Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Theo James Kritik Budaya Toxic Masculinity, Sebut Manosphere Berakar dari Rasa Minder dan Ancam Mental Generasi Muda

Khanza Tania Amelia Setiawan • Minggu, 12 Juli 2026 | 17:26 WIB
Theo James mengkritik fenomena manosphere dan toxic masculinity yang dinilai merusak kesehatan mental pria muda. (YouTube/joshsmithsgreatchatshow)
Theo James mengkritik fenomena manosphere dan toxic masculinity yang dinilai merusak kesehatan mental pria muda. (YouTube/joshsmithsgreatchatshow)

RADARBANYUWANGI.ID - Aktor Theo James melontarkan kritik keras terhadap fenomena manosphere dan budaya toxic masculinity yang berkembang luas di internet.

Menurutnya, tren tersebut tidak hanya membentuk cara pandang yang keliru terhadap perempuan, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan mental generasi muda.

Pandangan itu disampaikan Theo dalam wawancara di program Josh Smith's Great Chat Show yang diunggah melalui YouTube pada Rabu, 8 April 2026.

Bintang serial The White Lotus tersebut menilai banyak konten digital yang mendorong laki-laki untuk tampil dominan, anti-perempuan, atau selalu menunjukkan citra kuat, sejatinya lahir dari persoalan psikologis yang lebih mendalam.

Theo mengatakan sikap tersebut berakar dari rasa tidak aman terhadap diri sendiri.

Menurutnya, banyak orang kemudian menutupi perasaan itu dengan membangun citra maskulin yang berlebihan.

"Ini semua bersumber dari rasa tidak aman yang mendalam. Mereka menutupi rasa minder itu dengan sikap sok jagoan yang kosong," ujar Theo.

Ia juga mengkritik pola pikir masyarakat modern yang terlalu mengaitkan kesuksesan dengan kepemilikan materi.

Dalam pandangannya, seseorang sering kali baru dianggap berhasil ketika mampu memamerkan rumah mewah, mobil sport, atau simbol kemewahan lainnya.

Sebagai ayah dari seorang anak laki-laki, Theo mengaku khawatir nilai-nilai penting seperti empati, kepedulian, dan moralitas justru mulai dipandang tidak menarik oleh sebagian generasi muda.

Padahal, menurutnya, kualitas tersebut jauh lebih bermakna dibandingkan pencapaian materi.

"Ketika kita meninggal, tidak ada orang yang peduli pada jumlah harta kita. Warisan terbaik adalah apakah kita sudah menjadi orang yang baik bagi sesama," katanya.

Theo menilai maraknya fenomena manosphere tidak terlepas dari krisis identitas yang dialami banyak pria muda.

Kondisi itu membuat sebagian orang mudah terpengaruh narasi yang menjanjikan pengakuan melalui sikap agresif atau superioritas terhadap orang lain.

Karena itu, ia mengajak para pria untuk lebih terbuka dalam membicarakan persoalan kesehatan mental.

Menurut Theo, lingkungan pertemanan yang sehat dan saling mendukung menjadi salah satu cara penting untuk membantu pria menghadapi tekanan hidup tanpa rasa takut dihakimi.

Ia berharap semakin banyak laki-laki yang berani saling mendengarkan, menunjukkan empati, dan membangun hubungan yang sehat sebagai fondasi kehidupan yang lebih baik, dibanding mengejar pengakuan melalui citra maskulinitas yang semu.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Theo James