RADARBANYUWANGI.ID - Menghias kuku atau nail art masih menjadi salah satu tren kecantikan yang diminati masyarakat, khususnya kalangan muda. Seiring meningkatnya minat tersebut, layanan nail art kini semakin mudah dijumpai, mulai dari salon kecantikan hingga jasa nail artist rumahan yang menawarkan beragam pilihan desain dengan kisaran harga yang bervariasi.
Kemudahan mengakses inspirasi melalui media sosial juga ikut memengaruhi tren yang berkembang. Banyak pelanggan datang membawa contoh desain dari TikTok, Instagram, maupun Pinterest sebagai referensi sebelum melakukan perawatan kuku.
Menariknya, tren desain kini justru mengarah pada gaya yang lebih sederhana. Warna-warna lembut, nude, hingga maroon menjadi pilihan favorit, dipadukan dengan ornamen kecil seperti pita, hati, bunga, atau buah ceri. Tampilan minimalis tersebut dinilai lebih elegan dan mudah dipadukan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Salah seorang pecinta nail art, Ayu, mengaku lebih menyukai desain yang simpel dibandingkan tampilan yang terlalu ramai.
"Kalau desainnya simpel lebih enak dilihat dan cocok dipakai ke mana saja. Apalagi warnanya netral, aku biasanya pilih warna yang kalem ditambah gambar kecil biar tetap lucu," ujarnya.
Bagi sebagian orang, nail art bukan hanya untuk mempercantik penampilan. Perawatan ini juga dianggap sebagai cara menjaga kebersihan dan kerapian kuku. Karena itu, pelanggan tidak hanya mempertimbangkan hasil desain, tetapi juga memperhatikan kebersihan alat serta standar higienitas salon atau nail artist yang dipilih.
Tren nail art diperkirakan masih akan terus berkembang seiring hadirnya berbagai desain baru yang mengikuti perkembangan dunia kecantikan. Meski demikian, model minimalis diprediksi tetap menjadi pilihan utama karena memberikan kesan anggun, tidak berlebihan, dan tidak mudah membuat pemakainya merasa bosan.
Di sisi lain, meningkatnya minat masyarakat turut membuka peluang usaha yang cukup menjanjikan. Bisnis nail art dinilai memiliki margin keuntungan bersih sekitar 50 hingga 70 persen per layanan karena biaya bahan baku relatif rendah, sementara nilai utama yang dijual adalah keterampilan dan kreativitas nail artist.
Untuk skala rumahan, modal awal berkisar Rp1,5 juta hingga Rp3 juta. Dana tersebut umumnya digunakan untuk membeli lampu UV LED, perlengkapan manikur, kutek gel, serta berbagai aksesori pendukung. Sementara itu, biaya bahan yang digunakan untuk setiap pelanggan hanya sekitar Rp5 ribu hingga Rp15 ribu, sedangkan harga layanan dapat dipatok mulai Rp50 ribu hingga lebih dari Rp250 ribu, bergantung pada tingkat kesulitan desain.
Model bisnisnya pun cukup fleksibel. Pelaku usaha dapat membuka studio rumahan dengan sistem reservasi, menyediakan layanan panggilan ke rumah pelanggan, hingga menjual kuku palsu (fake nails) dengan desain khusus yang dapat dipasarkan secara daring ke berbagai daerah.
Meski memiliki prospek cerah, bisnis ini tetap menghadapi tantangan berupa persaingan harga dan tuntutan keterampilan yang tinggi. Pelaku usaha dituntut mampu menghasilkan desain yang rapi, tahan lama, serta menjaga kualitas pelayanan agar pelanggan kembali melakukan perawatan secara berkala.
Editor : Lugas Rumpakaadi