Radarbanyuwangi.id - Sejak dahulu masyarakat Jawa memiliki cara unik dalam membaca perubahan alam sepanjang tahun. Melalui pitutur atau nasihat leluhur, mereka mengamati tanda-tanda alam sebagai penunjuk musim, khususnya untuk kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari.
Pengetahuan ini bukan sekadar teori, melainkan hasil pengalaman turun-temurun yang terbukti dan tetap relevan hingga kini.
Siklus Musim dalam Kalender Jawa
Berikut gambaran siklus musim berdasarkan kearifan lokal masyarakat Jawa:
1. Januari – “Janu udan nyawiji” (hujan mencair)
Hujan turun menyatu, air melimpah, dan tanah menjadi subur penuh kehidupan.
2. Februari – “Febru banyu mbludag” (air banyak)
Debit air meningkat drastis, bahkan berpotensi menyebabkan banjir di beberapa wilayah.
Baca Juga: Kabar Bahagia, Rizky Ridho Resmi Jadi Ayah, Anak Pertama Lahir dengan Nama Penuh Makna
3. Maret – “Mare wiwit anget” (mulai hangat)
Curah hujan mulai berkurang, udara terasa lebih hangat sebagai tanda peralihan musim.
4. April – “Mangsa tanggung” (musim tanggung)
Cuaca tidak menentu—kadang hujan, kadang panas.
5. Mei – “Wiwit garing” (musim kering/panas)
Tanah mulai mengering, menjadi awal datangnya musim kemarau.
Baca Juga: Sering Kalap Checkout, Cara Ampuh Lepas dari Jebakan Belanja Online yang Bikin Dompet Jebol
6. Juni – “Sumur nyusut” (air menyusut)
Cadangan air tanah berkurang, sumur mulai menyusut.
7. Juli – “Lemah atos” (tanah yang keras)
Tanah mengeras dan sulit diolah, aktivitas pertanian mulai menghadapi tantangan.
8. Agustus – “Sumber entek” (sumbernya habis)
Sumber air mulai menipis, debit air menurun signifikan.
9. September – “Sate-sate sumber” (keringnya sumber)
Puncak musim kemarau, banyak sumber air yang benar-benar kering.
10. Oktober – “Mega bali” (musimnya kembali)
Awan mulai kembali, menjadi pertanda datangnya musim hujan.
11. November – “Udan tumurun” (turun hujan)
Hujan mulai turun kembali, tanah kembali basah dan siap ditanami.
12. Desember – “Udan gemer” (hujan lebat)
Hujan deras kembali mendominasi, air melimpah seperti awal tahun.
Baca Juga: Mau Langsing Tanpa Gym, 4 Olahraga Ringan Ini Ampuh Bakar Kalori di Rumah
Siklus musim dalam tradisi Jawa tidak hanya berbicara tentang cuaca, tetapi juga mengandung nilai kehidupan yang dalam. Kearifan ini mengajarkan bahwa hidup selalu berputar ada masa subur, masa sulit, dan masa pemulihan. Manusia perlu hidup selaras dengan alam. Pentingnya kesiapan menghadapi perubahan. Kebijaksanaan dalam bertindak sesuai waktu Seperti alam, kehidupan manusia juga mengalami fase naik dan turun.
Meski zaman terus berkembang, pengetahuan ini tetap memiliki nilai penting, terutama bagi petani dalam menentukan waktu tanam dan panen. Masyarakat dalam mengelola sumber daya air. Siapa saja yang ingin hidup lebih selaras dengan alam. Kearifan lokal ini bisa menjadi panduan sederhana untuk memahami ritme kehidupan secara lebih alami.
Warisan leluhur Jawa bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi ilmu yang masih bisa dirasakan manfaatnya hingga saat ini. Seperti pesan bijak yang diwariskan yaitu, “Ilmu ini bukan hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk dirasakan dan dijaga.” Memahami alam berarti memahami kehidupan.(*)
Editor : Titin Wulandari