Ansos Berlebihan Bisa Membuat Remaja Kehilangan Support System, Ini Dampaknya bagi Kehidupan Sosial dan Masa Depan

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 10:48 WIB
Fenomena ansos di kalangan remaja semakin sering terjadi. (Pexels/Victor Freitas)
Fenomena ansos di kalangan remaja semakin sering terjadi. (Pexels/Victor Freitas)

RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena ansos atau antisosial di kalangan remaja kini semakin mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan menarik diri dari lingkungan pergaulan kerap dianggap sebagai pilihan untuk menikmati waktu sendiri atau me time. Padahal, jika dilakukan secara berlebihan, perilaku tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental, kemampuan beradaptasi, hingga kualitas hubungan sosial.

Di tengah aktivitas sekolah maupun pergaulan, tidak sedikit remaja yang memilih membatasi interaksi dengan teman-temannya. Mulai dari menolak ajakan berkumpul, jarang merespons percakapan di grup, hingga enggan membuka diri saat diajak berkomunikasi. Sikap tersebut lambat laun tidak hanya memengaruhi diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

Fenomena ini dirasakan langsung oleh Maul, 18, yang mengaku kerap kesulitan menghadapi temannya yang selalu menutup diri dari lingkungan pertemanan.

"Capek banget jujur punya teman ansos. Diajak keluar selalu nolak, diajak ngobrol di grup enggak pernah balas. Padahal kita niatnya baik supaya dia enggak merasa sendirian. Tapi kalau dari dianya sendiri selalu narik diri dan enggak mau membuka diri sama sekali, lama-lama kita juga capek," ujarnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perilaku ansos tidak hanya berdampak pada individu yang mengalaminya, tetapi juga menguras energi emosional lingkungan pertemanannya. Ketika berbagai upaya untuk merangkul terus mendapat penolakan, rasa peduli yang semula besar perlahan dapat berubah menjadi kelelahan hingga sikap pasrah.

Kondisi ini berpotensi membuat seseorang kehilangan support system yang sebenarnya sangat dibutuhkan ketika menghadapi persoalan di kemudian hari. Saat hubungan sosial mulai renggang, peluang memperoleh bantuan, dukungan emosional, maupun teman berbagi pengalaman menjadi semakin kecil.

Dari sisi kesehatan, kebiasaan mengisolasi diri secara terus-menerus juga memiliki konsekuensi yang tidak bisa dianggap sepele. Mengacu pada informasi yang dimuat Alodokter, perilaku tersebut dapat menurunkan kemampuan berkomunikasi, menghambat keterampilan bekerja sama dalam tim, serta membuat seseorang lebih sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.

Kemampuan bersosialisasi sendiri menjadi bekal penting dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi maupun memasuki dunia kerja. Interaksi dengan orang lain membantu seseorang melatih rasa percaya diri, kemampuan menyampaikan pendapat, serta membangun jejaring yang bermanfaat bagi perkembangan diri.

Sebaliknya, minimnya interaksi sosial dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami kecemasan, merasa tertekan, hingga kesulitan saat harus menghadapi situasi baru yang menuntut komunikasi dan kolaborasi.

Meski demikian, menikmati waktu sendiri bukanlah sesuatu yang keliru. Me time tetap diperlukan sebagai cara mengembalikan energi dan menjaga kesehatan mental. Yang perlu diperhatikan adalah menjaga keseimbangan agar keinginan menyendiri tidak berubah menjadi kebiasaan menutup diri dari lingkungan secara total.

Editor : Lugas Rumpakaadi
ansos remaja pergaulan remaja hubungan sosial kesehatan mental