RADARBANYUWANGI.ID - Kopi Lanang asal Kabupaten Banyuwangi terus menunjukkan pamornya sebagai salah satu komoditas kopi premium yang memiliki nilai jual tinggi.
Varietas unik yang dikenal secara global sebagai biji peaberry tersebut kini semakin diminati pasar domestik maupun internasional berkat cita rasa yang lebih pekat, aroma yang kuat, serta kandungan kafein yang lebih tinggi dibandingkan kopi reguler.
Keunikan Kopi Lanang terletak pada bentuk bijinya yang bulat utuh dan tidak terbelah menjadi dua sebagaimana biji kopi pada umumnya.
Fenomena ini merupakan anomali alami yang terjadi akibat proses penyerbukan yang tidak berlangsung sempurna pada buah kopi.
Kondisi tersebut membuat seluruh nutrisi dari pohon terserap hanya oleh satu biji tunggal sehingga menghasilkan karakteristik fisik dan cita rasa yang berbeda.
Dahulu, biji kopi dengan bentuk seperti ini sempat dianggap sebagai hasil panen yang tidak sempurna.
Namun seiring meningkatnya pemahaman pasar terhadap kualitasnya, Kopi Lanang justru berkembang menjadi produk premium dengan harga jual yang mampu mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan kopi biasa.
Kelangkaan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong tingginya nilai ekonomi Kopi Lanang.
Dalam setiap musim panen, jumlahnya hanya berkisar 5 hingga 10 persen dari total produksi kopi rakyat.
Kondisi tersebut membuat pasokan relatif terbatas, termasuk di sentra perkebunan seperti Kampung Kopi Gombengsari.
Selain jumlah yang sedikit, proses produksinya juga membutuhkan ketelitian tinggi.
Hingga kini, pemisahan biji Kopi Lanang dari biji kopi reguler masih banyak dilakukan secara manual melalui proses penyortiran satu per satu menggunakan tangan.
Tahapan tersebut membutuhkan waktu lebih lama sehingga turut memengaruhi biaya produksi dan harga jual di pasaran.
Dari sisi ilmiah, Kopi Lanang memiliki karakter rasa yang lebih bold dengan aroma yang lebih kuat karena konsentrasi senyawa di dalam biji tunggal lebih padat.
Kandungan kafeinnya juga diketahui sekitar 10 hingga 15 persen lebih tinggi dibandingkan biji kopi biasa yang berasal dari pohon yang sama.
Karakter tersebut menjadikan Kopi Lanang memiliki sensasi rasa yang lebih intens sekaligus memberikan efek stimulan yang lebih cepat saat dikonsumsi.
Nilai tambah tersebut turut memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani kopi, terutama di kawasan lereng Gunung Ijen dan Kecamatan Kalipuro.
Permintaan yang terus meningkat membuka peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan lebih besar dari komoditas yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga terus mendorong pengembangan industri Kopi Lanang melalui penyelenggaraan berbagai festival kopi serta program digitalisasi UMKM.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat hilirisasi industri sehingga Banyuwangi tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu menghasilkan produk kopi kemasan siap seduh yang memiliki daya saing di pasar nasional hingga mancanegara.
Editor : Lugas Rumpakaadi