RADARBANYUWANGI.ID - Tren berburu pakaian bekas berkualitas atau yang lebih dikenal dengan istilah thrifting terus menunjukkan perkembangan di kalangan generasi muda. Aktivitas yang sebelumnya identik dengan cara berbelanja hemat kini telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus sarana mengekspresikan identitas diri.
Fenomena tersebut semakin mudah ditemui di berbagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, hingga platform media sosial seperti Instagram dan TikTok. Beragam pelaku usaha memanfaatkan tingginya minat masyarakat dengan menghadirkan koleksi pakaian vintage maupun barang impor bekas yang memiliki karakter berbeda dibandingkan produk fesyen pada umumnya.
Daya tarik utama thrifting terletak pada keunikan setiap pakaian yang ditawarkan. Berbeda dengan produk fast fashion yang diproduksi secara massal, pakaian thrift umumnya memiliki desain khas, model yang langka, hingga nuansa klasik dari berbagai era. Kondisi itu membuat banyak anak muda tertarik karena dapat tampil lebih berbeda dan memiliki ciri khas dalam berbusana.
Selain faktor estetika, meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan juga menjadi salah satu alasan tren ini terus berkembang. Membeli pakaian bekas dinilai dapat memperpanjang masa pakai produk fesyen sekaligus membantu mengurangi limbah tekstil yang dihasilkan industri pakaian.
Bagi para pencinta thrifting, pengalaman berburu pakaian juga menghadirkan sensasi tersendiri. Proses memilah tumpukan pakaian hingga akhirnya menemukan busana berkualitas dengan harga terjangkau menjadi kepuasan yang sulit diperoleh ketika berbelanja pakaian baru di toko modern.
Rahma (17), salah seorang penikmat thrifting, mengaku lebih memilih berburu pakaian bekas karena menawarkan model yang tidak pasaran.
"Nge-thrift itu asyik karena harganya ramah di kantong dan kita bisa dapat baju yang modelnya beda dari yang lain. Daripada beli baju baru tapi pasaran, mending thrifting karena bahannya banyak yang masih bagus dan bikin penampilan kita terasa lebih punya karakter," ujarnya.
Maraknya budaya dan bisnis thrifting menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia fesyen. Nilai sebuah pakaian kini tidak lagi semata ditentukan oleh harga atau merek, melainkan juga oleh keunikan, kreativitas dalam memadukan busana, serta kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Editor : Lugas Rumpakaadi