Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Di Balik Tren Produk Ramah Lingkungan, Anak Muda Diajak Lebih Bijak Mengurangi Jejak Karbon

Meivira Choirotul Aqila • Senin, 13 Juli 2026 | 17:50 WIB
Tren gaya hidup ramah lingkungan di kalangan anak muda terus berkembang. (Radar Malang)
Tren gaya hidup ramah lingkungan di kalangan anak muda terus berkembang. (Radar Malang)

RADARBANYUWANGI.ID - Gaya hidup ramah lingkungan semakin populer di kalangan generasi muda. Membawa botol minum sendiri, menggunakan totebag kain, hingga memilih produk yang diklaim ramah lingkungan kini menjadi bagian dari tren yang banyak dijumpai, terutama di media sosial.

Fenomena tersebut menjadi sinyal positif karena menunjukkan meningkatnya kepedulian anak muda terhadap isu lingkungan. Namun, di balik tren itu, muncul pengingat bahwa upaya menjaga bumi tidak berhenti pada membeli produk berlabel ramah lingkungan, melainkan juga pada perubahan pola konsumsi.

Dalam edukasi lingkungan, langkah paling mendasar justru terletak pada upaya mengurangi konsumsi barang baru. Pasalnya, proses produksi sebuah botol minum, totebag, maupun produk pendukung lainnya tetap membutuhkan energi, bahan baku, dan sumber daya air. Apabila pembelian dilakukan berulang hanya karena mengikuti tren atau alasan estetika, manfaat lingkungan yang diharapkan berpotensi tidak optimal.

Fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan istilah greenwashing, yakni kondisi ketika citra ramah lingkungan lebih ditonjolkan daripada dampak nyata terhadap keberlanjutan. Karena itu, masyarakat diajak lebih kritis dalam memahami bahwa produk ramah lingkungan akan memberikan manfaat maksimal apabila digunakan dalam jangka panjang, bukan terus-menerus diganti mengikuti perkembangan tren.

Syifa, remaja berusia 18 tahun, mengaku sempat mengikuti tren membeli berbagai perlengkapan bergaya ramah lingkungan karena pengaruh media sosial. Namun, seiring waktu ia menyadari bahwa kebiasaan tersebut justru berisiko menambah konsumsi barang yang sebenarnya belum diperlukan.

"Aku tuh pas awal-awal sempet kemakan tren banget. Liat tumbler warna-warni estetik atau totebag gemes dikit, bawaannya langsung pengen beli biar keliatan ikutan go green. Tapi lama-lama mikir, kalau dibeli mulu cuma buat dicocokin sama outfit harian, ya jatuhnya malah numpuk barang dan boros aja gak sih? Daripada gonta-ganti ngikutin tren, mending pakai satu-dua barang yang udah ada aja sampai rusak. Peduli bumi yang beneran tuh justru pas kita bisa ngerem buat gak belanja terus," tutur Syifa.

Kesadaran untuk menggeser fokus dari membeli produk menuju perubahan kebiasaan sehari-hari dinilai menjadi langkah penting dalam membangun gaya hidup berkelanjutan. Tindakan sederhana dengan biaya minim justru dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap lingkungan.

Beberapa di antaranya ialah mengurangi sampah makanan (food waste) di rumah yang berpotensi menghasilkan gas metana di tempat pembuangan akhir. Selain itu, kebiasaan melakukan digital declutter, seperti menghapus email spam yang tidak diperlukan, juga dapat membantu mengurangi beban penyimpanan dan konsumsi energi pada pusat data.

Dengan demikian, gaya hidup ramah lingkungan tidak semata-mata diukur dari banyaknya produk berlabel hijau yang dimiliki. Esensi utamanya adalah menggunakan barang yang sudah ada selama mungkin, menekan konsumsi yang tidak perlu, serta membangun kebiasaan sederhana yang mampu memberikan dampak nyata bagi kelestarian lingkungan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#gaya hidup ramah lingkungan