Studi Ungkap Fasted Cardio Tak Lebih Efektif Turunkan Berat Badan, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 15:18 WIB
Olahraga saat perut kosong atau fasted cardio tidak terbukti lebih efektif menurunkan berat badan. (Pexels/Asso Myron)
Olahraga saat perut kosong atau fasted cardio tidak terbukti lebih efektif menurunkan berat badan. (Pexels/Asso Myron)

RADARBANYUWANGI.ID - Olahraga saat perut kosong atau fasted cardio masih menjadi pilihan banyak orang yang ingin menurunkan berat badan. Metode ini dipercaya mampu membakar lemak lebih cepat dibandingkan olahraga setelah makan. Namun, sejumlah penelitian medis justru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Berbagai riset menyimpulkan, olahraga saat perut kosong memang membuat tubuh menggunakan lebih banyak lemak sebagai sumber energi selama latihan berlangsung. Namun, kondisi itu tidak otomatis menghasilkan penurunan berat badan yang lebih besar dalam jangka panjang. Faktor yang paling menentukan tetaplah total defisit kalori harian, bukan apakah seseorang berolahraga sebelum atau sesudah makan.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan program penurunan berat badan lebih bergantung pada pola makan yang seimbang, aktivitas fisik yang konsisten, dan gaya hidup sehat secara menyeluruh.

Kesimpulan tersebut didukung penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the International Society of Sports Nutrition serta tinjauan sistematis di British Journal of Nutrition.

Kedua publikasi ilmiah itu menemukan bahwa ketika total asupan kalori harian dibuat sama, tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada penurunan lemak tubuh antara orang yang berolahraga dalam kondisi perut kosong dan mereka yang telah mengonsumsi makanan sebelum latihan.

Artinya, pembakaran lemak yang lebih tinggi saat sesi olahraga tidak selalu berujung pada penurunan berat badan yang lebih besar.

Secara biologis, tubuh memang memiliki kecenderungan menggunakan cadangan lemak sebagai bahan bakar ketika kadar glukosa dan glikogen sedang rendah, seperti saat belum makan.

Karena itu, selama sesi fasted cardio, persentase lemak yang digunakan sebagai sumber energi relatif lebih tinggi dibandingkan olahraga setelah makan.

Namun, penelitian lanjutan menunjukkan tubuh akan melakukan mekanisme kompensasi. Setelah seseorang kembali mengonsumsi makanan, laju pembakaran lemak akan menurun sehingga total lemak dan kalori yang dibakar selama sekitar 24 jam tetap relatif sama.

Dengan kata lain, kondisi perut kosong hanya memengaruhi jenis bahan bakar yang digunakan saat latihan, bukan total lemak tubuh yang hilang dalam jangka panjang.

Pakar kebugaran dan berbagai penelitian sepakat bahwa penurunan berat badan terjadi ketika jumlah kalori yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan kalori yang masuk.

Karena itu, seseorang tetap dapat menurunkan berat badan meski tidak pernah melakukan fasted cardio, selama mampu menjaga defisit kalori secara konsisten melalui pola makan dan aktivitas fisik.

Sebaliknya, olahraga saat perut kosong tidak akan memberikan hasil optimal apabila asupan kalori harian tetap berlebihan.

Meski tidak terbukti lebih efektif memangkas lemak tubuh, fasted cardio bukan berarti tidak memiliki manfaat.

Riset yang dipublikasikan National Institutes of Health (NIH) menunjukkan olahraga sebelum makan berpotensi meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu memperbaiki respons tubuh terhadap glukosa darah pada sebagian orang.

Manfaat tersebut lebih berkaitan dengan kesehatan metabolik dibandingkan efektivitas dalam menurunkan berat badan. Karena itu, metode ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi individu tertentu sesuai kondisi kesehatan dan tujuan latihan.

Di balik manfaat tersebut, olahraga saat perut kosong juga memiliki risiko apabila dilakukan secara berlebihan.

Tim redaksi medis Alodokter yang ditinjau dr. Kevin Adrian menjelaskan bahwa fasted cardio relatif aman jika dilakukan dengan intensitas ringan dan durasi singkat.

Namun, latihan berat tanpa asupan makanan dapat memicu hipoglikemia yang ditandai gejala pusing, tubuh lemas, gemetar, sulit berkonsentrasi, hingga pingsan. Dalam kondisi tertentu, tubuh juga dapat memecah protein otot sebagai sumber energi ketika cadangan karbohidrat mulai menipis.

Peringatan serupa disampaikan American College of Sports Medicine (ACSM). Organisasi tersebut menyebut latihan intensitas tinggi tanpa asupan karbohidrat yang memadai berpotensi menurunkan performa secara drastis sekaligus meningkatkan pemecahan massa otot.

Olahraga saat perut kosong tidak disarankan bagi semua orang.

Masyarakat yang memiliki riwayat diabetes, sering mengalami gula darah rendah, sedang hamil, memiliki kondisi medis tertentu, atau baru memulai program olahraga sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mencoba metode ini.

Sebaliknya, bagi orang sehat, fasted cardio umumnya masih dapat dilakukan selama memilih latihan ringan dan memperhatikan respons tubuh.

Editor : Lugas Rumpakaadi
fasted cardio