Coffee Shop Kini Jadi Kantor Kedua, Mengapa Banyak Pekerja Memilih Bekerja di Kedai Kopi?

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 09:30 WIB
Coffee shop kini tak lagi sekadar tempat nongkrong. (Unsplash/Nafinia Putra)
Coffee shop kini tak lagi sekadar tempat nongkrong. (Unsplash/Nafinia Putra)

RADARBANYUWANGI.ID - Laptop terbuka di setiap sudut meja, rapat virtual berlangsung melalui headphone, sementara aroma kopi dan suara mesin espresso berpadu dengan percakapan ringan pengunjung. Pemandangan seperti itu kini semakin mudah ditemui di berbagai coffee shop. Tempat yang dahulu identik sebagai lokasi bersantai kini berkembang menjadi ruang kerja alternatif bagi pekerja era digital.

Seiring berkembangnya sistem kerja hybrid dan full remote pascapandemi, semakin banyak freelancer, pekerja kreatif, konsultan, hingga karyawan perusahaan memilih menjalankan aktivitas kerja dari kedai kopi. Tren work from cafe pun menjadi bagian dari perubahan gaya hidup pekerja urban yang mengutamakan fleksibilitas sekaligus kenyamanan.

Perubahan pola kerja membuat definisi ruang kerja ikut bergeser. Jika sebelumnya kantor menjadi pusat seluruh aktivitas profesional, kini pekerjaan dapat diselesaikan hampir di mana saja selama tersedia koneksi internet yang memadai.

Coffee shop menjadi salah satu pilihan karena menawarkan fasilitas yang mendukung produktivitas, mulai dari akses Wi-Fi, stopkontak, meja yang nyaman, hingga suasana yang lebih santai dibandingkan kantor konvensional.

Bagi sebagian pekerja, bekerja di rumah dalam waktu lama justru memunculkan kejenuhan. Rutinitas yang monoton dapat menurunkan konsentrasi dan membuat ide kreatif sulit berkembang. Berpindah ke lingkungan baru menjadi salah satu cara untuk menyegarkan pikiran sekaligus menjaga semangat menyelesaikan pekerjaan.

Tidak hanya menghadirkan suasana berbeda, coffee shop juga menawarkan lingkungan yang dinilai mampu membantu seseorang lebih fokus.

Dalam kajian psikologi, dikenal konsep ambient noise, yakni kebisingan latar belakang dengan intensitas sedang yang dapat merangsang kreativitas dan kemampuan berpikir. Suara mesin kopi, dentingan cangkir, hingga percakapan ringan menciptakan atmosfer yang tidak terlalu sunyi, tetapi juga tidak mengganggu konsentrasi.

Selain itu, keberadaan orang lain yang sama-sama terlihat sibuk bekerja turut memberikan dorongan psikologis. Fenomena yang dikenal sebagai social facilitation membuat sebagian orang merasa lebih termotivasi untuk tetap produktif ketika berada di lingkungan yang juga dipenuhi aktivitas.

Tak heran jika banyak pekerja mengaku lebih mudah menyelesaikan laporan, mengolah desain, mengikuti rapat daring, hingga menyusun ide proyek ketika bekerja dari coffee shop dibandingkan berada di rumah.

Di balik berbagai keuntungan tersebut, kebiasaan work from cafe juga memiliki sejumlah tantangan.

Pengeluaran harian menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Secangkir kopi, camilan, biaya parkir, hingga transportasi memang terlihat kecil jika dihitung sekali kunjungan. Namun apabila dilakukan hampir setiap hari, total pengeluaran bulanan dapat meningkat tanpa disadari.

Selain persoalan biaya, muncul pula pembahasan mengenai etika menggunakan fasilitas coffee shop. Tidak sedikit pelanggan yang menempati meja selama berjam-jam hanya dengan membeli satu minuman. Kondisi tersebut kerap menjadi perhatian pemilik usaha, terutama ketika jumlah pengunjung sedang ramai dan banyak pelanggan lain kesulitan mendapatkan tempat duduk.

Karena itu, pekerja yang memilih menjadikan coffee shop sebagai kantor kedua perlu tetap menghargai pelaku usaha dengan berbelanja secara wajar dan menggunakan fasilitas secara bijaksana.

Fenomena coffee shop sebagai ruang kerja alternatif mencerminkan perubahan budaya kerja di era digital. Produktivitas kini tidak lagi selalu identik dengan ruang kantor yang formal. Banyak pekerja justru merasa lebih nyaman bekerja di tempat yang mampu menghadirkan suasana santai tanpa mengurangi fokus terhadap pekerjaan.

Di berbagai daerah, termasuk kota-kota yang terus berkembang seperti Banyuwangi, tren ini juga berpotensi menjadi peluang bagi pelaku usaha kedai kopi. Penyediaan internet cepat, area kerja yang nyaman, serta fasilitas pendukung lainnya dapat menjadi nilai tambah untuk menarik pelanggan dari kalangan pekerja fleksibel.

Meski demikian, keseimbangan tetap menjadi kunci. Coffee shop dapat menjadi ruang kerja yang ideal selama pekerja mampu mengatur waktu, menjaga etika sebagai pelanggan, serta mengelola pengeluaran agar kebiasaan tersebut tidak membebani kondisi keuangan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
coffee shop work from cafe kerja hybrid