Radarbanyuwangi.id - Bagi jutaan umat Islam yang berkunjung ke Tanah Suci, pemandangan salat jenazah di Masjidil Haram merupakan hal yang hampir setiap hari dapat disaksikan. Namun, tidak banyak jamaah yang menyadari bahwa kain penutup jenazah yang dibawa ke area masjid ternyata memiliki warna yang berbeda-beda.
Sekilas, perbedaan warna tersebut mungkin terlihat biasa. Akan tetapi, di balik warna putih, kuning, cokelat, hitam, biru, hingga hijau, terdapat penanda tertentu yang membantu proses identifikasi jenazah oleh petugas di Arab Saudi.
Informasi ini masih jarang diketahui oleh banyak jamaah Indonesia. Padahal, warna kain penutup jenazah di Masjidil Haram bukan dipilih secara acak, melainkan memiliki fungsi tersendiri dalam sistem pengelolaan jenazah.
Baca Juga: Pengalaman Langka di Tanah Suci, Jemaah Haji Banyuwangi Nikmati Susu Unta Segar
1. Kain Putih untuk Jamaah yang Wafat Saat Ihram atau Menunaikan Haji
Warna putih menjadi salah satu yang paling sering terlihat di Masjidil Haram. Kain ini umumnya digunakan untuk jenazah yang meninggal dunia dalam keadaan ihram atau saat menjalankan rangkaian ibadah haji dan umrah.
Warna putih juga identik dengan kesucian dan menjadi warna yang sangat dekat dengan tradisi kafan dalam Islam. Karena itu, jenazah yang wafat saat menunaikan ibadah di Tanah Suci kerap ditutup menggunakan kain berwarna putih.
2. Kain Kuning untuk Tokoh Penting
Tidak banyak yang mengetahui bahwa kain berwarna kuning sering dikaitkan dengan jenazah yang memiliki kedudukan atau peran penting di masyarakat.
Penggunaan warna ini bertujuan memudahkan identifikasi administratif oleh petugas yang menangani proses pemulasaraan dan pemakaman. Meski demikian, penggunaan kain kuning tidak dimaksudkan untuk membedakan penghormatan terhadap jenazah karena seluruh Muslim memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT.
3. Kain Cokelat untuk Jenazah Laki-Laki Dewasa
Jenazah laki-laki dewasa umumnya ditandai dengan kain penutup berwarna cokelat. Warna ini digunakan sebagai sistem klasifikasi yang mempermudah petugas dalam proses pengurusan dan pendataan jenazah.
Dengan adanya penanda warna, proses identifikasi dapat dilakukan lebih cepat, terutama ketika jumlah jenazah yang harus ditangani cukup banyak pada musim haji.
4. Kain Hitam untuk Jenazah Perempuan Dewasa
Sementara itu, jenazah perempuan dewasa biasanya menggunakan kain penutup berwarna hitam.
Penggunaan warna hitam berfungsi sebagai pembeda dari jenazah laki-laki sehingga memudahkan petugas dalam menjalankan prosedur pemulasaraan sesuai ketentuan syariat dan administrasi yang berlaku.
5. Kain Biru untuk Kasus Medis atau Rumah Sakit
Warna biru umumnya digunakan untuk jenazah yang berasal dari rumah sakit atau terkait penanganan medis tertentu.
Kain ini menjadi penanda bagi petugas bahwa jenazah sebelumnya berada dalam pengawasan fasilitas kesehatan. Sistem tersebut membantu koordinasi antara rumah sakit, petugas pemulasaraan, dan pihak terkait lainnya.
6. Kain Hijau untuk Jenazah Anak-Anak
Salah satu warna yang cukup mudah dikenali adalah hijau. Warna ini lazim digunakan sebagai penanda jenazah anak-anak.
Selain memudahkan identifikasi, penggunaan warna hijau juga memiliki makna yang erat dengan simbol kehidupan, harapan, dan kesucian yang sering dikaitkan dengan anak-anak dalam berbagai tradisi Islam.
Baca Juga: Lagi, Jamaah Haji Banyuwangi Wafat di Makkah, Total Meninggal Jadi Empat Orang
Fungsi Utama Warna Kain Jenazah
Terlepas dari perbedaan warna yang digunakan, tujuan utama sistem ini adalah untuk membantu petugas melakukan identifikasi secara cepat dan akurat.
Perlu dipahami bahwa warna kain jenazah bukanlah simbol tingkat kesalehan, kekayaan, atau kemuliaan seseorang. Dalam Islam, seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama ketika meninggal dunia dan akan dihisab berdasarkan amal perbuatannya.
Karena itu, perbedaan warna yang terlihat di Masjidil Haram lebih bersifat administratif dan operasional. Sistem ini membantu pengelolaan jenazah berjalan tertib, terutama saat musim haji dan umrah ketika jutaan jamaah dari berbagai negara berkumpul di Makkah.
Fenomena ini menjadi salah satu fakta menarik yang jarang diketahui jamaah. Di balik warna-warna yang berbeda, tersimpan pelajaran bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta tanpa membawa status, jabatan, maupun harta benda yang dimiliki selama hidup di dunia.(*)
Editor : Titin Wulandari