Jangan Asal Mendiagnosis Diri, Tren Self-Diagnosis di Media Sosial Bisa Berdampak Buruk bagi Kesehatan Mental

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 09:48 WIB
Konten kesehatan mental di media sosial meningkatkan kesadaran masyarakat. (IFG Life)
Konten kesehatan mental di media sosial meningkatkan kesadaran masyarakat. (IFG Life)

RADARBANYUWANGI.ID - Konten edukasi kesehatan mental kini membanjiri berbagai platform media sosial. Video berdurasi singkat yang membahas gejala kecemasan, depresi, hingga gangguan perhatian berhasil meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan jiwa. Namun di balik manfaat tersebut, muncul fenomena yang semakin mengkhawatirkan, yakni kebiasaan melakukan self-diagnosis atau mendiagnosis kondisi mental sendiri hanya berdasarkan informasi yang diperoleh dari internet.

Fenomena ini menjadi perhatian karena diagnosis gangguan mental tidak dapat dilakukan hanya dengan mencocokkan beberapa gejala yang dirasakan dengan isi konten media sosial. Kondisi psikologis seseorang memiliki banyak faktor yang harus dievaluasi secara menyeluruh melalui pemeriksaan profesional.

Meningkatnya konten kesehatan mental membawa dampak positif dalam mengurangi stigma terhadap gangguan kejiwaan. Masyarakat kini lebih terbuka membicarakan kesehatan psikologis dan semakin terdorong mencari informasi mengenai gejala maupun cara menjaga kesehatan mental.

Kajian Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa paparan informasi kesehatan jiwa di ruang digital terus meningkat. Sayangnya, derasnya arus informasi tersebut belum selalu diikuti kemampuan masyarakat dalam memahami batas antara edukasi dan diagnosis medis.

Akibatnya, tidak sedikit pengguna media sosial yang langsung menyimpulkan dirinya mengalami gangguan kecemasan, depresi, atau gangguan pemusatan perhatian hanya karena menemukan beberapa gejala yang dianggap mirip dengan pengalaman pribadi.

Menyamakan pengalaman pribadi dengan informasi di media sosial bukanlah cara yang tepat untuk memastikan seseorang mengalami gangguan mental tertentu.

Dalam praktiknya, diagnosis kesehatan mental dilakukan melalui proses yang komprehensif. Psikolog maupun psikiater akan melakukan wawancara, observasi, menggali riwayat kesehatan, kondisi sosial, hingga berbagai faktor lain sebelum menyimpulkan kondisi seseorang.

Artinya, gejala yang tampak serupa belum tentu berasal dari gangguan yang sama. Keluhan sulit tidur, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, atau perubahan suasana hati dapat dipengaruhi berbagai kondisi, baik psikologis maupun fisik.

Kebiasaan melakukan self-diagnosis dapat memunculkan berbagai dampak negatif.

Salah satunya adalah munculnya kecemasan berlebihan akibat meyakini diri mengidap gangguan tertentu tanpa adanya pemeriksaan medis. Kekhawatiran yang terus dipelihara justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis seseorang.

Berbagai artikel edukasi kesehatan yang dipublikasikan KlikDokter dan Halodoc juga mengingatkan bahwa self-diagnosis dapat mendorong seseorang mengambil langkah penanganan yang keliru, seperti mencoba terapi secara mandiri atau mengonsumsi obat tanpa rekomendasi tenaga kesehatan. Tindakan tersebut berisiko tidak menyelesaikan masalah, bahkan dapat memperburuk kondisi yang sebenarnya.

Fenomena lain yang mulai terlihat ialah penggunaan istilah psikologi secara berlebihan dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah orang dengan mudah melabeli dirinya memiliki gangguan tertentu untuk menjelaskan kebiasaan menunda pekerjaan, sulit mengendalikan emosi, atau perilaku lain yang sebenarnya belum tentu berkaitan dengan gangguan mental.

Kondisi tersebut justru dapat membuat seseorang terlambat mencari pertolongan profesional karena merasa telah mengetahui penyebab masalahnya sendiri.

Media sosial tetap memiliki peran penting sebagai sarana edukasi kesehatan mental. Informasi yang beredar dapat menjadi langkah awal untuk mengenali gejala maupun memahami pentingnya menjaga kesehatan jiwa.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa edukasi digital bukanlah pengganti konsultasi medis. Informasi yang ditemukan di internet sebaiknya digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan pengetahuan, bukan sebagai dasar menetapkan diagnosis.

Apabila keluhan psikologis dirasakan terus-menerus, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau semakin memburuk, langkah yang tepat adalah berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar memperoleh pemeriksaan yang menyeluruh serta penanganan yang sesuai.

Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental merupakan perkembangan positif yang perlu terus didukung. Namun, meningkatnya literasi harus berjalan seiring dengan kemampuan menyaring informasi secara kritis.

Memahami bahwa media sosial hanya berfungsi sebagai sarana edukasi, sementara diagnosis hanya dapat ditegakkan oleh tenaga profesional, menjadi langkah penting agar masyarakat tidak terjebak dalam prasangka terhadap kondisi dirinya sendiri.

Editor : Lugas Rumpakaadi
self-diagnosis kesehatan mental media sosial