Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rasa Takut Ketinggalan Tren Tak Selalu Buruk, Bisa Jadi Pemicu Kreativitas Anak Muda

Mayang Dwi Febrianti • Rabu, 15 Juli 2026 | 12:25 WIB
FoMO tidak selalu berdampak negatif. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)
FoMO tidak selalu berdampak negatif. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena fear of missing out (FoMO) atau rasa takut tertinggal informasi masih menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda. Beragam tren yang bermunculan di media sosial membuat mereka terus mengikuti perkembangan terbaru, mulai dari musik, gaya berpakaian, hingga istilah yang sedang viral.

Platform digital seperti TikTok dan Instagram menjadi ruang utama bagi generasi muda memperoleh informasi. Melalui algoritma yang terus memperbarui rekomendasi konten, pengguna menerima arus informasi tanpa henti sejak pagi hingga malam. Kondisi tersebut mendorong mereka untuk selalu mengetahui tren terbaru agar tetap relevan di lingkungan pergaulan.

Dorongan untuk terus mengikuti perkembangan digital memunculkan beragam respons. Sebagian kalangan menilai kebiasaan tersebut berpotensi memicu kecemasan, kelelahan mental, hingga kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Namun, tidak sedikit yang melihat FoMO sebagai pendorong munculnya kreativitas.

Keinginan untuk menghasilkan konten yang menarik membuat banyak anak muda terdorong mempelajari berbagai keterampilan baru. Mereka mulai menguasai teknik pengambilan gambar, penyuntingan video, desain visual, hingga kemampuan menulis konten agar mampu bersaing di tengah derasnya arus informasi digital.

Salah seorang pelajar, Pira, 17, menilai rasa takut tertinggal informasi bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif selama mampu dikendalikan.

"Rasa takut ketinggalan itu sebenarnya enggak apa-apa sih, asal enggak merugikan aja. Kan ada tuh jenis rasa takut ketinggalan yang merugikan kayak sok tahu, terus bikin masalah dari kesoktahuannya itu. Jadi kalau kita tidak bersikap seperti itu, sebenarnya aman-aman saja dan baik buat diri sendiri," ujarnya.

Menurut Pira, mengikuti perkembangan informasi justru dapat memberikan manfaat apabila diarahkan ke aktivitas yang positif. Selain memperluas wawasan, kebiasaan tersebut juga dapat meningkatkan kreativitas serta mendorong anak muda menjadi lebih produktif.

Fenomena FoMO pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kecenderungan mengikuti tren, tetapi juga bergantung pada cara setiap individu mengelola rasa penasaran di era digital. Jika hanya dimanfaatkan untuk ikut-ikutan tanpa tujuan yang jelas, FoMO berisiko memunculkan kesalahpahaman maupun persoalan sosial.

Sebaliknya, ketika dikelola secara bijaksana, dorongan untuk terus mengikuti perkembangan zaman dapat menjadi modal penting bagi generasi muda untuk belajar lebih cepat, menghasilkan karya yang inovatif, dan tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung di dunia digital.

Editor : Lugas Rumpakaadi
fomo