RADARBANYUWANGI.ID - Gaya berpakaian yang lahir dari tribun stadion sepak bola Eropa kini semakin mudah dijumpai di berbagai kota di Indonesia. Perpaduan jaket Stone Island dengan sepatu Adidas menjadi salah satu kombinasi streetwear yang tengah digemari anak muda, pencinta fashion, hingga suporter sepak bola. Tidak hanya dikenakan saat menonton pertandingan, gaya tersebut kini merambah tempat nongkrong, pusat perbelanjaan, hingga aktivitas sehari-hari.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa streetwear berbasis subkultur tidak lagi sekadar mengikuti tren musiman. Banyak anak muda mulai memilih busana yang memiliki cerita, identitas, sekaligus fungsi yang mendukung aktivitas di luar ruangan.
Popularitas kombinasi Stone Island dan Adidas berakar dari budaya terrace fashion yang berkembang di tribun stadion Inggris dan Eropa sejak dekade 1980-an. Saat itu, para suporter mulai meninggalkan atribut tim yang mencolok dan beralih mengenakan pakaian kasual dari merek premium dengan tampilan lebih sederhana, tetapi tetap berkelas.
Gaya tersebut kemudian dikenal sebagai kultur casuals. Dalam perkembangannya, fashion tidak hanya menjadi pelengkap saat mendukung klub kesayangan, tetapi juga menjadi simbol identitas komunitas yang mengutamakan kerapian, kenyamanan, dan karakter.
Melalui perkembangan media sosial, khususnya TikTok, Instagram, dan berbagai komunitas fashion, gaya tersebut kini semakin dikenal generasi muda Indonesia. Konten mengenai inspirasi outfit stadion maupun matchday outfit turut mendorong meningkatnya minat terhadap perpaduan dua merek tersebut.
Daya tarik utama kombinasi ini terletak pada keseimbangan antara desain dan fungsi. Jaket Stone Island dikenal melalui patch kompas ikonik di lengan kiri yang menjadi identitas merek tersebut. Selain tampil khas, material yang digunakan juga dirancang tahan terhadap angin dan perubahan cuaca sehingga cocok dikenakan di area terbuka, termasuk tribun stadion.
Di sisi lain, sepatu Adidas seri Samba, Spezial, Gazelle, hingga Campus menawarkan desain klasik yang tetap relevan lintas generasi. Sol yang nyaman membuat penggunanya tetap leluasa berjalan maupun berdiri dalam waktu lama ketika menghadiri pertandingan ataupun mengikuti kegiatan luar ruangan.
Perpaduan keduanya menghasilkan tampilan kasual yang sederhana, tetapi tetap berkarakter. Karena itu, banyak pencinta fashion menilai kombinasi tersebut mampu menghadirkan kesan eksklusif tanpa terlihat berlebihan.
Kini, gaya casuals tidak lagi terbatas pada lingkungan stadion. Di berbagai kota, termasuk Banyuwangi, tampilan serupa mulai terlihat dikenakan saat acara nonton bareng pertandingan sepak bola, pertemuan komunitas, hingga sekadar berkumpul di kafe.
Fleksibilitas menjadi salah satu alasan tren ini terus berkembang. Jaket Stone Island mudah dipadukan dengan celana jeans, chino, maupun cargo, sementara sepatu Adidas klasik mampu melengkapi berbagai pilihan busana tanpa kehilangan karakter.
Selain menunjang penampilan, kombinasi tersebut juga memberikan kenyamanan bagi pengguna yang menghabiskan waktu berjam-jam di luar ruangan.
Meski memiliki harga yang relatif tinggi dibanding produk fesyen pada umumnya, banyak penggemar streetwear menganggap kedua produk tersebut sebagai investasi jangka panjang.
Material teknis pada jaket Stone Island dikenal memiliki daya tahan tinggi apabila dirawat dengan baik. Demikian pula seri sepatu klasik Adidas yang tetap diminati selama bertahun-tahun karena desainnya tidak mudah tergerus perubahan tren.
Kondisi tersebut membuat banyak kolektor maupun pencinta fashion memilih membeli produk secara bertahap dibanding terus mengikuti tren yang cepat berganti.
Salah satu penikmat fashion dan budaya tribun, Rafika, mengaku masih mempertimbangkan untuk membeli jaket Stone Island karena faktor harga. Namun, menurutnya kualitas dan tampilan yang ditawarkan sebanding dengan nilai yang harus dikeluarkan.
"Jujur sampai sekarang saya masih menimbang-nimbang buat beli jaket Stone Island karena harganya memang tergolong lumayan mahal. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, perpaduannya sama sepatu Adidas pas nonton bola itu memang keren banget dan bahannya sepadan, jadi masuk daftar impian banget," ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan sebagian anak muda yang mulai melihat produk fashion bukan hanya sebagai pelengkap penampilan, melainkan sebagai barang dengan nilai pakai yang panjang.
Pengamat tren fashion menilai gaya berbasis subkultur memiliki peluang bertahan lebih lama dibanding tren musiman karena dibangun atas sejarah, komunitas, dan identitas yang kuat.
Selama budaya sepak bola terus berkembang dan komunitas streetwear semakin aktif, kombinasi Stone Island dan Adidas diperkirakan tetap menjadi salah satu referensi utama bagi anak muda yang ingin tampil kasual tanpa meninggalkan kesan premium.
Editor : Lugas Rumpakaadi