Radarbanyuwangi.id - Belakangan ini, istilah “Generasi Sigma” ramai digunakan di media sosial untuk menyebut bayi yang lahir pada tahun 2026. Namun, di balik popularitasnya, istilah ini ternyata bukan berasal dari dunia akademis atau penelitian demografi resmi, melainkan murni lahir dari budaya internet.
Awalnya, istilah “Sigma male” lebih dulu populer di platform seperti TikTok dan Instagram. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan sosok yang mandiri, tidak mengikuti arus utama, serta dianggap memiliki karakter “berbeda dari kebanyakan orang”.
Karena sifatnya yang terdengar keren dan unik, istilah tersebut kemudian berkembang di kalangan kreator konten. Tidak hanya digunakan untuk menggambarkan karakter individu, tetapi juga meluas hingga menyebut generasi bayi yang akan lahir di masa depan sebagai “Generasi Sigma”.
Meski terdengar menarik, penyebutan “Generasi Sigma” tidak memiliki dasar ilmiah. Fenomena ini lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika media sosial, di mana konten yang unik, mengejutkan, atau berbeda cenderung lebih cepat viral.
Baca Juga: Leo Jadi Raja Hoki! Ini 3 Zodiak Paling Beruntung 22 April 2026
Ketika satu istilah mulai ramai digunakan, pengguna lain ikut mengulanginya agar konten mereka juga mendapatkan perhatian. Proses ini dikenal sebagai bandwagon effect, yaitu kecenderungan orang untuk mengikuti sesuatu hanya karena banyak orang lain melakukannya.
Akibatnya, istilah “Generasi Sigma” seolah-olah terlihat seperti kategori generasi yang nyata, padahal sebenarnya hanya hasil pengulangan tren viral di internet.
Jika merujuk pada lembaga penelitian demografi seperti McCrindle Research, pembagian generasi setelah Gen Alpha secara resmi disebut sebagai Generasi Beta.
Dengan demikian, istilah “Generasi Sigma” tidak termasuk dalam kategori ilmiah atau akademis, melainkan hanya istilah populer yang berkembang di dunia digital tanpa dasar penelitian resmi.
Fenomena “Generasi Sigma” menunjukkan bagaimana media sosial dapat membentuk persepsi publik terhadap istilah baru, meski tidak memiliki landasan ilmiah. Hingga saat ini, istilah yang diakui secara resmi tetap Generasi Beta, bukan Sigma.(*)
Editor : Titin Wulandari