RADARBANYUWANGI.ID – Penanggalan Jawa masih menjadi pedoman bagi sebagian masyarakat dalam menentukan berbagai aktivitas penting, mulai dari mencari hari baik hingga mengenali karakter seseorang berdasarkan weton. Pada Selasa, 30 Juni 2026, kalender Jawa menunjukkan tanggal 14 Suro 1960 dengan weton Selasa Pon dan berada dalam Wuku Langkir.
Informasi ini banyak dijadikan rujukan oleh masyarakat yang masih memegang tradisi Primbon Jawa sebagai bagian dari warisan budaya. Selain memuat perpaduan hari dan pasaran, weton juga dipercaya menggambarkan watak, kecenderungan sifat, hingga sejumlah pesan kehidupan.
Berdasarkan konversi kalender, 30 Juni 2026 bertepatan dengan 14 Muharram 1448 Hijriah. Dalam sistem penanggalan Jawa, hari tersebut termasuk Selasa Pon dengan berbagai karakter yang telah diwariskan dalam kitab-kitab Primbon.
Watak Weton Selasa Pon
Dalam Primbon Jawa, karakter seseorang yang lahir atau memiliki weton Selasa Pon digambarkan sebagai pribadi yang memiliki pergaulan luas, tetapi juga mudah terpancing emosi.
Karakter Hari Selasa
Hari Selasa melambangkan pribadi yang:
-
Mudah marah.
-
Memiliki rasa cemburu yang cukup besar.
-
Aktif bersosialisasi dan mempunyai banyak relasi.
Karakter Pasaran Pon
Sementara Pasaran Pon dipercaya memiliki sifat:
-
Ucapannya mudah dipercaya orang lain.
-
Menyukai kehidupan sederhana dan betah berada di rumah.
-
Tidak suka mengambil hak orang lain.
-
Tegas terhadap keluarga.
-
Memiliki cara berpikir yang berbeda dari kebanyakan orang.
-
Berani menyampaikan pendapat, bahkan kepada atasan.
-
Dipercaya memiliki rezeki yang cukup.
Makna Wuku Langkir
Pada 30 Juni 2026, penanggalan Jawa juga berada dalam Wuku Langkir, salah satu dari 30 siklus wuku dalam kalender Jawa.
Dalam Primbon, Wuku Langkir memiliki sejumlah simbol dan filosofi kehidupan.
Beberapa di antaranya yaitu:
-
Dewa penguasa: Bethara Kala.
-
Memiliki simbol pohon cemara dan pohon ingas yang melambangkan aura panas sehingga kurang baik dijadikan tempat berteduh.
-
Burung perlambangnya adalah Gemak, yang menggambarkan keberanian tetapi perlu dikendalikan agar tidak mengarah pada tindakan negatif.
-
Filosofi "Langkir uripe sarwa oyod" bermakna seseorang cenderung keras hati sehingga terkadang justru mempersulit dirinya sendiri.
Hal yang Perlu Diwaspadai
Menurut Primbon Jawa, Wuku Langkir memiliki beberapa peringatan yang dipercaya sebagai nasihat kehidupan, antara lain:
-
Berpotensi menghadapi kehilangan atau pencurian.
-
Rentan terjadi perselisihan apabila emosi tidak dikendalikan.
-
Sebaiknya menghindari bepergian ke arah tenggara selama siklus Wuku Langkir berlangsung.
-
Tidak dianjurkan memulai perkara hukum, berkhianat, maupun mencari konflik.
Kepercayaan tersebut dipahami sebagai bagian dari tradisi budaya yang diwariskan turun-temurun dan bukan ketentuan yang bersifat mutlak.
Hari yang Baik Menurut Wuku Langkir
Meski memiliki sejumlah pantangan, Wuku Langkir juga dipercaya membawa energi positif untuk beberapa aktivitas.
Primbon Jawa menyebutkan bahwa Wuku Langkir baik digunakan untuk:
-
Menanam tanaman.
-
Melakukan perjalanan.
-
Menjalin hubungan kekeluargaan atau besanan.
-
Membuat atau merawat senjata tradisional.
-
Menjalani pengobatan atau penyembuhan penyakit.
Primbon Sebagai Warisan Budaya
Hingga kini, penanggalan Jawa masih digunakan sebagian masyarakat sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Weton, wuku, dan neptu dipahami sebagai bagian dari kearifan lokal yang mengandung nilai filosofi, etika, serta pengingat agar manusia lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Di sisi lain, berbagai kalangan juga memandang Primbon sebagai warisan budaya yang dapat dilestarikan tanpa harus mengesampingkan keyakinan agama maupun pertimbangan rasional. Karena itu, makna weton dan Wuku Langkir lebih tepat dijadikan referensi budaya, sementara keberhasilan seseorang tetap ditentukan oleh ikhtiar, doa, dan usaha yang sungguh-sungguh. (*)
Editor : Ali Sodiqin