RADAR BANYUWANGI – Kepergian Simson Rarameha Ngadang atau Temon menjadi kehilangan besar bagi dunia hiburan Indonesia. Komedian yang meninggal dunia akibat serangan jantung pada Minggu (12/7) itu tak hanya dikenang lewat lawakan khasnya bersama Abdel Achrian, tetapi juga melalui perjalanan hidup yang penuh kejutan.
Di balik citra humorisnya, Temon merupakan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang memilih meninggalkan dunia profesional demi mengabdikan hidupnya di panggung hiburan.
Selama lebih dari tiga dekade, Temon hadir menghibur masyarakat melalui radio, televisi, film, hingga panggung komedi. Sosoknya dikenal sebagai komedian dengan gaya spontan, sederhana, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lahir di Jakarta, Menempuh Pendidikan Psikologi UI
Simson Rarameha Ngadang lahir di Jakarta pada 28 Desember 1966. Sejak masa sekolah, ia dikenal memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan pribadi yang mudah bergaul.
Usai menamatkan pendidikan di SMA Negeri 3 Jakarta, Temon melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK).
Ia berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dengan gelar Sarjana Psikologi, sebuah latar belakang akademik yang tidak banyak diketahui publik.
Selepas kuliah, Temon sempat bekerja di bidang Human Resources Development (HRD) dan pernah menjalani praktik di rumah sakit jiwa. Namun, kecintaannya terhadap dunia hiburan membuatnya mengambil keputusan besar: meninggalkan jalur profesional dan mengejar karier sebagai entertainer.
Karier Dimulai dari Dunia Radio
Perjalanan Temon di industri hiburan dimulai pada 1992 ketika bergabung sebagai penyiar Radio SK (Suara Kejayaan).
Dunia radio menjadi tempat yang mengasah kemampuannya berbicara, berimprovisasi, dan melontarkan humor. Di sanalah pula ia bertemu dengan Abdel Achrian, sosok yang kemudian menjadi partner komedi paling melekat sepanjang kariernya.
Chemistry keduanya berkembang dari balik mikrofon radio hingga akhirnya dikenal luas di layar kaca.
Melejit Lewat Duet Abdel dan Temon
Popularitas Temon melesat ketika membintangi sitkom Abdel dan Temon Bukan Superstar.
Program tersebut menjadi salah satu tayangan komedi yang digemari masyarakat berkat dialog spontan, humor ringan, dan karakter khas yang dimainkan keduanya.
Sejak saat itu, nama Temon nyaris tak bisa dipisahkan dari Abdel. Duet mereka rutin tampil di berbagai acara televisi, panggung hiburan, hingga program komedi yang menjangkau penonton lintas generasi.
Aktif Bermain Film dan Berkarya di Dunia Hiburan
Tak hanya sukses sebagai komedian, Temon juga aktif sebagai aktor.
Ia tampil dalam sejumlah film layar lebar, di antaranya Operation Wedding, Epen Cupen The Movie, Comic 8: Casino Kings, hingga Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!
Di luar akting, Temon juga sempat merilis lagu berjudul Raja Disko, memperlihatkan kemampuannya di bidang lain sebagai seorang entertainer.
Keragaman karya tersebut menjadikannya salah satu figur hiburan yang mampu bertahan di tengah perubahan industri selama lebih dari 30 tahun.
Ayah yang Dekat dengan Anak-anaknya
Di balik kesibukan sebagai publik figur, Temon dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan keluarganya.
Dari berbagai kesaksian anak-anaknya, almarhum selalu berusaha hadir dalam momen penting keluarga, termasuk saat mendampingi putrinya menjalani prosesi wisuda.
Temon juga dikenal sering memberikan pesan agar anak-anaknya saling mendukung, menjaga kerukunan, dan memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat mereka selama dilakukan dengan cara yang baik.
Dalam kehidupan pribadinya, Temon diketahui pernah menikah sebanyak enam kali dan dikaruniai sembilan orang anak. Hingga akhir hayatnya, ia meninggalkan seorang istri dan anak bungsu yang masih kecil.
Warisan Seorang Komedian
Lebih dari tiga dekade berkarya, Temon membangun reputasi sebagai komedian yang menghadirkan humor cerdas tanpa kehilangan kesederhanaan.
Perjalanannya dari seorang lulusan Psikologi UI, penyiar radio, aktor, hingga komedian papan atas menunjukkan bahwa pilihan hidup tak selalu mengikuti latar pendidikan, melainkan keberanian menekuni bidang yang dicintai.
Kepergian Temon di usia 59 tahun memang mengakhiri perjalanan hidupnya. Namun, karya-karya yang ia tinggalkan, tawa yang pernah ia hadirkan, dan dedikasinya terhadap dunia hiburan akan tetap menjadi bagian dari sejarah komedi Indonesia.
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com