Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gengsi atau Fungsi? Fenomena Belanja Demi Eksistensi Jadi Sorotan, Remaja Mulai Suarakan Hidup Lebih Bijak

Meivira Choirotul Aqila • Jumat, 17 Juli 2026 | 06:06 WIB
Tren membeli barang viral dan nongkrong di tempat estetik mendorong gaya hidup konsumtif di kalangan anak muda.
Tren membeli barang viral dan nongkrong di tempat estetik mendorong gaya hidup konsumtif di kalangan anak muda. (Pexels/Max Fischer)

RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena berburu barang viral hingga mengunjungi kafe estetik semakin melekat dalam gaya hidup sebagian anak muda. Tidak sedikit yang rela mengeluarkan biaya besar demi memiliki produk yang sedang populer atau sekadar mengikuti tren agar tetap dianggap gaul di lingkungan pergaulan maupun media sosial.

Keinginan menikmati produk berkualitas maupun suasana yang nyaman sejatinya merupakan hal yang wajar. Namun, di balik tren tersebut, muncul pertanyaan penting mengenai apakah harga yang dibayarkan benar-benar sebanding dengan manfaat yang diperoleh atau hanya sekadar memenuhi kebutuhan akan pengakuan sosial.

Dalam perspektif edukasi finansial, konsumen yang cerdas tidak hanya mempertimbangkan tampilan atau popularitas sebuah produk, tetapi juga mampu menilai kualitas dan nilai gunanya secara objektif. Sikap tersebut dinilai penting agar keputusan belanja tidak didominasi oleh dorongan sesaat.

Salah satu strategi pemasaran yang kerap ditemui adalah prestige pricing, yakni penetapan harga tinggi untuk membangun kesan eksklusif dan meningkatkan citra produk. Strategi ini membuat sebagian konsumen menganggap barang mahal memiliki nilai lebih, meski pada kenyataannya fungsi yang ditawarkan belum tentu berbeda signifikan dibandingkan produk dengan harga lebih terjangkau.

Apabila kebiasaan membeli barang hanya demi menjaga gengsi terus dipelihara, kondisi keuangan pribadi berpotensi terganggu. Pengeluaran yang tidak direncanakan dapat menghambat upaya membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak usia muda.

Aini, remaja berusia 19 tahun, mengaku mulai merasa jenuh melihat tren pamer barang bermerek yang terus bermunculan di media sosial. Menurutnya, banyak orang lebih mengutamakan nilai estetika dibandingkan manfaat nyata dari produk yang dibeli.

"Aku tuh agak capek sama barang yang harganya enggak masuk akal cuma menang estetik doang. Tolong lah, mending beli yang memang fungsional dibanding maksain FOMO demi gengsi. Rugi banget aslinya," ujar Aini.

Pandangan tersebut mencerminkan mulai tumbuhnya kesadaran di kalangan generasi muda untuk lebih bijak dalam mengelola pengeluaran. Mengutamakan fungsi dibanding gengsi dinilai menjadi langkah sederhana, tetapi berdampak besar bagi kesehatan finansial.

Penerapan kebiasaan seperti menunda keputusan pembelian selama 24 jam dapat membantu meredam dorongan belanja impulsif. Selain itu, memilih produk alternatif lokal yang menawarkan kualitas baik dengan harga lebih terjangkau juga menjadi pilihan yang lebih rasional tanpa harus mengorbankan kebutuhan sehari-hari.

Di tengah derasnya arus tren media sosial, kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi bekal penting bagi generasi muda.

Editor : Lugas Rumpakaadi
tren barang viral prestige pricing gaya hidup konsumtif