantong plastik konvensional semakin banyak dijumpai. Sementara itu, tas kain yang dapat digunakan berulang kali juga menjadi pilihan untuk mengurangi limbah plastik.
Tidak hanya itu, pelaku usaha katering dan penyelenggara acara berskala besar mulai memanfaatkan wadah berbahan ampas tebu maupun pelepah tanaman. Material tersebut dikenal kuat menahan makanan panas maupun cairan, tetapi tetap mudah terurai sehingga tidak meninggalkan limbah mikroplastik.
Editor : Lugas Rumpakaadi