Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Populasi Burung Jalak Bali Terus Meningkat, Warga Desa Sumberklampok Berhasil Tetaskan Puluhan Anakan Satwa Langka

Ali Sodiqin • Jumat, 29 Mei 2026 | 14:42 WIB
Populasi Jalak Bali di Desa Sumberklampok terus meningkat. Kelompok Manuk Jegeg berhasil menghasilkan 90 anakan dari penangkaran warga. (Dok. Radar Bali)
Populasi Jalak Bali di Desa Sumberklampok terus meningkat. Kelompok Manuk Jegeg berhasil menghasilkan 90 anakan dari penangkaran warga. (Dok. Radar Bali)

RADARBANYUWANGI.ID - Populasi burung Jalak Bali yang selama ini dikenal sebagai salah satu satwa paling langka di Indonesia perlahan menunjukkan tren peningkatan. Upaya konservasi berbasis masyarakat di Desa Sumberklampok menjadi salah satu faktor penting yang ikut menjaga kelestarian satwa endemik Pulau Bali tersebut.

Melalui Kelompok Manuk Jegeg, warga Desa Sumberklampok kini terus aktif melakukan penangkaran Jalak Bali dengan harapan populasi burung bercorak putih bersih itu terus bertambah, baik di penangkaran maupun di habitat alaminya.

Keberhasilan warga dalam menjaga dan mengembangbiakkan Jalak Bali menjadi kabar positif di tengah ancaman kepunahan yang selama bertahun-tahun membayangi satwa dilindungi tersebut.

Meski jumlah pasti Jalak Bali di alam liar belum dapat dipastikan, kelompok penangkar warga disebut telah berhasil menghasilkan sekitar 90 ekor anakan Jalak Bali sejak program penangkaran dimulai.

Puluhan anakan tersebut berasal dari 15 ekor indukan Jalak Bali yang sebelumnya dipinjamkan oleh Asosiasi Pecinta Curik Bali (APCB) Bogor pada tahun 2011.

Sejak saat itu, warga bersama kelompok konservasi terus berupaya menjaga keberlangsungan hidup burung yang memiliki nama latin Leucopsar rothschildi tersebut.

Sekretaris Kelompok Manuk Jegeg, Ismoyo Ismo, menuturkan bahwa perkembangan populasi Jalak Bali di penangkaran warga memang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Menurutnya, keberhasilan itu tidak lepas dari konsistensi warga dalam menjaga pola perawatan dan kebersihan kandang.

“Sejak mendapat izin penangkaran dari BKSDA Bali tahun 2011, kami terus berupaya melestarikan Jalak Bali supaya populasinya tidak punah,” ujar Ismo saat ditemui di kediamannya.

Ia menjelaskan, memelihara Jalak Bali sejatinya tidak jauh berbeda dengan memelihara jenis burung lainnya.

Pakan yang diberikan juga relatif mudah didapat, mulai dari voer atau pakan pabrikan, jangkrik, ulat hongkong, telur semanggi, hingga buah pisang.

Namun demikian, Jalak Bali memiliki karakter yang sangat menyukai kebersihan sehingga kandang harus selalu dijaga steril dan rutin dibersihkan.

“Bedanya kalau Jalak Bali ini harus bersih. Jalak itu burung yang suka bersih, jadi kandangnya memang harus rajin dibersihkan,” jelasnya.

Dalam satu tahun, sepasang Jalak Bali diketahui mampu bertelur hingga delapan kali.

Setiap masa bertelur, induk biasanya menghasilkan sekitar empat butir telur. Meski begitu, tidak seluruh telur berhasil menetas dengan sempurna.

Menurut Ismo, tingkat keberhasilan penetasan rata-rata hanya mencapai dua ekor anakan dalam sekali pengeraman.

Tantangan terbesar justru muncul setelah telur berhasil menetas. Sebab, induk Jalak Bali dikenal tidak terlalu telaten dalam merawat anak-anaknya.

Karena itu, penangkar harus turun langsung melakukan perawatan intensif untuk meningkatkan peluang hidup anakan Jalak Bali.

“Begitu menetas harus segera diselamatkan dan disuapi manual. Biasanya prosesnya satu sampai dua minggu sampai anakannya bisa makan sendiri,” katanya.

Metode perawatan manual tersebut menjadi salah satu kunci utama keberhasilan penangkar dalam meningkatkan angka hidup anakan Jalak Bali.

Keberhasilan Kelompok Manuk Jegeg dinilai menjadi bukti bahwa konservasi berbasis masyarakat mampu memberikan kontribusi besar terhadap penyelamatan satwa langka Indonesia.

Selama ini, Jalak Bali dikenal sebagai salah satu burung paling terancam punah akibat perburuan liar dan perdagangan ilegal satwa.

Populasinya di habitat alami sempat mengalami penurunan drastis hingga membuat pemerintah menetapkannya sebagai satwa yang dilindungi penuh.

Kini, keterlibatan masyarakat lokal dalam penangkaran menjadi harapan baru untuk menjaga keberlanjutan populasi Jalak Bali di masa mendatang.

Selain membantu konservasi, keberadaan penangkaran warga juga mulai menarik perhatian pecinta satwa dan pemerhati lingkungan untuk datang langsung melihat proses pelestarian Jalak Bali di Desa Sumberklampok.

Warga berharap dukungan pemerintah dan berbagai pihak terhadap program konservasi berbasis masyarakat dapat terus ditingkatkan agar Jalak Bali tetap lestari dan tidak kembali terancam punah.

Bagi masyarakat Desa Sumberklampok, Jalak Bali bukan sekadar burung langka, melainkan simbol kebanggaan sekaligus warisan alam yang harus dijaga bersama. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Desa Sumberklampok #penangkaran Jalak Bali #Kelompok Manuk Jegeg #populasi Jalak Bali #Jalak Bali