RADARBANYUWANGI.ID – Sebuah kisah menarik tentang pentingnya menjaga istiqamah dalam beribadah terekam dalam literatur klasik Islam. Sahabat Nabi Muhammad SAW, Malik bin Rabi'ah atau yang lebih dikenal sebagai Abu Usaid RA, pernah mengalami mimpi yang mengusiknya setelah satu malam lalai membaca Surat Al-Baqarah, wirid yang selama ini rutin ia amalkan sebelum tidur.
Peristiwa tersebut bukan sekadar cerita tentang mimpi. Dalam khazanah Islam, kisah ini menjadi pengingat bahwa amalan yang dilakukan secara konsisten memiliki nilai spiritual yang besar dan dapat menjadi sarana seorang hamba menjaga kedekatan dengan Allah SWT.
Kisah Abu Usaid dicatat oleh Imam Nawawi dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an, tepatnya pada pembahasan adab penghafal Al-Qur'an mengenai orang yang tertidur hingga meninggalkan wirid rutinnya.
Abu Usaid dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi yang memiliki kebiasaan membaca Surat Al-Baqarah setiap malam sebelum beristirahat. Amalan tersebut dilakukan secara istiqamah dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, pada suatu hari, kesibukan urusan dunia membuatnya kelelahan. Setelah pulang ke rumah, ia langsung tertidur tanpa sempat melaksanakan wirid yang selama ini tidak pernah ditinggalkan.
Keesokan paginya, Abu Usaid terbangun dengan rasa terkejut. Ia spontan mengucapkan istirja', "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Rupanya, pada malam ketika ia meninggalkan wirid tersebut, ia mengalami mimpi buruk.
Dalam mimpinya, seekor sapi mengejar dan hendak menyeruduknya dengan tanduk. Pengalaman itu kemudian ia ceritakan kepada orang-orang di sekitarnya sebagai sesuatu yang tidak biasa.
Dalam riwayat yang dikutip Imam Nawawi disebutkan:
"Dari Sulaiman bin Yasar, Abu Usaid RA berkata: 'Semalam aku tertidur sehingga meninggalkan wirid rutinku sampai pagi. Ketika bangun aku mengucapkan istirja', sebab wirid yang aku tinggalkan adalah Surat Al-Baqarah. Dalam tidurku aku melihat seekor sapi menyeruduk diriku.'"
Teguran Spiritual bagi Orang yang Lalai
Para ulama menjelaskan bahwa kisah tersebut bukan dimaksudkan untuk memastikan setiap mimpi memiliki makna pasti. Namun, pengalaman Abu Usaid dipahami sebagai isyarat bahwa Allah SWT dapat mengingatkan hamba-Nya melalui berbagai cara, termasuk mimpi, ketika seseorang lalai terhadap kebiasaan ibadah yang selama ini dijaga.
Dalam tradisi Islam, wirid merupakan bacaan yang dilakukan secara rutin pada waktu tertentu, baik berupa ayat Al-Qur'an, zikir, maupun shalawat. Keistiqamahan dalam mengamalkannya diyakini menjadi salah satu sarana memohon perlindungan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Surat Al-Baqarah sendiri memiliki banyak keutamaan dalam berbagai hadis, di antaranya sebagai bacaan yang membawa keberkahan serta menjadi pelindung bagi pengamalnya. Karena itu, banyak ulama menganjurkan umat Islam untuk membiasakan membaca surat tersebut, baik secara keseluruhan maupun sesuai kemampuan.
Hikmah Menjaga Istiqamah
Dari kisah Abu Usaid, terdapat pelajaran bahwa ibadah yang dilakukan secara konsisten berfungsi sebagai pengingat hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Ketika rutinitas itu terputus karena kelalaian, seorang mukmin diharapkan segera menyadari, memperbaiki diri, dan kembali menjaga istiqamah.
Nilai lain yang dapat dipetik adalah pentingnya menjadikan wirid sebagai bagian dari disiplin spiritual. Konsistensi dalam berzikir dan membaca Al-Qur'an tidak hanya membentuk kebiasaan baik, tetapi juga membantu seseorang tetap berada di jalan yang lurus di tengah kesibukan dunia.
Para ulama juga mengingatkan agar kisah ini dipahami sebagai motivasi untuk memperkuat ibadah, bukan sebagai dasar menafsirkan setiap mimpi secara mutlak. Sebab, dalam Islam, mimpi bukanlah sumber hukum, melainkan bisa menjadi pelajaran pribadi yang mendorong seseorang untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, kisah Abu Usaid mengajarkan bahwa menjaga amalan rutin, sekecil apa pun, merupakan bagian dari upaya merawat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Ketika istiqamah dijaga, seorang hamba diharapkan senantiasa memperoleh perlindungan, ketenangan, dan petunjuk dalam menjalani kehidupan sehari-hari. (*)
Editor : Ali Sodiqin