RADARBANYUWANGI.ID – Tren olahraga seperti Pilates reformer dan latihan gym semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik manfaatnya, muncul kekhawatiran baru terkait risiko cedera akibat latihan berlebihan atau tanpa pengawasan yang tepat.
Dilansir dari laman fastcompanybrasil.com, fenomena ini tidak hanya terjadi di luar negeri seperti Inggris, tetapi juga mulai menjadi perhatian di Indonesia, seiring meningkatnya jumlah studio dan pusat kebugaran.
Lonjakan Popularitas, Risiko Ikut Meningkat
Metode Joseph Pilates yang awalnya dikenal aman dan fokus pada kekuatan inti, kini berkembang dengan berbagai variasi, termasuk penggunaan alat reformer.
Namun, pesatnya pertumbuhan ini juga memunculkan masalah baru. Banyak studio membuka kelas dengan jumlah peserta besar, sementara pengawasan instruktur menjadi terbatas.
Kondisi ini meningkatkan risiko kesalahan gerakan, penggunaan alat yang tidak tepat, hingga kecelakaan saat latihan.
Cedera Tak Hanya dari Pilates
Masalah cedera tidak hanya terjadi pada pilates, tetapi juga pada latihan beban dan olahraga intensitas tinggi lainnya.
Beberapa cedera yang sering dilaporkan antara lain:
-
Nyeri leher dan punggung
-
Peradangan tendon
-
Cedera sendi
-
Sobekan otot
-
Fraktur pada kasus berat
Kesalahan teknik dan beban berlebih menjadi faktor utama penyebab cedera tersebut.
Overtraining Jadi Ancaman Serius
Selain cedera fisik, fenomena Overtraining Syndrome atau overtraining juga menjadi perhatian.
Kondisi ini terjadi ketika tubuh dipaksa berlatih tanpa waktu pemulihan yang cukup. Gejalanya sering muncul secara bertahap, seperti:
-
Kelelahan berkepanjangan
-
Penurunan performa
-
Gangguan tidur
-
Mudah marah dan kehilangan motivasi
Dalam kasus serius, overtraining dapat mengganggu sistem hormon, menurunkan imunitas, hingga meningkatkan risiko gangguan jantung.
Kasus Rabdomiolisis Jadi Alarm Keras
Kasus terbaru yang menyita perhatian adalah yang dialami ilmuwan Brasil, Juliana Pegos. Ia harus dirawat selama lima hari setelah mengalami Rabdomyolysis atau rabdomiolisis usai mengikuti sesi pilates dengan gerakan baru.
Awalnya, gejala hanya berupa nyeri otot biasa. Namun, kondisi tersebut berkembang menjadi pembengkakan dan keterbatasan gerak hingga akhirnya didiagnosis sebagai rabdomiolisis.
Penyakit ini terjadi akibat kerusakan parah pada otot yang melepaskan zat beracun ke dalam darah, yang dapat merusak ginjal.
Dalam kondisi ekstrem, rabdomiolisis bisa menyebabkan gagal ginjal, membutuhkan dialisis, bahkan berujung kematian.
Bisa Terjadi pada Siapa Saja
Para ahli menegaskan bahwa kondisi ini tidak hanya menyerang pemula, tetapi bisa dialami siapa saja, tergantung intensitas latihan dan kondisi tubuh.
Faktor risiko meliputi:
-
Latihan terlalu berat secara mendadak
-
Kurang hidrasi
-
Tidak ada pemanasan yang cukup
-
Kondisi fisik yang belum siap
Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda seperti nyeri tidak wajar, pembengkakan, dan kelemahan otot.
Ambisi Hasil Cepat Jadi Pemicu
Salah satu penyebab utama meningkatnya kasus cedera adalah keinginan mendapatkan hasil instan.
Banyak orang meniru latihan dari media sosial tanpa memahami teknik yang benar atau menyesuaikan dengan kondisi tubuh.
Selain itu, maraknya pelatihan instruktur singkat juga membuat kualitas pengawasan di beberapa tempat belum optimal.
Pentingnya Pendampingan dan Kesadaran
Meski demikian, olahraga tetap memiliki manfaat besar bagi kesehatan jika dilakukan dengan benar.
Para ahli menyarankan beberapa langkah pencegahan:
-
Latihan secara bertahap
-
Memberi waktu istirahat yang cukup
-
Menjaga hidrasi tubuh
-
Menggunakan jasa instruktur profesional
-
Melakukan evaluasi kondisi fisik secara berkala
Mendengarkan sinyal tubuh juga menjadi kunci utama. Rasa sakit yang tidak biasa sebaiknya tidak diabaikan.
Keseimbangan Jadi Kunci
Tren olahraga seperti pilates dan gym menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
Namun, tanpa keseimbangan antara latihan dan pemulihan, manfaat tersebut justru bisa berubah menjadi risiko.
Pendekatan yang bijak dan terukur menjadi kunci agar olahraga tetap memberikan manfaat optimal tanpa membahayakan tubuh. (*)
Editor : Ali Sodiqin