RADARBANYUWANGI.ID – Upaya penyelamatan burung endemik langka Jalak Bali di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, mulai menunjukkan hasil menggembirakan. Tak hanya berhasil meningkatkan populasi satwa dilindungi tersebut melalui penangkaran berbasis masyarakat, warga yang tergabung dalam Kelompok Manuk Jegeg kini juga telah mengantongi izin resmi untuk menjual hasil penangkaran Jalak Bali.
Harga jualnya pun tidak murah. Sepasang Jalak Bali hasil penangkaran dibanderol mulai Rp12 juta hingga Rp15 juta tergantung usia dan kualitas burung. Burung berusia di bawah enam bulan biasanya dijual di kisaran Rp12 juta sampai Rp13 juta per pasangan, sedangkan usia di atas enam bulan bisa menembus Rp15 juta bahkan lebih.
Namun di balik tingginya nilai ekonomi Jalak Bali, penjualan burung langka ini ternyata bukan perkara mudah. Tingkat minat masyarakat yang terbatas serta aturan konservasi ketat membuat pemasaran Jalak Bali membutuhkan pendekatan berbeda dibanding burung hias lainnya.
Karena itu, Kelompok Manuk Jegeg kini tengah menyiapkan program adopsi Jalak Bali yang menyasar wisatawan dan pecinta satwa konservasi.
Sekretaris Kelompok Manuk Jegeg, Ismoyo Ismo, mengatakan konsep adopsi tersebut bukan sekadar jual beli burung, melainkan melibatkan wisatawan dalam upaya pelestarian Jalak Bali di habitat aslinya.
“Kalau jual itu memang susah. Karena Jalak Bali ini satwa dilindungi dan pasarnya terbatas. Maka kami sedang menyiapkan program adopsi,” kata Ismo saat ditemui di Desa Sumberklampok.
Melalui program tersebut, wisatawan atau pihak yang mengadopsi Jalak Bali nantinya akan membantu pembiayaan penangkaran dan pelepasliaran burung ke kawasan sekitar Taman Nasional Bali Barat.
Burung hasil adopsi itu kemudian dilepasliarkan dan perkembangannya akan dilaporkan secara berkala kepada pengadopsi.
“Jadi wisatawan itu nanti kami libatkan langsung. Burung hasil adopsi akan dilepasliarkan di sekitar taman nasional, lalu kami laporkan perkembangan burung tersebut secara rutin kepada pengadopsinya,” ujarnya.
Menurut Ismo, konsep ini diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi Jalak Bali sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar kawasan konservasi.
Apalagi selama ini Kelompok Manuk Jegeg telah berhasil membuktikan bahwa penangkaran berbasis masyarakat mampu menjadi solusi nyata menyelamatkan Jalak Bali dari ancaman kepunahan.
Sejak mendapatkan izin penangkaran dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali pada 2011 lalu, kelompok warga tersebut terus mengembangkan populasi Jalak Bali secara mandiri.
Dari hanya 15 ekor indukan yang dipinjamkan Asosiasi Pecinta Curik Bali (APCB) Bogor, kini kelompok tersebut berhasil menghasilkan puluhan anakan Jalak Bali.
Penangkaran itu sekaligus menjadi simbol perubahan besar masyarakat Sumberklampok yang dahulu sempat dikenal dekat dengan praktik perburuan liar di kawasan Taman Nasional Bali Barat.
Perbekel Sumberklampok, I Wayan Sawitra Yasa, mengatakan keberhasilan penangkaran Jalak Bali kini perlahan menghapus stigma negatif terhadap masyarakat desanya.
“Dulu di Sumberklampok banyak Jalak Bali. Tetapi karena alih fungsi lahan dan perburuan liar, populasinya terus menurun,” katanya.
Kini, melalui penangkaran yang melibatkan warga, populasi Jalak Bali perlahan kembali meningkat. Sawitra berharap suatu saat Jalak Bali kembali bisa terbang bebas di langit Sumberklampok seperti dahulu.
“Lewat penangkaran ini kami berharap Jalak Bali semakin banyak sehingga desa ini kembali memiliki burung Jalak yang hidup bebas di alam,” ujarnya.
Sawitra memastikan masyarakat kini memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap pentingnya menjaga Jalak Bali sebagai bagian dari identitas sekaligus keseimbangan lingkungan kawasan Bali Barat.
Ia juga menjamin burung-burung yang telah dilepasliarkan tidak akan diburu warga.
“Sekarang masyarakat sudah sadar. Mereka paham Jalak Bali harus dijaga, bukan diburu lagi,” tegasnya.
Program penangkaran Jalak Bali berbasis masyarakat di Sumberklampok kini mulai dipandang sebagai model konservasi yang tidak hanya menjaga satwa langka, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi desa melalui ekowisata dan konservasi berkelanjutan.
Dengan program adopsi yang sedang disiapkan, warga berharap Jalak Bali tidak hanya menjadi simbol konservasi Bali, tetapi juga menjadi jembatan keterlibatan publik dalam menjaga satwa endemik Indonesia agar tetap lestari di habitat aslinya. (*)
Editor : Ali Sodiqin