RADARBANYUWANGI.ID - Bacaan Ajian Qulhu Geni dan Qulhu Sungsang hingga kini masih banyak dicari masyarakat, terutama mereka yang tertarik pada khazanah spiritual Nusantara. Kedua ajian tersebut kerap dikaitkan dengan Sunan Ampel, salah satu tokoh Walisongo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa. Namun, kisah mengenai asal-usul dan kesaktiannya lebih banyak hidup sebagai tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat, bukan fakta sejarah yang telah terverifikasi.
Nama Qulhu Geni dan Qulhu Sungsang kembali ramai diperbincangkan di berbagai platform digital. Banyak masyarakat mencari bacaan kedua ajian tersebut sekaligus ingin mengetahui sejarah yang melatarbelakanginya.
Sunan Ampel dan Tradisi Qulhu Geni
Dalam berbagai cerita yang berkembang di kalangan masyarakat Jawa, Sunan Ampel dikenal sebagai sesepuh Walisongo sekaligus guru dari Sunan Gunung Jati. Beliau juga disebut memiliki kedalaman ilmu agama yang tinggi serta karamah sebagai seorang wali.
Sejumlah kisah tutur menyebutkan bahwa Sunan Ampel menciptakan Ajian Qulhu Geni dan Qulhu Sungsang sebagai media dakwah untuk menghadapi masyarakat yang ketika itu masih kuat dipengaruhi kepercayaan terhadap dunia gaib.
Dalam tradisi tersebut diceritakan bahwa kedua ajian disusun menggunakan potongan Surat Al-Ikhlas yang dipadukan dengan doa berbahasa Jawa sehingga membentuk hijib atau amalan spiritual.
Meski demikian, klaim mengenai penciptaan ajian oleh Sunan Ampel maupun kisah peperangan melawan raja jin tidak memiliki bukti historis yang dapat diverifikasi dan lebih dikenal sebagai legenda atau cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Jawa.
Kisah Raja Jin dalam Tradisi Lisan
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, pada masa Walisongo masyarakat Jawa masih banyak melakukan pemujaan terhadap makhluk gaib karena pengaruh kepercayaan lokal yang sangat kuat.
Dalam kisah tersebut, Sunan Ampel dikisahkan menghadapi seorang raja jin yang disebut mengganggu masyarakat dan mendorong manusia kepada kemusyrikan.
Legenda itu menyebutkan pertarungan berlangsung sengit hingga akhirnya sang wali menggunakan Qulhu Geni dan Qulhu Sungsang sebagai amalan pamungkas. Setelah itu, raja jin dikisahkan menyerah dan membuat perjanjian untuk tidak lagi mengganggu orang yang membaca potongan Surat Al-Ikhlas.
Cerita tersebut menjadi bagian dari folklore masyarakat Jawa dan belum dapat dipastikan sebagai peristiwa sejarah.
Bacaan Ajian Qulhu Geni
Berikut bacaan yang banyak beredar di masyarakat dan dikaitkan dengan Ajian Qulhu Geni:
Ajiku Qulhu Geni boso bisaruhkum balangana
Panumbali ati jalmo moro jalmo mati, setan moro setan mati
Jin setan, demit marakayangan moro podo mati ambruk mblengset tan keno obah
Obah lebur ancur saking kersaning Allah, Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah.
Bacaan Ajian Qulhu Sungsang
Sementara itu, bacaan yang dikenal sebagai Ajian Qulhu Sungsang adalah:
Bismillahirrahmanirrahim
Sun Matek Ajian Qulhu Sungsang
Sang Rajah Iman Kudhungku
Malaikat Jabarail Tetekenku
Tinuntun Kanjeng Nabi Muhammad SAW
Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah.
Perlu Disikapi secara Bijak
Meskipun bacaan tersebut masih dikenal luas dalam tradisi spiritual Jawa, para ulama mengingatkan bahwa umat Islam hendaknya berhati-hati terhadap amalan yang dinisbatkan kepada agama tanpa dasar yang jelas dari Al-Qur'an maupun hadis.
Dalam ajaran Islam, perlindungan dari gangguan gaib dianjurkan melalui doa-doa yang sahih, seperti membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Ayat Kursi, serta zikir yang diajarkan Rasulullah SAW.
Karena itu, kisah Qulhu Geni dan Qulhu Sungsang lebih tepat dipahami sebagai bagian dari warisan budaya dan tradisi lisan masyarakat Jawa. Sementara klaim mengenai kesaktiannya, termasuk kemampuan menundukkan raja jin, berada dalam ranah kepercayaan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah maupun dipastikan sebagai fakta sejarah. (*)
Editor : Ali Sodiqin