Radarbanyuwangi.id - Langkah besar diambil China dalam merombak sistem pendidikan tingginya. Sepanjang periode 2021 hingga 2025, negara tersebut dilaporkan telah menghapus lebih dari 12.000 program studi atau jurusan kuliah dari berbagai universitas.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. China kini semakin agresif mengarahkan fokus pembangunan nasional pada sektor teknologi tinggi, kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan inovasi digital. Jurusan yang dinilai tidak lagi selaras dengan visi masa depan negara mulai dipangkas secara bertahap.
Keputusan ini memperlihatkan satu hal penting: tidak semua program pendidikan harus dipertahankan jika sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman.
Baca Juga: Heboh! Sosok di Balik Suara Baru Susanti Upin & Ipin Ternyata Aisyah Adriana Asal Indonesia
Jurusan Apa Saja yang Dipangkas?
Ada beberapa kategori jurusan yang menjadi sasaran evaluasi besar-besaran.
1. Jurusan yang Kurang Relevan dengan Era Digital
Program studi berbasis administrasi konvensional, manajemen tradisional, hingga sejumlah jurusan humaniora dengan minim integrasi teknologi menjadi kelompok yang paling terdampak. Jurusan-jurusan ini dinilai kurang mampu menjawab kebutuhan industri modern yang bergerak sangat cepat menuju digitalisasi.
2. Jurusan dengan Demand Rendah atau Tumpang Tindih
China juga memangkas program studi yang menghasilkan terlalu banyak lulusan, tetapi memiliki peluang kerja yang terbatas. Selain itu, jurusan dengan kurikulum serupa atau tumpang tindih mulai disederhanakan agar lebih efisien.
3. Jurusan yang Diintegrasikan ke Versi Baru
Tidak semua jurusan benar-benar dihapus. Sebagian justru mengalami transformasi. Banyak program lama diintegrasikan ke dalam jurusan baru yang lebih modern, seperti berbasis Artificial Intelligence, Data Science, machine learning, dan otomasi.
Jurusan yang Justru Digenjot
Sementara sebagian jurusan dipangkas, China justru menggelontorkan investasi besar untuk program-program strategis masa depan. Bidang yang menjadi prioritas utama meliputi:
· Artificial Intelligence (AI)
· Robotika
· Data Science
· Cybersecurity
· Green Energy
· Advanced Manufacturing
Baca Juga: Mulai Berlaku! Konten Kreator, Influencer, YouTuber, dan Selebgram Wajib Punya NIB
Program-program ini mendapat dukungan besar dalam bentuk dana riset, fasilitas laboratorium kelas dunia, hingga kolaborasi erat antara kampus dan industri.
Kenapa China Berani Melakukan Ini?
Keputusan besar ini didorong oleh strategi jangka panjang yang matang.
Strategi Nasional
China ingin memastikan sumber daya pendidikan difokuskan pada bidang yang akan menentukan daya saing global di masa depan.
Efisiensi Anggaran
Dana pendidikan dialihkan ke program yang dinilai memberi dampak besar terhadap ekonomi dan inovasi nasional.
Link and Match dengan Industri
Kurikulum dirancang agar lulusan lebih siap masuk ke sektor prioritas seperti teknologi, manufaktur canggih, hingga energi hijau.
Adaptasi Cepat terhadap Perubahan Dunia
Perubahan global berlangsung sangat cepat. Karena itu, sistem pendidikan juga dituntut untuk lebih adaptif dan fleksibel.
China tampaknya ingin memastikan kampus bukan sekadar tempat belajar teori, tetapi pusat lahirnya talenta masa depan.
Kampus Tech Top di China
Sejumlah universitas di China kini menjadi magnet utama bagi mahasiswa yang ingin menekuni bidang teknologi.
1. Tsinghua University : unggul di bidang AI dan engineering
2. Zhejiang University : terkenal dengan data science dan innovation
3. Shanghai Jiao Tong University : kuat di robotika dan otomasi
4. University of Science and Technology of China : unggul di quantum research dan riset dasar
Transformasi besar ini menjadi sinyal kuat bahwa masa depan pendidikan tinggi akan semakin terhubung dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
Bagi siapa pun yang bercita-cita kuliah di bidang teknologi di China, ini bisa menjadi momentum emas. Dunia pendidikan sedang berubah, dan China memilih bergerak lebih cepat dari banyak negara lain.(*)
Editor : Titin Wulandari