Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Curik Bali Nyaman Hidup di Permukiman Warga Tabanan, Populasi Terus Bertambah

Ali Sodiqin • Sabtu, 30 Mei 2026 | 09:00 WIB
SANTAI DI ATAS LAMPU: Burung jalak putih ini sudah menyatu dengan lingkungannya di Banjar Tingkih Kerep, Tengkudak, Penebel, Bali. (foto: Fajar Bagaskara for Radar Bali)
SANTAI DI ATAS LAMPU: Burung jalak putih ini sudah menyatu dengan lingkungannya di Banjar Tingkih Kerep, Tengkudak, Penebel, Bali. (foto: Fajar Bagaskara for Radar Bali)

RADARBANYUWANGI.ID – Upaya penyelamatan curik Bali atau jalak putih terus menunjukkan perkembangan menggembirakan. Friends of The National Parks Foundation (FNPF) kini menyiapkan pelepasliaran burung endemik Bali itu ke sembilan kabupaten/kota di Pulau Dewata.

Namun, keberhasilan program konservasi tersebut ternyata tidak hanya bergantung pada penangkaran maupun habitat alam. Faktor paling menentukan justru datang dari masyarakat.

Menurut Wayan Yona, pengelola sekaligus orang kepercayaan FNPF di wilayah Tabanan, syarat utama pelepasliaran curik Bali adalah adanya niat, semangat, dan keseriusan warga untuk menjaga kelestarian satwa langka tersebut.

“Kalau masyarakatnya punya rasa memiliki dan mau menjaga bersama, curik Bali akan berkembang dengan baik,” ujarnya.

Sejauh ini, FNPF telah melakukan pelepasliaran curik Bali di sedikitnya lima wilayah di Bali. Yakni Jembrana dan Bali Barat, Tejakula di Buleleng, Karangasem, Nusa Penida di Klungkung, serta Banjar Tingkih Kerep, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

Di Desa Tengkudak, keberhasilan konservasi curik Bali bahkan terlihat nyata. Burung dengan nama ilmiah Leucopsar rothschildi itu tampak hidup nyaman berdampingan dengan warga.

Masyarakat setempat bukan hanya membiarkan burung itu hidup bebas, tetapi juga ikut menyediakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangbiakannya.

“Yang menyediakan air untuk mandi dan minuman burung ya warga desa sendiri, dengan sukarela,” kata Yona.

Di sejumlah pohon bunga jepun milik warga, terpasang kotak-kotak plastik berisi air yang sengaja disiapkan sebagai tempat minum dan mandi burung jalak Bali.

Kondisi tersebut membuat curik Bali merasa aman dan nyaman hidup di lingkungan permukiman warga.

Tak hanya curik Bali, berbagai jenis burung liar lain juga berkembang bebas di kawasan itu. Mulai dari burung perkutut (Geopelia striata) hingga ruak-ruak (Amaurornis phoenicurus) tampak leluasa membuat sarang dan mengasuh anak-anaknya di area rerumputan sekitar saluran air permukiman.

Menariknya, warga sama sekali tidak mengganggu keberadaan satwa-satwa tersebut.

Menurut Yona, rasa aman menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas reproduksi curik Bali.

Burung yang dikenal memiliki tampilan eksotis itu mampu bertelur satu hingga dua kali setahun di alam liar. Sementara dalam penangkaran, curik Bali bisa bertelur hingga tiga kali karena ketersediaan pakan lebih terjamin.

“Kalau mereka nyaman, produktivitas bertelurnya lebih bagus. Bisa sampai tiga kali setahun,” jelasnya.

Dalam sekali bertelur, curik Bali rata-rata menghasilkan dua hingga tiga butir telur.

Meski demikian, tingkat keberhasilan penetasan tetap dipengaruhi kondisi cuaca.

“Kalau musim kemarau lebih mudah menetas karena suhu udara hangat dan cukup panas,” imbuhnya.

Yona menjelaskan, wilayah Tejakula, Buleleng, memiliki tingkat keberhasilan penetasan lebih tinggi dibandingkan Desa Tengkudak, Penebel.

Hal itu disebabkan suhu udara di Tejakula lebih panas sehingga telur lebih mudah menetas sempurna.

“Di sini lebih dingin, biasanya ada satu telur yang tidak menetas,” ujarnya.

Meski begitu, Desa Tengkudak memiliki keunggulan lain yang dinilai sangat penting bagi keberlangsungan konservasi jangka panjang, yakni dukungan penuh masyarakat.

Menurut Yona, kecintaan warga terhadap satwa liar membuat curik Bali berkembang semakin cepat dan terus menyebar secara alami.

Kelak, pola pelestarian berbasis masyarakat seperti di Tengkudak diharapkan menjadi model konservasi di berbagai wilayah lain di Bali.

Curik Bali sendiri merupakan salah satu burung endemik paling langka di Indonesia. Populasinya sempat menurun drastis akibat perburuan dan perdagangan ilegal karena harganya yang pernah mencapai belasan juta rupiah per ekor pada era 2000-an.

Burung ini mulai dikenal dunia internasional setelah dipantau ilmuwan asal Inggris Walter Rothschild pada 1910. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama ilmiah spesies tersebut, yakni Leucopsar rothschildi.

Kini, melalui konservasi berbasis masyarakat dan pelepasliaran bertahap, harapan untuk mengembalikan populasi curik Bali di habitat aslinya mulai terlihat nyata.

Dan di Banjar Tingkih Kerep, Desa Tengkudak, harapan itu tumbuh dari hal-hal sederhana: air minum di bawah pohon jepun, rasa cinta warga, serta komitmen menjaga satwa langka tetap hidup bebas di langit Bali. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Curik Bali #pelepasliaran jalak Bali #FNPF Bali #pelestarian burung langka #Desa Tengkudak