Radarbanyuwangi.id - Kawasan Pesarean Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik setelah beredarnya foto daftar harga yang disebut-sebut berasal dari area ziarah tersebut. Unggahan yang ramai dibahas di media sosial itu memunculkan beragam spekulasi, termasuk anggapan bahwa daftar harga tersebut berkaitan dengan ritual pesugihan yang selama ini kerap dikaitkan dengan nama Gunung Kawi.
Namun, sejumlah peneliti dan akademisi yang melakukan kajian langsung di kawasan tersebut menegaskan bahwa persepsi tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Dosen Antropologi Universitas Brawijaya, Padmo Adi, menjelaskan bahwa daftar harga yang beredar sebenarnya merupakan rincian biaya penyelenggaraan selamatan yang dapat dipilih oleh para peziarah sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Baca Juga: Misteri Gunung Kawi Terungkap! Bikin Tempat Ini Selalu Ramai Peziarah dan Wisatawan
Menurutnya, fasilitas tersebut disediakan oleh masyarakat sekitar untuk membantu peziarah yang ingin menggelar acara syukuran, nazar, maupun ritual budaya Jawa yang telah berlangsung turun-temurun.
“Biaya yang tercantum bukan tarif untuk pesugihan, melainkan biaya pelaksanaan selamatan dengan berbagai pilihan bentuk kegiatan,” jelasnya.
Padmo mengungkapkan bahwa bentuk selamatan yang tersedia cukup beragam. Mulai dari penyediaan nasi tumpeng sederhana hingga penyelenggaraan acara yang lebih besar seperti pertunjukan wayang kulit yang biasanya menjadi bagian dari tradisi ruwatan dalam budaya Jawa.
Tradisi tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur, doa, atau pemenuhan nazar yang dilakukan sebagian peziarah setelah merasa memperoleh keberkahan atau terkabulnya harapan tertentu.
Baca Juga: Sarwendah Dituding Lakukan Pesugihan di Gunung Kawi, dan Kuasa Hukum Siap Tempuh Jalur Hukum!
Karena itu, biaya yang tercantum dalam daftar tersebut lebih berkaitan dengan kebutuhan logistik dan penyelenggaraan acara budaya, bukan sebagai biaya ritual mistis sebagaimana yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Penjelasan serupa juga disampaikan sejumlah warganet yang mengaku pernah berziarah ke Gunung Kawi. Mereka menyebut daftar harga tersebut bukan kewajiban bagi setiap pengunjung, melainkan pilihan bagi peziarah yang ingin mengadakan selamatan atau kegiatan syukuran.
Mereka juga menjelaskan bahwa masyarakat sering kali menyamakan seluruh kawasan Gunung Kawi dengan praktik pesugihan, padahal terdapat dua lokasi yang berbeda di kawasan tersebut.
Lokasi pertama adalah Keraton Gunung Kawi yang kerap dikaitkan dengan berbagai cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Sementara lokasi kedua adalah Pesarean Gunung Kawi, yakni kompleks makam dua tokoh yang dihormati masyarakat, yaitu Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Soedjono.
Kedua tokoh tersebut dikenal sebagai pejuang dan tokoh penyebar ajaran kebajikan yang hingga kini masih banyak diziarahi oleh masyarakat dari berbagai daerah.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Hari Ini 13 Juli, Leo Panen Keberuntungan, Bagaimana Nasib Zodiak Anda?
Sementara itu, peneliti mahasiswa Universitas Brawijaya, Harun Rasyid Al Habsyi, yang turut melakukan penelitian mengenai fenomena kepercayaan di kawasan Gunung Kawi, menyoroti berbagai mitos yang berkembang di tengah masyarakat.
Salah satu mitos yang cukup populer adalah anggapan bahwa kekayaan yang diperoleh melalui pesugihan harus dibayar dengan nyawa atau dikenal dengan istilah “harta dibalas nyawa”.
Meski demikian, Harun menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan bukti empiris yang dapat mendukung klaim tersebut.
Penelitian yang dilakukannya justru lebih berfokus pada aspek psikologis dan kesehatan mental para pengunjung yang memiliki keyakinan kuat terhadap praktik-praktik supranatural.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan temuan yang menarik. Alih-alih menemukan bukti praktik tumbal atau fenomena mistis yang sering diceritakan dari mulut ke mulut, penelitian justru menemukan adanya hubungan antara keyakinan yang sangat kuat terhadap praktik pesugihan dengan gangguan kesehatan mental tertentu.
Menurut Harun, salah satu kondisi yang ditemukan memiliki keterkaitan adalah gejala psikosis, yaitu gangguan mental yang dapat memengaruhi cara seseorang memahami realitas.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa berbagai mitos yang berkembang di masyarakat perlu dipahami secara kritis dan berdasarkan kajian ilmiah. Narasi yang beredar di ruang publik tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya, sehingga penting untuk memisahkan antara fakta, tradisi budaya, dan kepercayaan yang belum terbukti secara ilmiah.
Dengan demikian, viralnya daftar harga di Pesarean Gunung Kawi lebih tepat dipahami sebagai informasi terkait layanan selamatan dan tradisi budaya masyarakat setempat, bukan sebagai bukti adanya tarif atau praktik pesugihan seperti yang ramai diperbincangkan di media sosial.(*)
Editor : Titin Wulandari