Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

AI Ternyata Lebih Mahal dari Gaji Manusia, Perusahaan Mulai Tarik Karyawan Kembali

Titin Wulandari • Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00 WIB
Ilustrasi : PHK demi AI malah jadi bumerang perusahaan kini mulai rekrut karyawan lagi.(Foto:Pixabay)
Ilustrasi : PHK demi AI malah jadi bumerang perusahaan kini mulai rekrut karyawan lagi.(Foto:Pixabay)

Radarbanyuwangi.id - Gelombang hype kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sempat mendorong banyak perusahaan mengambil langkah agresif dengan memangkas jumlah karyawan. Tujuannya jelas, menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi melalui otomatisasi. Namun, realitas di lapangan ternyata tidak seindah ekspektasi awal.

Alih-alih menghemat pengeluaran, sejumlah perusahaan justru mulai menghadapi beban biaya baru yang tidak kecil. Kondisi ini memunculkan fenomena yang kini dikenal sebagai “layoff boomerang”, yakni situasi ketika perusahaan yang sebelumnya melakukan PHK demi AI justru kembali membuka perekrutan tenaga kerja manusia.

Banyak perusahaan awalnya menganggap AI sebagai solusi instan untuk memangkas biaya tenaga kerja. Namun implementasi teknologi ini ternyata membutuhkan investasi besar.

Biaya komputasi yang tinggi menjadi salah satu tantangan utama. Selain itu, ongkos integrasi sistem, biaya pelatihan teknologi, hingga pemeliharaan infrastruktur digital sering kali jauh lebih mahal dari perkiraan awal. Belum lagi, performa AI tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Baca Juga: Era AI Makan Korban? Shopee PHK Ribuan Pegawai Teknologi demi Kejar Dominasi E-Commerce

Dalam banyak kasus, AI memang mampu mempercepat proses kerja, tetapi belum sepenuhnya bisa menggantikan kualitas analisis, empati, serta pengambilan keputusan yang dimiliki manusia. Masalah lain yang mulai dirasakan perusahaan adalah penurunan kualitas layanan dan hasil kerja.

Meski AI mampu menangani tugas berulang dengan cepat, teknologi ini masih memiliki keterbatasan dalam memahami konteks yang kompleks. Akibatnya, kesalahan kerja, respons yang kurang akurat, hingga meningkatnya komplain pelanggan mulai menjadi persoalan baru.

Bahkan dalam banyak implementasi, perusahaan tetap membutuhkan pengawasan manusia secara terus-menerus untuk memastikan sistem AI bekerja optimal.

Hal ini membuat asumsi bahwa AI bisa sepenuhnya menggantikan manusia menjadi semakin dipertanyakan. Fenomena ini menjadi pelajaran penting bagi dunia bisnis dan teknologi.

Baca Juga: Bikin Merinding! Trailer Film The Death Of Robin Hood Suguhkan Robin Hood Versi Tergelap

Perkembangan AI memang membawa perubahan besar dalam berbagai sektor industri. Namun, tren terbaru menunjukkan masa depan kemungkinan besar bukan tentang AI yang sepenuhnya menggantikan manusia. Sebaliknya, model kerja yang lebih realistis adalah kolaborasi antara manusia dan AI.

Teknologi AI dapat membantu meningkatkan produktivitas, mempercepat analisis data, dan mengotomatisasi pekerjaan repetitif. Sementara manusia tetap memegang peran penting dalam kreativitas, strategi, komunikasi, dan pengambilan keputusan.

Beberapa perusahaan besar dunia mulai merasakan langsung dampak dari keputusan mereka terkait AI. Klarna, IBM, dan Commonwealth Bank of Australia menjadi contoh perusahaan yang mulai menyadari bahwa implementasi AI tidak selalu menghasilkan efisiensi seperti yang diharapkan. Pengalaman mereka memperlihatkan satu hal penting, AI adalah alat yang sangat kuat, tetapi bukan pengganti sempurna bagi manusia.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, keseimbangan antara inovasi digital dan peran tenaga kerja manusia tampaknya akan menjadi kunci utama bagi perusahaan untuk bertahan dan berkembang di masa depan.(*)

Editor : Titin Wulandari
#AI vs manusia #biaya AI #PHK karena AI