Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketut Jiwa Bongkar Rahasia Sukses Ternak Jalak Bali, Produksi Capai 300 Ekor per Tahun

Ali Sodiqin • Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:00 WIB
EKUN: I Ketut Gede Jiwa Artana dengan jalak bali di penangkaran miliknya. (Dok. Radar Bali)
EKUN: I Ketut Gede Jiwa Artana dengan jalak bali di penangkaran miliknya. (Dok. Radar Bali)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah ancaman kepunahan dan maraknya perburuan liar satu dekade lalu, I Ketut Gede Jiwa Artana memilih jalan berbeda. Saat banyak orang melihat Jalak Bali hanya sebagai burung langka bernilai mahal, pria asal Banjar Bongan Kauh Kelod, Desa Bongan, Tabanan, itu justru menjadikannya misi hidup: menyelamatkan ikon Pulau Dewata dari jurang kepunahan.

Kini, setelah lebih dari 10 tahun bergelut di dunia konservasi, perjuangan Jiwa Artana mulai menampakkan hasil nyata. Penangkaran Jalak Bali miliknya bernama Kicau Bali berkembang pesat, populasi burung meningkat, jaringan peternak meluas, dan kesadaran masyarakat terhadap konservasi perlahan tumbuh.

Namun di balik keberhasilan itu, ada cerita panjang tentang jatuh bangun mempertahankan konservasi satwa endemik yang tak selalu menjanjikan keuntungan besar.

Cuaca cerah menyambut saat memasuki lokasi penangkaran Kicau Bali di Desa Bongan. Deretan kandang burung tampak memenuhi area yang kini jauh lebih luas dibanding beberapa tahun lalu.

Kicauan Jalak Bali bersahut-sahutan memecah suasana pagi. Di sudut lain, aktivitas pembuatan sangkar burung berjalan berdampingan dengan area penangkaran.

Semuanya dibangun perlahan dari perjuangan panjang seorang pria yang dahulu hanya meminjam halaman tetangga untuk memulai konservasi.

“Dulu mulai dari kecil sekali. Saya pinjam lahan warga untuk penangkaran. Sekarang sudah berkembang,” kata Jiwa Artana saat ditemui di teras rumahnya.

Pria 48 tahun itu mengaku konservasi Jalak Bali bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk kecintaan terhadap satwa khas Bali yang sempat berada di titik kritis.

Ketika mulai menangkarkan Jalak Bali lebih dari 10 tahun lalu, populasi burung bernama latin Leucopsar rothschildi tersebut masih sangat terbatas.

Harga jualnya pun fantastis. Seekor anakan Jalak Bali kala itu bisa dihargai Rp10 juta, sedangkan Jalak Bali dewasa mencapai Rp15 juta per ekor.

Namun kondisi kini jauh berubah.

Menurut Jiwa Artana, keberhasilan konservasi justru membuat populasi Jalak Bali meningkat signifikan. Ironisnya, peningkatan populasi itu dibarengi turunnya harga pasar.

“Karena konservasi berhasil, populasi meningkat. Tapi harga burung sekarang turun,” ujarnya.

Saat ini, Jalak Bali dewasa dijual sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta per pasangan lengkap dengan izin resmi. Sementara per ekor berkisar Rp1,5 juta sampai Rp2,5 juta tergantung usia dan kualitas.

Penurunan harga mulai terasa sejak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa tahun lalu yang ikut memukul daya beli masyarakat.

“Kalau ekonomi sulit, orang pasti prioritaskan kebutuhan pokok dulu. Pelihara burung jadi nomor sekian,” katanya.

Meski harga pasar melemah, Jiwa Artana memilih tetap bertahan. Ia sadar konservasi tidak bisa hanya mengandalkan penjualan burung semata.

Karena itu, ia mulai mengembangkan ekosistem usaha pendukung untuk menopang keberlangsungan konservasi.

Mulai dari membuka kios burung, menjual pakan dan bibit, hingga memproduksi sangkar burung sendiri.

“Jadi kami tidak hanya mengandalkan penjualan Jalak Bali. Ada perputaran ekonomi dari usaha lain juga,” jelasnya.

Langkah itu terbukti menjadi penyelamat ketika harga Jalak Bali anjlok.

Kini, area penangkaran miliknya mencapai sekitar dua are dan menjadi pusat konservasi sekaligus edukasi Jalak Bali di Tabanan.

Tak hanya berkembang sendiri, Jiwa Artana juga membentuk kelompok konservasi yang kini beranggotakan sekitar 20 kelompok peternak Jalak Bali tersebar di berbagai wilayah Tabanan.

Baginya, konservasi harus melibatkan masyarakat agar dampaknya benar-benar terasa.

“Kalau konservasi hanya sendiri, hasilnya terbatas. Tapi kalau masyarakat ikut bergerak, populasi burung bisa jauh lebih cepat meningkat,” ujarnya.

Di balik keberhasilannya, Jiwa Artana ternyata memiliki metode khusus dalam merawat Jalak Bali.

Menurutnya, konservasi bukan sekadar memberi makan dan membersihkan kandang, tetapi memahami karakter setiap burung secara detail.

“Burung itu harus dicintai. Tidak cukup hanya dipelihara,” katanya.

Ia menjelaskan, Jalak Bali tidak selalu cocok dengan pasangan yang sama. Karena itu, proses penjodohan ulang sering dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan reproduksi.

“Kadang burung harus dicari pasangan baru lagi supaya mau berkembang biak,” jelasnya.

Ia bahkan hafal tanda-tanda ketika Jalak Bali sedang sakit atau stres.

Mulai dari bulu rontok, murung, kehilangan nafsu makan, hingga serangan jamur bisa langsung dikenali hanya dari perubahan perilaku burung.

Jika menemukan kondisi tersebut, Jalak Bali segera dipindahkan ke area karantina untuk mendapatkan perawatan khusus dan vitamin tambahan.

Berkat pengalaman lebih dari satu dekade, tingkat produksi anakan Jalak Bali di penangkarannya kini cukup tinggi.

Dalam sebulan, Kicau Bali mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 30 anakan. Dalam setahun, jumlahnya mencapai 240 hingga 300 ekor.

Namun di balik tingginya produksi itu, biaya perawatan yang harus ditanggung juga tidak kecil.

Dalam lima hari, satu sak konsentrat pakan senilai Rp50 ribu bisa habis. Belum termasuk kebutuhan kroto yang mencapai Rp200 ribu, biaya listrik dan air sekitar Rp1,5 juta per bulan, serta gaji tiga orang karyawan.

“Kalau dihitung total, biaya pemeliharaan bisa sekitar Rp10 juta per bulan,” ujarnya.

Meski begitu, Jiwa Artana tak pernah berpikir meninggalkan dunia konservasi yang telah membesarkan namanya.

Baginya, melihat Jalak Bali berkembang biak dan kembali lestari di Bali menjadi kepuasan tersendiri yang tak bisa diukur hanya dengan uang.

Kini, perjuangan kecil yang dimulai dari halaman rumah warga itu telah menjelma menjadi salah satu pusat konservasi Jalak Bali terbesar di Tabanan.

Dari Desa Bongan, suara kicau Jalak Bali kembali menggema. Menjadi penanda bahwa satwa kebanggaan Pulau Dewata itu masih punya harapan untuk tetap hidup di tanah kelahirannya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#penangkaran Jalak Bali #konservasi Jalak Bali #I Ketut Gede Jiwa Artana #Desa Bongan #Jalak Bali